My Silent Lover : 17

24.7K 1.7K 10
                                    

Keesokkan harinya Luca terbangun dari tidurnya secara perlahan dan tubuhnya terasa masih lelah. Luca dapat merasakan ada sensasi aneh yang mengganggu di bagian perutnya, seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal disana. Dengan gerakan yang hati-hati, ia berusaha menggerakkan tubuhnya, namun segera terhenti ketika ia mengetahui bahwa dirinya tertidur diatas Samuel. Dan lebih memalukan lagi ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.

Luca yang masih terduduk diatas Samuel langsung menatap Samuel dengan ekspresi malu.

"Apa kau tidur nyenyak?" tanya Samuel padanya

Dengan cepat Luca mengangguk menanggapi pertanyaan. Ia menggeserkan tubuhnya agar menjauh dari Samuel karena merasa tidak enak dengan sesuatu yang sudah berdiri tegak dibawahnya.

"Ah...." desah Samuel pelan

"Jangan banyak bergerak," ujar Samuel dengan nada suara yang lembut, ia refleks memegangi pinggang Luca dan menahannya sebentar agar tidak banyak bergerak.

"Kalau kau terus bergerak, aku mungkin akan keluar.."

Luca merasakan panas di pipinya, dia dengan segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena merasa malu.

"Ini adalah reaksi fisiologis pria di pagi hari" Samuel menjawab dengan suara yang terdengar sedikit malu-malu, tapi ia juga tidak bisa menahan rasa canggungnya. Wajahnya memerah sedikit, jelas terlihat bahwa dia merasa tidak nyaman membicarakan hal ini.

"Jadi... jangan terlalu banyak bergerak dulu" lanjutnya lagi sembari ia berusaha untuk tetap menjaga situasi agar tidak terlalu canggung.

Setelah beberapa detik yang canggung berlalu, Samuel akhirnya membiarkan Luca berpindah dari atasnya, ia berhasil sedikit mengendalikan adik kecilnya.

Karena tidak mungkin ia akan menodai Luca yang menurutnya polos nan lugu begitu. Samuel berdiri dan mengambil handuknya, ia berjalan ke arah dapur tampaknya ia akan pergi mandi.

Cukup lama untuk Samuel keluar dari kamar mandi, karena Luca juga seorang pria jadi ia paham apa yang sedang dilakukan oleh Samuel didalam sana.

Setelah beberapa saat, Samuel keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih basah dengan handuk melilit di pinggangnya. Aroma sabun yang segar tercium samar di udara. Ia berjalan keluar dari kamar mandi, dan sesaat matanya bertemu dengan Luca yang terbaring di sofa ruang tamu.

"Hei...." Samuel memecah keheningan dengan suaranya yang lembut. "Kau mau pulang sekarang atau tetap di sini?" tanya Samuel, ia berdiri di dekat Luca.

Luca menggelengkan kepalanya pelan.  hari ini bukanlah hari yang ingin ia habiskan di rumah. "Aku tidak ingin pulang," tulis Luca di ponselnya, dengan matanya yang tetap terfokus pada Samuel. "Hari Minggu... Aku tidak ingin pulang," lanjutnya lagi.

Samuel mengangguk memahami. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang Luca sembunyikan, dan mungkin rumahnya bukanlah tempat yang ingin ia tuju saat ini. Tanpa berkata lebih banyak, Samuel berbalik. "Kalau begitu, aku masak sesuatu untukmu," katanya dengan suaranya terdengar lebih santai namun penuh perhatian.

"Tapi sebelum itu tunggu aku mengganti pakaianku sebentar." Luca hanya bisa menatap punggung Samuel yang kian menjauh.

Samuel menghabiskan waktu cukup lama di dapur, ia sibuk menyiapkan makanan, ia juga terlihat memotong-motong bahan dengan cekatan. Beberapa menit kemudian, aroma masakan mulai memenuhi udara. Membuat Luca merasa sedikit lapar.

Luca berbaring dengan santai, ia mendengarkan suara-suara dari dapur  namun begitu menenangkan. Dalam beberapa detik, Samuel kembali dengan dua piring makanan. "Aku harap ini bisa dimakan," katanya sambil tersenyum, ia meletakkan satu piring di meja samping Luca.

"Terima kasih," tulis Luca di ponselnya.
Samuel duduk di sebelahnya, ia menikmati makanannya juga.

Samuel memandangi Luca sebentar, ia merasa sedikit lega melihat Luca makan dengan lahap. Setelah selesai makan, mereka menghabiskan waktu bersama di ruang tamu rumah Samuel. Samuel menyalakan televisi, ia memilih saluran acak tanpa benar-benar memperhatikan apa yang sedang ditayangkan. Ia lebih fokus pada Luca, yang tampak duduk diam sambil memainkan ponselnya.

"Kalau kau bosan, kita bisa lakukan hal lain," tawar Samuel.

Luca hanya menggeleng pelan dan mengetik sesuatu di ponselnya. "Aku suka, tidak apa-apa."

Selama beberapa jam berikutnya, mereka memilih untuk berbicara saja atau lebih tepatnya Samuel berbicara dan Luca yang mendengarkan, tapi sesekali Luca menulis sesuatu di ponselnya untuk membalas. Topiknya ringan, mulai dari pengalaman sekolah, otangtua samuel, hingga hal-hal sepele yang terjadi dalam hidup mereka.

Saat matahari mulai merangkak turun, warna langit berubah menjadi jingga kemerahan. Samuel melirik jam di dinding. "Sudah hampir sore. Apa kau ingin pulang sekarang?" tanyanya, dengan nada suaranya sedikit khawatir.

Luca ragu sejenak, lalu mengetik di ponselnya. "Bisa kau antarkan aku pulang?"

"Tentu saja," jawab Samuel tanpa ragu. Ia bangkit dari sofa, lalu pergi mengambil jaketnya

"Ayo." ajaknya

Luca tersenyum tipis, ia sebenarnya  merasa sedikit enggan meninggalkan tempat itu. Di rumah Samuel, ia merasakan ketenangan yang sulit ia temukan di tempat lain.

Di perjalanan pulang, Samuel mengendarai motor dengan hati-hati. Ia sesekali melirik kaca spion.

Luca, seperti biasanya, hanya diam sambil memeluk erat pinggang Samuel. Angin sore terasa sejuk berhasil memberikan sedikit rasa nyaman.

Setelah beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan rumah Luca.
"Terima kasih sudah mengantarku," tulis Luca di ponselnya, dan ia menunjukkan layar itu pada Samuel dengan senyum tipis.

Samuel mengangguk. "Kalau ada apa-apa, jangan lupa mengirimi ku pesan."

Luca mengangguk pelan, lalu berjalan menuju pintu rumahnya. Ia merasa sedikit lebih baik setelah hari yang panjang ini, tetapi perasaannya langsung berubah saat ia membuka pintu.

Di ruang tamu, ayahnya sudah menunggunya. Ia duduk di sofa dengan ekspresi serius dan pria tua itu menatap tajam ke arah Luca.

"Luca," panggilnya dengan suara rendah namun penuh tekanan.

Luca langsung merasa tegang. Ia berdiri di dekat pintu dengan tubuhnya membeku. Ia tidak tahu apa yang sedang menantinya kali ini, tetapi ia tahu bahwa ini bukanlah pertanda baik.

"Apa yang kau lakukan sepanjang hari? Kenapa tidak memberi kabar?" tanya ayahnya dengan nada datar, namun jelas menyimpan kemarahan yang ditahan.

Luca menunduk, ia berusaha menghindari tatapan ayahnya.

Luca mengetik di ponselnya dengan tangan gemetar, lalu menunjukkan layar itu. "Aku bersama teman. Aku baik-baik saja."

Ayahnya mengerutkan keningnya, tentu ia tidak puas dengan jawaban itu. "Teman? Teman seperti siapa? Kau tidak punya teman, Luca."

Luca hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ayahnya berdiri dan langkahnya mendekati Luca dengan perlahan namun mengintimidasi.

"Kau tahu apa yang selalu kuingatkan, bukan? Jangan pernah melakukan sesuatu yang bisa mempermalukan keluarga ini," ujarnya dengan nada tajam.

Luca ingin membela diri, tetapi ia tahu bahwa tidak ada gunanya. Ia hanya mengangguk pelan, berharap percakapan ini segera berakhir.

"Tidak ada lagi keluar rumah tanpa izin. Mulai sekarang, kau harus pulang tepat waktu," tambah ayahnya, sebelum akhirnya kembali duduk di sofa.

Luca merasa lega karena setidaknya ayahnya tidak melanjutkan kemarahan itu lebih jauh. Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah berat, ia menutup pintu di belakangnya dan mengunci diri.

Di dalam kamar, Luca merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia memikirkan  kehangatan rumahnya Samuel dan bagaimana ia merasa jauh lebih hidup untuk sesaat. Namun kenyataan rumah ini selalu berhasil mengembalikannya pada kesedihan yang sulit ia hindari.



My Silent Lover [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang