Ketika bel pulang berbunyi, Luca merasa lega karena bisa segera meninggalkan sekolah. Namun, saat ia berjalan menuju gerbang, langkahnya terhenti oleh seseorang. Samuel berdiri di sana, ia bersandar di dinding dengan tangan disilangkan di dadanya seolah-olah dia sudah menunggu Luca.
"Hei," panggil Samuel, suaranya tidak lagi penuh amarah, tetapi lebih datar, seolah mencoba membuka percakapan yang lebih normal.
"Aku sedikit berlebihan tadi."
Samuel melirik Luca lagi dengan tatapan sedikit lebih lunak. "Ah iya aku cuma mau kasih tahu, aku tidak mau sampai mendengar gosip apapun tentang diriku dengan gadis tadi, kalo sampai terdengar ditelinga ku berarti kau yang melakukannya dan aku tidak segan akan memberimu hukuman.
"Meskipun kau bisu siapa tau kan.." sambungnya.
Luca mengambil pulpen dan kertas dari sakunya, tampak ia menulis dengan cepat diatasnya "Aku tidak akan menimbulkan masalah."
Samuel membaca tulisan itu, dan ia mengangguk. "Bagus,".
Lalu Samuel berjalan menuju parkiran sekolah dengan langkah mantap. Dia meraih helm yang tergantung di setang motornya dan memasangnya dengan cepat. Mobilnya masih di bengkel akibat kecelakaan kecil kemarin, jadi untuk sementara waktu dia harus menggunakan motor.
Samuel menyalakan mesinnya. Saat dia akan melaju keluar dari gerbang sekolah, matanya sekilas menangkap sosok Luca yang berjalan pelan di trotoar, sendirian.
Tanpa berpikir panjang, Samuel memutar gas motornya dan mendekati Luca. Saat berada di sampingnya, dia mengerem pelan dan membuka kaca helmnya. "Hei, mau aku antar pulang?" tanyanya dengan nada yang lebih ramah daripada sebelumnya.
Luca berhenti sejenak, lalu ia menoleh dengan tatapan sedikit terkejut. Dia menggeleng pelan untuk menolak tawarannya.
Meskipun Samuel tadi sempat marah padanya, kini nada suara pria itu terdengar lebih bersahabat. Luca menuliskan sesuatu di kertasnya, "Terima kasih, tapi aku bisa pulang sendiri."
Samuel membaca tulisan itu dan mengerutkan kening. "Kau yakin? rumahmu kan jauh dari sini, dan kau bilang tidak punya uang." Dia mengingat saat terakhir kali mereka bertemu di jalan, ketika Luca hampir tertabrak mobilnya dan ternyata tidak punya uang sepersen pun.
Setelah ragu sejenak, Luca akhirnya mengangguk pelan. Mungkin menerima tumpangan ini akan lebih mudah daripada berjalan jauh.
Melihat Luca mengangguk, Samuel menyerahkan helm cadangan yang ada di jok motornya. "Pakai ini," katanya sambil menyodorkan helm. Luca menerima helm itu dengan canggung, ia memasangnya di kepala dan berusaha sebaik mungkin agar tidak terlihat aneh.
Luca melangkah maju dan duduk di belakang Samuel. Ini adalah pertama kalinya dia naik motor, apalagi dengan seseorang yang nyaris tidak dia kenal, terlebih lagi orang yang tadi siang sempat memarahinya.
Mereka melaju di jalanan kota, angin sore menerpa wajah Luca yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan kecepatan motor Samuel. Perjalanan itu terasa aneh. Luca terbiasa sendirian, berjalan kaki, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kini, dia ada di belakang seorang pria yang baru saja beberapa menit yang lalu mengancamnya. Mereka tidak bicara sepanjang perjalanan. Samuel tetap fokus mengendarai motornya, sementara Luca hanya diam, memandangi pemandangan yang melintas cepat di sekitar mereka.
Setelah beberapa menit berkendara, mereka sampai di depan rumah Luca, rumah besar dengan pagar tinggi yang tampak megah dari luar. Samuel berhenti di depan gerbang, ia mematikan mesin motornya, lalu menoleh ke belakang untuk melihat Luca.
"Ini rumahmu, kan?" Samuel bertanya, meski dia sudah tahu jawabannya. Dia masih terkejut dengan fakta bahwa Luca tinggal di rumah mewah seperti ini, tapi mengaku tidak punya uang. Semua itu masih membuatnya bingung.
Luca turun dari motor dan membuka helmnya. Dia menulis cepat di kertas, "Ya, ini rumahku. Terima kasih sudah mengantar."
Samuel mengangguk, tapi matanya tetap mengamati rumah itu dengan rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan. "Kau tinggal di sini, tapi bilang tidak punya uang? Maksudnya bagaimana?" tanyanya dengan raut wajah terlihat bingung.
Luca menunduk, ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan situasinya. Bagaimana dia bisa menjelaskan bahwa meskipun tinggal di rumah besar, dia tidak punya akses ke uang atau kebebasan karena ayah dan ibu tirinya mengendalikan semuanya? Itu terlalu rumit untuk dijelaskan lewat tulisan singkat.
Melihat Luca tidak langsung menjawabnya, Samuel menghela napas. "Ya sudah, kalau tidak mau cerita" Samuel mencoba bersikap lebih pengertian.
"Yah, aku cuma penasaran saja." sambungnya sambil memasukkan helm yang bekas dipakai Luca kembali kedalam jok motornya.
Luca tersenyum kecil, lalu ia menuliskan, "Terima kasih sekali lagi." Dia berbalik menuju gerbang rumahnya. Namun, sebelum dia bisa masuk kedalam, Samuel memanggilnya lagi.
"Hei"
"Jangan lupa janjimu, 5 hari."
Luca hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Ketika berada di kamarnya, Luca berjalan ke meja belajarnya, ia mengambil buku catatan kecil yang biasa dia gunakan untuk menulis segala hal yang tak bisa dia ucapkan. Dia membuka halaman kosong dan mulai menulis dengan cepat untuk mengeluarkan semua kegelisahannya di atas kertas. "Samuel memberiku waktu lima hari untuk membayar kerusakan mobilnya. Tapi aku tidak punya uang. Bagaimana aku bisa melakukannya?"
Luca meremas rambutnya. Dia tidak bisa meminta uang kepada ayahnya, mereka bahkan tidak memberinya uang jajan, apalagi untuk membayar sesuatu yang sebesar itu. Meminta bantuan dari Felix juga bukan pilihan. Adik tirinya hanya akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menyiksanya lebih jauh.
Tapi bagaimanapun dia harus bertanggung jawab, lalu ia mencoba untuk mengirim pesan kepada ayahnya. Jarinya bergetar ketika dia membuka aplikasi pesan dan mulai mengetik. Ini adalah satu-satunya cara yang bisa dia pikirkan. Meskipun Luca tahu ayahnya jarang merespons pesan, apalagi memberi bantuan, tapi dia tetap harus mencobanya. Setidaknya, dia akan menunjukkan bahwa dia telah berusaha.
Dengan hati-hati, dia mengetik pesan itu.
"Ayah, aku hampir kecelakaan beberapa hari yang lalu. Untungnya aku tidak terluka, tapi mobil orang lain rusak, dan aku harus membayar ganti rugi. Bisakah ayah membantu? Aku benar-benar butuh bantuan untuk membayar kerusakannya."
Luca membaca ulang pesannya berkali-kali sebelum akhirnya mengirimkannya. Dia tahu kemungkinan besar ayahnya tidak akan merespons, tetapi dia tetap berharap. Setelah mengirim pesan, Luca meletakkan ponselnya di samping dan menghela napas panjang. Dia menatap kosong ke arah langit-langit kamar, sembari menunggu jawaban yang mungkin tidak akan pernah datang.
Beberapa jam berlalu. Setiap kali ponselnya berbunyi, Luca langsung meraihnya dengan harapan pesan itu dari ayahnya. Namun, setiap kali dia melihat layar, hanya ada notifikasi lain yang tidak penting. Kekecewaan demi kekecewaan membuat dadanya semakin sesak.
Sore itu, Luca tidak tahan lagi. Dia akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kamar Felix. Mungkin, meskipun tidak suka, Felix bisa meminjamkan uang, setidaknya sampai Luca bisa mencari cara lain untuk membayarnya kembali. Dia tahu risikonya, Felix pasti akan memanfaatkan situasi ini untuk menghina atau bahkan menyiksanya lebih jauh, tapi Luca sudah tidak punya pilihan.
Felix membuka pintu dengan ekspresi malas. "Apa lagi, bisu?" tanyanya sinis.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Silent Lover [END]
RomanceKetika si bisu menjadi kekasih pria populer disekolahnya. Harap menyiapkan tisu sebelum membaca!!