Special Chapter "What if"

10.5K 715 37
                                    

Spesial buat penutup tahun 2024!!!

Sesuai judulnya "What if" maka chapter spesial ini akan menceritakan tentang "Jika" Luca masih hidup.

Setidaknya chapter ini bisa mengobati rasa rindu kalian sama pasangan LxS ini.









Selamat membacaaa...






Langit biru cerah ikut mengiringi hari kelulusan SMA yang telah dinanti-nanti. Di upacara kelulusan sekolahnya, Luca berdiri tepat disebelah Samuel, keduanya mengenakan setelan jas yang sama dan senyuman tipis juga tampak menghiasi wajah mereka.

Di tangannya, Luca tidak lupa memegang buku kecil yang selalu menemaninya, buku itu satu-satunya cara ia berkomunikasi dengan teman-temannya selain menggunakan ponsel.

Samuel menoleh ke arahnya, lalu mengacak rambut Luca dengan lembut. "Kau terlihat keren hari ini," ujar Samuel sambil tertawa kecil. Luca hanya membalasnya dengan memutar bola matanya, tetapi senyuman manis terukir di bibirnya.

Ketika nama mereka dipanggil untuk menerima ijazah, sorakan teman-teman mereka menggema di aula. Samuel, yang selalu penuh percaya diri, melambai ke arah kerumunan, sedangkan Luca lebih memilih menganggukkan kepala sambil menunduk malu-malu. Namun, saat Samuel meraih tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di depan semua orang, Luca tidak bisa menahan tawa kecil yang akhirnya lolos dari bibirnya.

Setelah upacara selesai, mereka melangkah keluar ke taman sekolah yang merupakan tempat kenangan-kenangan mereka bersama selama tiga tahun terakhir yang penuh duka maupun suka.

"Jadi, bagaimana rasanya setelah lulus, Tuan Luca?" Samuel bertanya sambil memegang kedua bahunya.

Luca membuka buku kecilnya dan mulai menulis, lalu ia memperlihatkan jawabannya, “Rasanya seperti bebas, tapi aku akan merindukan tempat ini karena kenangan yang aku miliki

Samuel membaca tulisan itu dan ia tersenyum padanya. “Ya..kau benar.”

Pulangnya, Samuel mengajak Luca merayakan kelulusan mereka disebuah restoran yang telah dipesan oleh Samuel beberapa hari yang lalu. Restoran itu kecil namun elegan dengan lilin-lilin yang menghiasi setiap meja.

"Aku ingin malam ini menjadi malam yang spesial untuk kita berdua" kata Samuel dengan nada lembut.

Mereka memilih tempat duduk di sudut restoran. Samuel menarik kursi untuk Luca, ia benar-benar memperlakukannya layaknya seorang pangeran.

Sesaat setelah makanan dan minuman mereka datang, Samuel menuangkan wine lalu ia mengangkat gelasnya. “Selamat telah lulus,” katanya sambil tersenyum lebar. Luca ikut mengangkat gelasnya juga, ia memberikan senyuman manisnya sebelum menyesap minumannya.

Di tengah-tengah makan malam mereka, Samuel meletakkan garpunya dan menatap Luca dalam-dalam. Tanpa aba-aba, ia meraih tangan Luca yang berada di atas meja dan menggenggamnya erat.

"Luca," panggilnya dengan begitu lembut.

"Aku mencintaimu baik hari ini, esok hari, lusa, maupun selamanya" ujarnya sembari mencium punggung tangan Luca.

Luca sontak terkejut mendengarnya.

"Dan....dan aku bersumpah kau tidak akan menemukan orang yang lebih tulus dari diriku.." sambungnya.

"Apa? apa dia sudah mabuk? padahal baru segelas" batin Luca berkata.

Luca merasa wajahnya memanas karena malu. Ia menunduk untuk menghindari tatapan Samuel, tetapi Samuel tidak membiarkannya melarikan diri.

Ia mendekat, dan sebelum Luca sempat bereaksi, Samuel mencondongkan tubuhnya dan mencium bibir Luca dengan lembut. Ciuman itu tidak lama, tetapi cukup untuk membuat Luca membeku. Luca menatap Samuel dengan mata yang membulat, sementara si pelaku hanya bisa terkekeh.

“Maaf..maaf aku tidak bisa menahan diri” ujarnya sambil mengusap belakang lehernya dengan malu.

Luca mengetik sesuatu di ponselnya dengan cepat dan menunjukkannya kepada Samuel “Aki tidsk krberatan.” artinya (Aku tidak keberatan).

Samuel membaca itu dan ia tertawa lebar.
"Tidak keberatan tapi lihat pesan yang kau ketik, hampir tidak bisa dibaca" ledek Samuel.

Luca langsung dengan cepat menghapus tulisannya dan wajahnya tampak cemberut.

“Ah, kau benar-benar menggemaskan,” katanya sambil kembali memegang tangan Luca.

“Oh iya, apa kau sudah memikirkan jurusan apa yang akan diambil di universitas nanti?”

Luca mengangguk dengan antusias. Ia mengambil ponselnya, ia mengetik sesuatu di layar, lalu menyerahkannya kepada Samuel. “Aku ingin mengambil jurusan sastra. Karena aku bisu jadi aku akan menulis. Aku ingin mengungkapkan segalanya lewat tulisan."

"Di masa depan kelak aku harap aku bisa menjadi seorang penulis yang terkenal

Samuel membaca pesan itu dengan penuh perhatian, lalu ia menatap Luca dengan bangga. “Itu luar biasa. Kau akan menjadi penulis hebat, aku yakin itu.” Samuel mengusap kepala Luca dengan lembut seperti orang tua yang bangga pada anaknya.

"Ingat, aku akan mendukung apapun yang akan kau lakukan, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuanku, meskipun aku tidak terlalu mengerti tentang tulis menulis tapi aku akan berada disisimu sampai kau menjadi penulis terkenal itu dan aku akan menjadi orang pertama yang membaca dan memuji karya-karyamu"

Luca tertegun setelah mendengar perkataan Samuel yang benar-benar berhasil menembus ke jantung dan paru-parunya. Ia tidak membalasnya namun Luca tersenyum begitu cerah untuk menanggapi perkataannya.

Malam itu mereka berbicara cukup banyak, tapi yang lebih tepatnya Samuel yang berbicara dan Luca yang menjawab lewat tulisan. Mereka membahas masa depan, mimpi, dan harapan mereka.

Samuel juga bercerita tentang rencananya yang ingin masuk jurusan Kedokteran meskipun ia sama sekali tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.

Ia ingin membantu dan menyelamatkan nyawa orang lain. Luca mendengarkan dengan penuh perhatian dan matanya berbinar-binar setiap kali Samuel berbicara dengan semangat tentang mimpinya itu. Sesekali, ia juga menulis sesuatu di ponselnya untuk memberikan komentar atau candaan yang membuat mereka tertawa bersama.

Setelah selesai makan, Samuel memberikan kejutan kecil lainnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya dan menyerahkannya kepada Luca.
“Ini bukanlah barang yang mahal atau barang edisi terbatas, tapi aku ingin kau memiliki dan menyimpannya,” katanya.

Luca membuka kotak itu dan ia menemukan sebuah cincin dengan inisial LS yang terukir di sana. Luca tertegun sejenak, lalu ia menatap Samuel dengan mata yang berkaca-kaca.

"Jangan pernah lepaskan cincin ini"  katanya dengan begitu lembut sembari ia memasangkan cincin itu kejari manis Luca.

Luca mengetik diponselnya dengan tangan yang gemetar karena bahagia, “Terima kasih, Samuel.”

"Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Terima kasih sekali lagi"

Samuel membaca tulisan itu dan ia tersenyum hangat padanya.

“Dan aku tidak pernah merasa seberuntung ini sebelumnya, Luca"




Terima kasih
Jangan lupa move on semuaa😝
Jangan suruh aku ubah ending, bikin ini itu lagi yaaaa

My Silent Lover [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang