Samuel mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, ia mencoba untuk menelusuri rute yang biasanya dilalui oleh Luca, yaitu jalanan sepi namun lebih dekat dengan rumahnya. Perasaannya semakin tidak karuan, apalagi ketika malam mulai turun. Jalanan tampak begitu suram dan lampu-lampu jalan juga hanya menyala di beberapa titik saja.
Dan akhirnya, setelah beberapa menit berkendara, Samuel melihat sosok familiar tergeletak di tepi jalan. Itu adalah Luca. Samuel segera menghentikan motornya dengan kasar, ia bahkan hampir melompat dari kendaraan sebelum mesin benar-benar mati.
Dia berlari ke arah Luca yang tergeletak tak bergerak di tanah. "Luca!" panggilnya panik. Lutut Samuel segera jatuh di samping tubuh Luca, dan ia mengguncang bahunya perlahan. Tapi Luca tidak merespons sedikitpun.
Wajah Luca tampak pucat lebih pucat dari biasanya, dan Samuel melihat noda darah kering di sekitar hidungnya. "Sialan," gumam Samuel, jantungnya semakin berdetak kencang.
"Luca, bangun!" Suara Samuel terdengar lebih khawatir dari sebelumnya, tangannya mengguncang bahu Luca dengan lembut namun sedikit mendesak.
Samuel mengangkat tubuh Luca sedikit untuk mencoba memposisikan kepalanya lebih baik. "Luca, bangun," bisik Samuel. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Luca dan merasakan suhu tubuhnya yang dingin. Panik mulai memenuhi pikiran Samuel.
Ia menggenggam tangan Luca yang dingin, melalui genggaman ini ia baru merasakan betapa lemah dan rapuhnya pria di hadapannya ini.
Dengan cepat, Samuel mengeluarkan ponselnya dan hendak mencari bantuan. Namun, sebelum ia sempat menekan tombol apa pun, Luca menggerakkan sedikit jari-jarinya. Itu adalah gerakan kecil, nyaris tak terlihat, tapi cukup bagi Samuel untuk merasa lega.
"Luca? bisa dengar aku?" tanya Samuel dengan matanya menatap penuh harap. Luca membuka matanya perlahan, meski pandangannya tampak kabur dan lemah.
Samuel menundukkan kepalanya lebih dekat ke Luca. "Apa yang terjadi? apa kau bisa mendengarkanku" bisiknya.
Luca berusaha tersenyum meskipun lemah.
Samuel merasa lega sekaligus merasa bersalah. "Maafkan aku, seharusnya aku datang lebih cepat," ucapnya sambil membantu tubuh Luca bangun dengan hati-hati.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang. Kau harus diperiksa."
Dengan cepat Luca menggeleng, ia tidak ingin kerumah sakit. Jika ia pergi sekarang, penyakitnya mungkin akan diketahui oleh Samuel.
"Kenapa? Kau butuh perawatan." desak Samuel dengan suaranya penuh rasa kekhawatiran.
Luca mengambil ponselnya dengan tangan gemetar, lalu ia mengetik pesan singkat "Aku baik-baik saja. Hanya kelelahan. Tidak perlu ke rumah sakit.
Samuel memandang layar ponsel itu dengan ragu. "Kau yakin?" tanyanya, masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Luca. Luca mengangguk, meski samar-samar terlihat bahwa ia sedang berusaha keras menahan rasa sakitnya. Dia tidak ingin Samuel tahu lebih banyak tentang kondisi kesehatannya.
Setelah beberapa detik hening, Samuel akhirnya menghela napas panjang. "Baiklah" katanya akhirnya, meskipun jelas dari nada suaranya bahwa dia masih ragu.
"Tapi aku tetap tidak akan membiarkanmu pulang sendirian dalam keadaan seperti ini." Luca menatapnya dengan bingung, lalu Samuel melanjutkan, "Kau ikut aku ke rumahku dan aku akan merawatmu."
Luca sempat ingin menolak, namun rasa pusing yang terus menyerangnya membuat ia menyerah. Dia terlalu lelah untuk membantah atau memberikan alasan lebih lanjut. Dengan hati-hati, Samuel membantunya duduk di atas motor, ia juga memastikan Luca duduk nyaman di belakangnya sebelum mereka mulai melaju.
Perjalanan menuju rumah Samuel terasa hening sekali, hanya suara angin malam dan deru motor yang terdengar. Luca menundukkan kepala di belakang Samuel, ia masih mencoba mengendalikan rasa pusing yang semakin parah.
Di dalam benaknya Luca sekarang, dia merasa sedikit lega bahwa Samuel tidak memaksa membawanya ke rumah sakit.
Begitu mereka tiba di rumah Samuel, Samuel dengan sigap membantunya turun dari motor. "Ayo, kita masuk," katanya lembut. Luca hanya mengangguk lemah dan mengikuti Samuel masuk ke dalam rumahnya. Samuel segera menuntun Luca ke sofa dan menyuruhnya berbaring. "Tunggu di sini. Aku ambilkan air dan sesuatu yang bisa membuatmu merasa lebih baik." Ujarnya sebelum pergi dan Luca tidak mendengarkan Samuel, ia memilih duduk ketimbang berbaring.
Luca memandang sekeliling rumah Samuel yang hangat dan nyaman meskipun terasa sepi.
"Kalau butuh sesuatu, bilang saja." katanya sambil menyerahkan minuman padanya. Luca hanya menuliskan Terima kasih di ponselnya dan memperlihatkan kepada Samuel.
Setelah beberapa saat, Luca mulai merasa sedikit lebih tenang. Meskipun pusingnya belum sepenuhnya hilang, tapi setidaknya ia merasa sedikit lebih nyaman berada di sini, di rumah Samuel.
Samuel duduk disamping Luca dan ia sedikit menunduk.
"Maafkan aku.. ka-karena meninggalkanmu sendirian, aku memang bodoh."Perasaan bersalahnya semakin berat saat melihat Luca yang duduk lemah disampingnya. Tanpa disadarinya, Luca perlahan bergerak mendekat, ia menyandarkan dirinya ke dada Samuel. Sentuhan itu membuat napas Samuel tercekat sejenak, tapi ia tidak menolak. Dia membiarkan Luca bersandar padanya.
Tangannya Luca yang semula tergantung di samping tubuhnya, kini mulai bergerak pelan. Dengan lembut, ia menggenggam tangan Samuel yang berada di sampingnya. Samuel menatap tangan mereka yang kini saling menggenggam, ia dapat merasakan kehangatan yang mengalir dari genggaman Luca.
Bibir Luca bergetar, seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Namun, suara itu tak kunjung keluar. Betapa ia ingin mengucapkan sesuatu. Tapi, seperti biasa, suara itu tertahan di tenggorokannya. Sebagai seseorang yang bisu, Luca hanya bisa merasakan keputusasaan setiap kali ingin berkomunikasi secara langsung.
Samuel menunduk sedikit, ia mencoba menatap wajah Luca yang tampak pucat dan lemah. Mata mereka bertemu sejenak. Samuel akhirnya menarik napas dalam-dalam dan mendorong tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Luca.
"Luca... Aku bersumpah aku tidak akan mengabaikan dan membiarkanmu sendirian lagi, jika sampai hal ini terjadi lagi kau bisa memukulku." bisik Samuel sedikit nyaring agar Luca bisa mendengarnya dengan jelas. Luca mengangguk, lalu ia melepaskan genggaman tangannya dengan lembut.
Luca menjawab dengan gerakan isyarat yang berarti "Tidak apa-apa".
Huf, Samuel menghela napasnya sedikit kasar, bagaimana ia bisa begitu bodoh mencoba untuk menghindari Luca seperti yang ia rencanakan. Padahal sudah jelas ia tidak akan bisa.
Malam itu Luca pun tertidur didalam pelukan Samuel yang terasa begitu hangat dan damai. Betapa menyenangkan baginya jika ia bisa terus-terusan berada dalam pelukannya seperti ini selamanya, pikirnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Silent Lover [END]
RomanceKetika si bisu menjadi kekasih pria populer disekolahnya. Harap menyiapkan tisu sebelum membaca!!