Satisfied - 11

664 95 3
                                        

Pagi yang mendung di Forks seperti hari-hari lain, [Name] sudah sibuk di dapur seperti biasanya. Dengan lincah, ia menyiapkan sarapan untuk Charlie dan Bella, telah menjadi rutinitas yang sebenarnya dinikmati walaupun ia tak butuh makan, tak butuh tidur, dan tak perlu merasakan lelah seperti manusia. Ada semacam kepuasan dalam menjaga kedua manusia itu, seperti ia benar-benar merasa memiliki ‘kandang’ yang menyenangkan di sini.

"Good morning..." Bella menyapa sambil tersenyum tipis dan menguap, matanya masih terlihat sedikit mengantuk.

"Good morning juga Bella," sahut [Name] sambil tersenyum tipis. Ia meletakkan sepiring telur dan beberapa potong bacon di meja untuk Charlie yang sebentar lagi akan turun dari kamarnya.

Namun, pagi ini tak sepenuhnya biasa. Bella dengan nada penuh semangat tiba-tiba berkata, "[Name], maaf aku tidak bisa berangkat dengan mu hari ini. Edward kemarin mengajakku berangkat bersama, dan dia sudah di depan rumah sekarang."

Tatapan [Name] seketika berubah, meski berusaha menutupinya. Ia memaksa senyum. "Oh.. tentu saja, tidak masalah, jangan lupa berpamitan dengan Charlie ya," jawabnya dengan nada sedikit datar. Namun, dalam hati ia jelas merasa sebal. 'Berani-beraninya penyedot darah itu menapakkan kaki di ‘kandang’ ku!' pikirnya kesal. Tapi ia tak menunjukkan kekesalannya di depan Bella. Lagipula, ia tahu perasaannya takkan mengubah apapun karena sekarang, mau tak mau, Edward sudah ada di hidup Bella.

Sementara Bella terburu-buru keluar menemui Edward, [Name] menyusul mereka ke ambang pintu, melipat tangan dan menatap Edward dengan pandangan yang penuh arti, mencoba mengukur reaksinya. Edward, menyadari kehadirannya, hanya menatap balik dengan wajah datar. Mereka bertukar tatapan sejenak, seolah ada perang dingin tersirat, sebelum akhirnya vampir itu membuka pintu mobil untuk Bella, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada [Name].

Begitu Bella pergi, rumah kembali sunyi, menyisakan hanya [Name] dan Charlie. Charlie berjalan mendekat dengan pandangan sedikit gusar, raut wajahnya penuh kekhawatiran. "[Name], aku perlu bicara denganmu sebentar," ujar Charlie.

[Name] mendekat, mencoba memasang wajah penuh perhatian. "Ada apa, Charlie?"

Charlie terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Aku paham kalau Bella bukan anak kecil lagi, tapi terkadang aku khawatir dengan dia. Edward, entah mengapa tapi perasaanku tidak enak. Aku tidak yakin soal anak itu, dan sebagai ayahnya, aku hanya tidak mau Bella terluka."

[Name] menatap Charlie dalam-dalam, merasakan ketulusan dalam suara lelaki itu. Meski ia bukan manusia, ia bisa memahami insting seorang ayah yang khawatir terhadap anak perempuannya. "Aku mengerti, Charlie," jawabnya lembut.

Charlie mengangguk. "Aku merasa kamu anak yang bisa diandalkan, [Name]. Jadi kalau bisa, tolong jaga Bella. Aku tidak tau kenapa, tapi aku merasa kamu kuat. Entah mengapa, rasanya aman saat Bella ada di dekatmu."

[Name] tersenyum tipis. "Tentu saja, kau tidak usah khawatir. Biar aku yang urus." Charlie tersenyum puas, lalu menepuk bahu [Name] dengan rasa terima kasih.

Dalam hati, [Name] merasa geli. 'Kalau saja Charlie tahu aku ini iblis, mungkin dia sudah lari ketakutan,' pikirnya. Tapi dia cukup menghargai kepercayaan yang diberikan Charlie. Mereka lalu menyelesaikan sarapan, dan setelah itu, [Name] berangkat ke sekolah, mengendarai truk tua milik Bella yang penuh kenangan itu.

---

Setelah sekolah, [Name] dan Bella pulang bersama, dan sesampainya di rumah, Bella langsung menuju truknya yang kini mulai terlihat berdebu. "Truk ini makin kotor saja ya," kata perempuan itu sambil mengambil kain lap.

[Name], di sisi lain, hanya duduk-duduk di teras, merasa bosan. Ia sudah terbiasa membersihkan rumah dan sekitarnya, tapi ada batasan dalam setiap pekerjaan, yaitu bosan, kecuali untuk memasak. Melihat Bella sibuk, ia hanya mengamati sambil bersenandung pelan, berharap hari segera berlalu.

Namun, kebosanan [Name] mendadak hilang ketika ia mendengar suara yang sama sekali tak ingin didengarnya. Edward tiba-tiba muncul, melangkah menuju Bella dengan senyum lembut yang memukau Bella, namun hanya memicu rasa kesal [Name].

“Bella, malam ini aku ingin mengajakmu makan malam di rumahku. Kau mau ikut?" Tanya Edward dengan nada sedikit memaksa, namun mencoba terdengar sopan.

Sementara itu, [Name] yang duduk di teras diam-diam mendengarkan percakapan mereka. Dalam hati, ia bergumam sarkastik. 'Tentu saja, makan malam di rumah vampir.., makan apa, coba? Steak darah AB segar? Atau mungkin golongan darah O?' pikirnya sambil menahan tawa. Tapi sebelum Bella bisa menjawab, sudah di dahului oleh iblis tersebut. "Baguslah makan malam gratis, aku ikut juga," kata [Name] tanpa basa-basi, membuat Edward langsung menoleh dengan ekspresi tak setuju.

"Maaf, [Name], tapi aku rasa ini hanya urusan antara aku dan Bella," jawab Edward dengan nada dingin, tampak jelas ia lebih suka kalau [Name] tidak ikut. Namun, iblis itu hanya tertawa pelan, suara tawanya dingin dan penuh sarkasme.

"Oh, ya? Asal kau tau, Charlie meminta aku menjaga Bella, jadi aku rasa itu alasan yang cukup kuat untuk aku ikut." [Name] menyeringai, menantang vampir itu. "Kalau kau tidak setuju, aku bisa bilang ke Charlie bahwa kau menculik Bella, atau apapun yang aku bisa pikirkan." Senyum dinginnya semakin lebar, membuat Edward menahan desah. "Dan kau pasti tidak mau berurusan dengan polisi bukan? Atau kau ini memang 'kebal' dari hukum, hm?" Lanjut [Name]

Bella tampak bingung melihat ketegangan di antara mereka, tapi kemudian ia menengahi. "Tidak apa-apa, Edward. [Name] hanya ingin menjagaku. Lagipula, ini juga pertama kali aku datang ke rumahmu. Aku juga tidak keberatan kalau [Name] ikut."

Akhirnya, dengan enggan, Edward mengalah. "Baiklah," jawabnya, meski matanya masih menunjukkan ketidakpuasan. Namun, dia tak punya pilihan lain. Meskipun dia terdiam sejenak, menahan diri agar tidak menunjukkan rasa kesalnya.

"Terima kasih atas kerjasamanya," kata [Name] sinis, lalu berbalik ke Bella. "Ayo kita siap-siap."

Bella tersenyum lega, dan [Name] tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak berniat membiarkan Bella berada di antara kumpulan vampir tanpa pengawasan. Dan, ia merasa bahwa ia bisa bersenang-senang sedikit dengan mengganggu Edward di sarang sendiri. 'Oh ini akan jadi malam yang menarik,' pikirnya sambil tersenyum tipis.

Edward menatapnya tajam, namun [Name] tak peduli. Baginya, ini adalah bagian dari misi menjaga Bella yang sudah dipercayakan oleh Charlie. Bella tersenyum senang sambil mengucapkan terima kasih pada Edward yang akhirnya mau mengizinkan [Name] ikut.

Dalam hati, iblis licik itu hanya bisa menahan tawa saat membayangkan bagaimana wajah Edward sepanjang malam nanti, dengan [Name] yang akan terus berada di sana. Dan ia yakin akan membuat vampir itu tidak nyaman sepanjang waktu.

Deal With the Devil [Twilight Saga x Reader]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang