Her Attempts and New Ally - 20

149 24 0
                                        

Bella meminta agar [Name] tidak menemani nya untuk beberapa hari. Dan iblis itu menurut, toh dirinya memang tidak ada urusan dengan para manusia di sini. Hari-hari nya di habisi dengan sangat membosankan. Bella semakin menjauh, dan bisa dia bilang, menjadi nakal. Charlie sudah berusaha menasehati gadis itu, tapi tidak ada perubahan.

Mungkin Bella bertanya-tanya, kemana para vampir Cullen itu berada sekarang. [Name] tahu, tapi dia tidak berniat untuk memberitahu. Menurutnya, lebih baik jika Bella menjauh dari mereka, walaupun konsekuensi nya, sekarang dia menjadi dekat dengan Jacob Black, sang shifter itu. Ah, [Name] benci anjing.

Siang ini, [Name] berpindah ke suatu tempat. Tepatnya di Ithaca, New York. Berjalan santai dengan kedua tangan di kantung celana, dan jas butler nya yang biasa dia kenakan. Tentu saja [Name] ke sini untuk suatu hal.

Bertemu para Cullen.

Tidak perlu waktu lama bagi sang iblis untuk menemukan letak rumah milik keluarga vampir vegetarian itu. Bahkan sekarang [Name] sudah berdiri di dalam dan menyender di salah satu dinding. "Sudah lama tidak bertemu," ujarnya pada seorang vampir. Carlisle, yang mungkin saja sudah menanti kedatangan iblis itu.

"Cukup lama kau menemukan kami." Carlisle berucap, lalu menutup laptop nya dan berjalan ke arah [Name].
[Name], dia menaikkan salah satu alis nya, dan menyilangkan kedua lengannya di dada. "Aku sengaja," jawabnya singkat.

Carlisle Cullen, dokter itu sekarang bekerja shift malam dan mengajar di Cornell University. Jangan tanya bagaimana [Name] tahu. Ingat, dia ini iblis. "Aku ingin melihat apa yang akan kalian lakukan. Sudah ku duga, kalian hanya akan menghindar," [Name] tertawa pelan. "Pengecut."

Sang kepala keluarga Cullen tidak membalas, karena dia tahu, yang iblis itu sampaikan memang benar. Mereka, tidak, lebih tepatnya dirinya sendiri yang pengecut. Menghindar dari masalah yang mereka buat.
Carlisle mendekat, tapi masih menjaga jarak dari sang iblis, lalu berkata, "Untuk sekarang, hanya ini yang terpikirkan olehku," ucapnya, walau di dalam hati nya yang sudah mati, hal yang dilakukan adalah salah.

[Name] mendengus dan bersandar di dinding, dan sekarang menatap sang vampir itu. Lama dia hanya menatap, wajahnya tidak berubah, netral dan tidak terbaca, seperti biasa.
Setelah lama berdiam, dia pun berkata, "Sudahlah, tidak penting aku di sini," dan berbalik hendak pergi.

Namun Carlisle langsung menghentikannya dengan menarik tangan [Name]. "Apa kau ingin kembali? Secepat ini? Bagaimana kalau kita-"

"Tidak perlu." [Name] memotong perkataan Carlisle, lalu menarik tangannya. "Aku buru-buru."

Carlisle memiringkan kepalanya, "Buru-buru? Kau ingin melakukan apa?"

[Name] menyeringai. "Menemui masalah baru."

---

New York adalah kota yang ramai, sangat berbeda dengan Forks. Dan [Name] merasa asing di sini. Dia terbiasa hidup di dunia gelap dan hening, lalu dia ada di sini, di tengah-tengah jutaan manusia fana, di kota yang terang walaupun di malam hari.

Pembawaannya yang tenang, badannya yang ideal dan wajahnya yang simetris bak seorang model, tentu saja menarik beberapa orang. Bahkan tadi ada yang menawarinya menjadi model iklan baju bermerek, tentu saja dia tolak. Toh dirinya tidak mau menarik banyak perhatian manusia. Baginya, mengurus para vampir dan satu manusia yang mentalnya mungkin terganggu sudah cukup merepotkan.

Kedua kaki jenjangnya melangkah dengan santai dan percaya diri, sebuah sifat yang memang ada di dirinya sebagai iblis. Namun dia punya tujuan, ke sebuah tempat yang cukup sepi. Di sinilah dia akan menemui seseorang. Atau lebih tepatnya, 'teman' lama nya.

[Name] sudah berdiri di sebuah jalan kecil di antara dua bangunan menjulang. Tempatnya gelap, sepi dan lembab. Ah, dia suka tempat seperti ini. Kedua matanya menatap lurus, dan [Name] memegang sebuah susu kotak rasa coklat.
Baiklah, [Name] akui dia suka coklat.

"AHH!!"

Teriakan nyaring cukup memekakkan, namun tidak untuk [Name]. Iblis itu hanya mengulurkan kedua lengannya kedepan, seakan tahu apa yang akan jatuh. Dan benar saja.

Seorang, atau perlu dia sebut, an angel, jatuh dari langit. Kulitnya seputih berlian, dua pasang sayap berkilauan dan gaun putih yang indah, jatuh tepat di lengan [Name]. "Kau menarik banyak perhatian," ujarnya dengan tenang dan tanpa ada perubahan ekspresi di wajahnya.

"Apa?! Ada yang melihatku?!" Lalu sang malaikat yang ada di pelukan [Name] segera bangkit dan berdiri dengan kakinya sendiri. Kepalanya menoleh kesana-kemari, namun dia tidak melihat ada makhluk apapun selain mereka berdua. "Kau bohong padaku, [Name]!"

[Name] menaikkan satu alisnya, itu lah responnya. "Kenapa kau ingin menemui ku, Arabella?" Tanyanya lalu mulai meminum susu coklat kotaknya.
"Yah, aku sudah lama berada di kota ini. Tapi aku baru bisa merasakan aura iblis mu itu beberapa hari yang lalu," jawab Arabella sambil mengedikkan bahunya.

Arabella, seorang angel, dan tentu saja asalnya dari dunia [Name] juga. Malaikat itu mungkin menganggap dirinya adalah teman sang iblis, tapi bagi si iblis itu sendiri, Arabella adalah malaikat yang merepotkan. Tetapi setidaknya Arabella bukanlah a fallen angel seperti yang pernah di bunuh oleh kakaknya, si Sebastian. "Lalu, kenapa kau bisa ada di dunia ini?"

"Pertanyaan yang bagus!" Jawab Arabella sambil menjentikkan jarinya di depan [Name]. "Aku pun tidak tau kenapa."

Tentu saja dia akan menjawab itu, memangnya apa yang [Name] harapkan. "Terserah," ujar sang iblis sembari melempar sampah susu kotak tepat di tempat sampah. Lalu dia pun berjalan, namun baru saja beberapa langkah, Arabella sudah menghadangnya lagi. "Kau mau kemana?! Kita baru bertemu!"

"Aku mau pulang."

"Kau punya rumah?"

[Name] menghela napas lelah. Dia iblis, dan dia tidak sanggup untuk berinteraksi dengan seorang malaikat yang sangat... cerah dan berbinar. "Bukan milik ku, tapi aku sudah tinggal di sana lumayan lama."

Sebelum Arabella bisa bertanya lagi, [Name] memotong, "Kau boleh ikut, tapi patuhi perintah ku." Dan sang malaikat malah membuat gestur seperti hormat. Ah, hari-hari selanjutnya pasti akan sangat melelahkan bagi [Name].

---

Sesampainya mereka di Forks, [Name] dan Arabella memasuki pekarangan rumah Charlie. Kala itu masih pagi, dan sang empunya rumah yang sedang duduk di teras dan menyeruput kopi bingung dengan siapa orang asing yang di bawa oleh [Name]. "[Name], siapa ini?" Tanya Charlie dengan wajah penasaran tapi juga was-was.

[Name] menoleh ke Arabella, yang sekarang sudah menghilangkan kedua sayap putihnya dan berpakaian lebih manusiawi sebelum kembali melihat ke ayah nya Bella. "Ini temanku, namanya Arabella. Dia sedang liburan jadi sekalian saja aku pungut ke sini," jawabnya santai. "Lagipula dia bisa berguna juga. Dia rajin, dan kau bisa mendapat asisten gratis selain aku, Charlie."

Charlie tertegun. Dia lalu melihat ke Arabella, seorang wanita yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum. Lalu dia mendekat dan berbisik tepat di samping telinga [Name]. "Dia ini.. anak spesial atau bagaimana? Kenapa dia tersenyum terus?"

"Kau bisa bilang begitu. Dia anak yang spesial." [Name] mengedikkan bahu. "Keluarganya menganggap dia seperti seorang malaikat sungguhan." Dan dalam mengatakan itu, iblis itu hampir saja tertawa.

"Ah... begitu ya," Charlie lalu memiringkan kepalanya sedikit lalu menatap Arabella lagi. "Kalau begitu selamat datang di Forks."

Sungguh, semua ini menjadikan [Name] semakin tertarik dengan dunia ini. Mungkin saja dia bisa betah untuk berlama-lama, bahkan dia yakin kalau kakaknya ada di sini, Sebastian juga akan berpendapat yang sama.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 30, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Deal With the Devil [Twilight Saga x Reader]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang