Sudah malam di rumah Charlie, suasana hening dan hanya ditemani suara jangkrik di luar. [Name] sedang duduk santai di ruang tamu, dengan tenang membolak-balik majalah yang entah sudah dibacanya berapa kali, ketika tiba-tiba Charlie datang dari dapur, membawa secangkir kopi panas. Tanpa aba-aba, pria itu membuka pembicaraan. "Besok, Bella ulang tahun," ujarnya dengan santai, sambil menyeruput kopi. "Aku sudah menyiapkan hadiah, tapi kau tau kan, Bella akan sangat senang kalau kau juga memberi sesuatu."
[Name] langsung tersedak air liur nya sendiri. "Apa?! Baru di kasih tau sekarang?!" Ia melompat berdiri, menatap Charlie dengan ekspresi tak percaya. "Kenapa tidak bilang dari kemarin-kemarin?!"
Charlie tertawa pelan, menikmati kehebohan yang diciptakannya. "Aku kira kamu sudah tau. Lagipula, aku sudah menyiapkan hariah. Hanya sebuah kamera dan album foto." Jawab pria itu yang sukses membuat [Name] cemberut.
Setelah Charlie selesai berbicara dan pergi kembali ke kamarnya,[Name] mendesah dalam-dalam. Tanpa banyak bicara lagi, dia melangkah keluar rumah, bertekad mencari hadiah yang pas untuk Bella di tengah malam itu.
Forks adalah kota kecil yang tenang di malam hari, tapi [Name] tidak menyerah. Dengan gaya khas iblisnya, ia menjelajahi tiap toko, dari ujung ke ujung. Sampai akhirnya matanya tertuju pada sebuah makeup set keluaran terbaru yang tampak mewah. Satu set yang terlihat lengkap dengan segala macam peralatan makeup, ditemani tas MUA eksklusif.
"Harga mahal? Bukan masalah," gumamnya sambil menjentikkan jari, dan.. poof! Setumpuk uang segar muncul di tangannya. "Wah, ternyata ada gunanya juga kekuatanku ini." Setelah transaksi 'berhasil,' iblis itu pun membawa pulang hadiah 'spesial' dengan perasaan puas. Namun juga tertawa lepas bergaya khas iblis sampai ada beberapa orang yang melihat lari ketakutan.
Keesokan paginya, Charlie dan [Name] sama-sama melangkah ke kamar Bella yang baru saja bangun tidur. "Selamat ulang tahun." Pria itu berkata lalu mereka berdua berjalan mendekat ke kasur Bella.
"Kupikir kita sudah setuju, tidak ada hadiah," ucap Bella.
Charlie tersenyum kecil, "Well, yang dari ku tidak di bungkus, jadi itu tidak termasuk hadiah," lalu pria paruh baya itu pun memberikan kamera yang sudah dihiasi dengan pita berwarna merah muda. "Dan satu nya, ini dari ibu mu," lanjut Charlie sambil memberikan album foto yang di bungkus dengan rapi.
[Name] kemudian melangkah maju, memasang senyum penuh kebanggaan, lalu menyodorkan tas MUA berisi makeup set yang mahal itu. "Nah, ini hadiah dari aku. Lengkap, supaya nanti kalau kau butuh makeup lagi, kau tidak harus meminjam teman mu atau panggil aku."
Bella memandangi tas itu dengan mata yang melebar, dan bahkan mulutnya terbuka sedikit. "[Name], ini.. ini terlalu banyak. Terima kasih banyak, rasanya ini terlalu.. mewah untuk ku."
[Name] menyeringai, melipat tangannya di dada. "Oh, ayolah. Sekarang kau sudah 18 tahun bukan? Waktunya untukmu bersinar, nona."
---
Sesampainya di sekolah, Bella langsung bertemu dengan teman-temannya di tempat parkir, sambil menunjukkan senyum lebar. Edward yang tiba-tiba muncul dengan langkah angkuhnya, membuat [Name] mengangkat alis. Menurutnya, cara Edward berjalan seperti itu tampak sedikit berlebihan. Sangat tidak.. wow.
"Kenapa dia jalan dengan sok keren begitu?" gumam [Name] pada dirinya sendiri. Namun, untuk sekali ini, ia memutuskan untuk tidak mengomentarinya lebih jauh. Mungkin karena hari itu dia merasa sedikit malas, atau mungkin juga karena hari itu adalah hari spesialnya Bella.
Edward menghampiri Bella, kemudian mengajak nya untuk merayakan ulang tahun di rumah keluarga Cullen. Bella langsung menyetujui undangan itu, senang dan tak sabar ingin merayakan bersama mereka.
Lalu Jacob, si manusia serigala itu pun muncul, memberi ucapan selamat ulang tahun pada Bella dengan senyum hangat dan memberikan sebuah hadiah yaitu, entahlah, [Name] tidak terlalu memperhatikan. Setelah itu, mereka bertiga akhirnya masuk ke gedung sekolah, di mana mereka langsung berpapasan dengan Alice, yang.. loncat dari tangga menuju ke Bella dengan senyuman cerah.
Alice, tanpa basa-basi, langsung memeluk Bella erat-erat. "Selamat ulang tahun!" Ia lalu menyerahkan sebuah kotak hadiah dengan gaun cantik di dalamnya. "Aku sudah liat masa depan saat kau membukanya. Dan tebak apa? Kau menyukainya! Dan kau akan mengenakan itu malam ini di tempat kami."
Bella tersenyum manis, menerima kotak itu lalu mengucapkan terima kasih pada Alice. Sementara itu, [Name] berdiri di sudut, bersandar di dinding dengan tangan disilangkan, dan tanpa basa-basi mengupil. Yah, entah kenapa hari ini dia merasa boring. Rasa-rasanya ada seseorang yang belum dia lihat beberapa hari ini.
Alice melihat itu, dan dia tidak bisa menahan tawanya. Vampir yang sangat ceria itu pun langsung mendekati [Name], dan memberinya kotak lain, kali ini kotaknya berwarna biru. "Dan ini untuk mu, [Name]. Ini gaun yang mungkin kau suka. Yah , aku tidak yakin kau akan suka atau tidak, soalnya aku tidak bisa baca pikiranmu. Tapi kupikir, ini mungkin bisa jadi sesuatu yang bagus."
[Name] menatap kotak itu dengan ekspresi datar, lalu menerima tanpa banyak bicara. Namun, Alice tidak berhenti di situ; ia mendekatkan wajahnya ke telinga iblis itu dan berbisik dengan nada yang menggoda, "Dandan yang cantik untuk Carlisle nanti, oke?" Diikuti dengan kedipan nakal yang membuat [Name] nyaris tersedak.
"Oh, ayolah. Kamu pasti becanda, Alice," sahut [Name] sambil memutar bola matanya, mencoba mengabaikan rasa aneh yang muncul saat mendengar nama Carlisle disebut. "Aku ini iblis, ingat?"
Alice hanya tertawa, memandangnya penuh arti seakan mengisyaratkan sesuatu. "Aku tidak becanda kok. Dan, menurutku, kau itu keren juga cocok untuk jadi pasangan Carlisle." Lalu ia pun berjalan menghampiri Jasper yang sudah menunggu sedari tadi.
[Name] mendengus, tapi entah kenapa, hatinya yang seharusnya dingin seperti batu terasa sedikit.., bergetar? Mungkin efek Alice yang selalu berhasil menggoyahkan mental siapa saja yang ia temui.
Sementara Bella tampak senang dengan hadiah dari Alice, [Name] berusaha keras untuk mengabaikan kata-kata Alice tadi. 'Dandan buat Carlisle,' pikirnya dalam hati sambil menahan tawa kecil yang nyaris pecah. 'Ah, sialan sekali pak tua itu.'
Dan sepanjang hari itu, [Name] sedikit lebih tenang dari biasanya, berusaha keras untuk tidak menunjukkan perasaan ganjil yang sempat muncul saat Alice bicara tentang Carlisle. Ia mulai mengalihkan perhatiannya dengan sibuk memikirkan acara ulang tahun Bella malam nanti di rumah keluarga Cullen. Meski ia tidak begitu suka dengan semua hal yang berbau pesta atau keramaian, apalagi jika digabung dengan aroma khas vampir. Namun, karena ini adalah hari istimewa Bella, ia akan berusaha tampil sebaik mungkin.
Tanpa sadar, [Name] tersenyum kecil sambil mengamati Bella dan Edward yang berjalan bersama di koridor sekolah tepat di depannya. Meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya, iblis ini sebenarnya merasakan sedikit kebahagiaan saat melihat 'sahabat' manusianya bahagia.
Di lain sisi, Alice memperhatikan semuanya dengan tatapan penuh rahasia, seakan ia tahu lebih dari apa yang terlihat.
Sore itu, saat mereka bersiap menuju ke rumah Cullen, [Name] merasa seperti ada percikan semangat yang tak biasa. Alice benar-benar tahu cara menggodanya, dan dengan sangat enggan, [Name] mengakui bahwa mungkin-hanya mungkin-ia sedikit menikmati perasaan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Deal With the Devil [Twilight Saga x Reader]
FanfictionKetika [Name] Michaelis membuka mata, ia mendapati dirinya jauh dari istana kelam yang biasa ia sebut rumah-terlempar ke dunia aneh penuh manusia fana. Tak ada tanda-tanda kakaknya, Sebastian, atau pun kehidupan iblis yang penuh intrik. Sebaliknya...
![Deal With the Devil [Twilight Saga x Reader]](https://img.wattpad.com/cover/383734638-64-k726680.jpg)