Setelah malam yang penuh dengan kejutan, [Name] memutuskan untuk pulang sendiri ke rumah Charlie. Tujuannya, untuk memberi Bella dan Edward waktu sendirian.
Iblis itu sudah sedari tadi tiba dan duduk di kamar nya saat dia melihat truk Bella tiba. Lalu dia juga melihat bagaimana mereka berdua berinteraksi. [Name] memang bisa mendengar semua percakapan dengan jelas, namun dia memutuskan untuk tidak mendengarnya.
Entah berapa lama dia memandang keluar jendela, bahkan sampai Bella sudah masuk ke kamarnya. Yang ia tahu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. [Name] pun memutuskan untuk melihat gadis itu karena sedari tadi dia mendengar Bella tidur dengan tidak nyenyak.
Sampai di kamar yang dia tuju, [Name] langsung melihat ada sebuah foto yang di tempel. Foto Edward dan Bella sendiri yang di potret oleh Alice, namun dilipat, dan hanya menampilkan gambar vampir itu. 'Jadi maksudnya Bella, Edward akan hidup selamanya dan sedangkan dia akan tiada,' ujar [Name] dalam hati. 'Poor human.'
Saat sekolah tiba, bahkan dia sama sekali tidak melihat batang hidung keluarga Cullen. Meja yang selalu mereka juga kosong. Dan [Name] juga memperhatikan bagaimana Bella tetap melihat ke arah itu, seakan berharap bahwa seorang, atau mungkin juga satu makhluk, bisa tiba-tiba muncul di sana.
Tiba saatnya pulang dan Bella serta [Name] telah sampai di rumah. Dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri Edward berdiri di sana, menunggu kekasihnya, mungkin untuk berbicara berdua.
Dan sekali lagi, [Name] membiarkan itu terjadi.
Namun sampai menjelang malam, Bella tidak kunjung pulang. [Name] langsung bergegas memakai hoodie nya, hendak mencari di mana keberadaan manusia itu. Tapi, belum sempat dirinya bisa melangkah keluar rumah, ada sesuatu. Sesuatu yang bahkan lebih besar dari dirinya yang menahan iblis itu dari melangkah lebih jauh.
Seketika sekitarnya berubah gelap, semuanya gelap, tidak ada cahaya sama sekali. Di situlah dia melihat Sebastian. Tapi bukan Sebastian yang biasanya, yang ini adalah Sebastian yang 'asli' dengan bentuk iblisnya. "Sebastian? Ada apa? Kenapa kau memanggilku?" Tanyanya dengan nada penasaran.
Sebastian diam, namun dia tetap melihat ke adiknya itu. Setelah beberapa saat, dia lalu berkat, "Sudah ku bilang jangan lupakan siapa dirimu." Ujarnya dengan suara menggema di ruangan itu. "Kau sudah terlalu jauh [Name]. Kau adalah iblis, tidak sepatutnya kau menjadi lemah. Jangan meletakkan hatimu di tanganmu."
[Name] terdiam, dia tersadar akan maksud kakaknya itu. Namun sebelum dia bisa menjawab, Sebastian memotong. "Dan juga, jangan terikat dengan mereka semua."
"Tapi.. aku tidak terikat. Aku tidak membuat kontrak dengan siapapun disini." [Name] yang tidak mau kalah langsung menjawab pernyataan kakanya.
Sebastian mendengus kecil lalu kembali mendekat. "Bukan ikatan yang seperti itu yang kumaksud, tapi ini." Jari dengan kuku yang panjang menunjuk ke dada adiknya, tepat dimana seharusnya jantung berada, yah walaupun iblis tidak memilikinya. "Aku bisa mendengar, dirimu berdebar dengan kencang saat berada di dekat vampir itu."
'Vamoir itu? Jangan-jangan..' "Carlisle?"
"Oh, bahkan aku tidak menyebutkan nama dan kau bisa menebak dengan tepat?" Kakaknya itu lalu berbalik, namun sebelum menghilang, dia tidak lupa berucap, "Kita adalah iblis, entitas terkuat dalam kegelapan. Aku harap kau tidak lupa dengan itu, [Name]."
Seketika ruangan yang sangat gelap langsung berubah terang sampai kedua mata nya tidak mampu untuk menahan terangnya cahaya.
Beberapa saat dia memejamkan mata, namun saat [Name] membuka penglihatan, dia langsung melihat ada Charlie yang tertidur di sebelahnya dengan posisi terduduk. "Charlie?"
Pria itu perlahan bangun, dan saat sudah sadar sepenuhnya, dia pun melihat [Name]. "Kau sudah sadar?" Tanyanya yang berhasil membuat iblis itu bingung. Charlie yang paham kalau dia bingung langsung menjelaskan. "Dua hari yang lalu aku menemukanmu pingsan di teras. Badanmu sangat panas, tapi aku belum sempat ke membawamu ke dokter karena keadaan Bella saat ini."
Namun bukannya tenang, [Name] semakin bingung di buatnya. "Tunggu-tunggu, aku? Pingsan?" Bahkan dia sampai menunjuk dirinya sendiri saking heran nya. "Memangnya, ada apa dengan Bella-"
Teriakan dari atas, tepatnya dari kamar Bella membuatnya berhenti bicara. Dan pria paruh baya yang duduk di depannya menghela napas lelah. "Keadaannya sangat buruk sejak pacarnya dan keluarga Cullen meninggalkan Forks," ujar Charlie.
"Aku akan memeriksa nya," [Name] berucap dan beranjak dari kasur yang sama sekali tidak di tahan oleh Charlie. Mungkin dia sudah lelah.
Dan benar apa kata Charlie, Bella yang mengalami mimpi buruk berteriak dengan kencang. Alhasil, [Name] langsung mendekap gadis itu dengan erat. "Hey hey, tenanglah. Apa pun yang kau lihat hanyalah mimpi."
Bella langsung terbangun dengan napas terengah-engah, dan memeluk iblis itu dengan erat. "[Name].. a-aku takut..," ucapnya sambil terisak. "Edward, dia meninggalkan ku sendirian, aku takut.."
"Shh, tidak usah takut, Bella. Aku di sini selalu menemani mu kapan pun kau butuh."
Dan di sinilah [Name] yang masih memeluk Bella sampai dia tertidur. 'Oh, kasihan sekali manusia ini..'
---
Tiga bulan berlalu, tapi keadaan Bella semakin buruk. Walau [Name] tidak bisa merasakan emosi, namun hanya dengan melihat nya, entah bagaimana dia bisa tahu sakitnya. Setiap malam Bella selalu mimpi buruk, dan Charlie yang selalu merasa khawatir. Email yang dia kirim ke Alice selalu gagal terkirim. Bahkan di sekolah dia semakin menjadi pendiam, dan selalu duduk di tempat duduk yang dulu selalu dipakai Edward.
Teman-teman Bella, Jessica, Mike dan yang lainnya juga khawatir. Meskipun tidak mengatakannya secara langsung.
Sampai hari ini, saat [Name] dan Bella ingin pergi ke sekolah, Charlie menghentikan mereka sebentar. "Baiklah, kau akan kembali ke Jacksonville bersama ibumu." Ucap pria itu dengan nada yang sedikit sedih.
Namun Bella menggeleng sambil berkata, "Aku tidak akan meninggalkan Forks." Yang membuat Charlie menghela napas dan menolak mentah-mentah pernyataan dari anaknya. "Bella, dia tidak akan kembali."
Untuk percakapan setelahnya, lagi-lagi [Name] tidak memperhatikan. Karena kedua mata nya melihat ada sosok yang sedikit mencurigakan yang berdiri di antara pohon-pohon di hutan dekat rumah. Tapi belum sempat dia melihat lebih jauh lagi, atensinya kembali ke Bella dan Charlie.
"Aku akan pergi berbelanja bersama Jessica besok." Yang berbicara adalah Bella, namun yang terkejut adalah [Name]. Bukannya dia tidak suka berbelanja? Tapi oh, mungkin dia hanya ingin mengalihkan pikirannya dari Edward. "Tapi, [Name], aku hanya ingin pergi sendiri saja."
"Apa!?" Bukan. Itu bukan [Name] yang terkejut, tapi Charlie. "Tidak bisa Bella, dia harus ikut denganmu, dia akan menjagamu."
Bella menghela napas lagi dan memainkan ujung tali tas nya, namun masih menatap ayahnya itu. "Dad, ayolah, aku sudah delapan belas tahun, aku ingin kebebasan ku," ujarnya.
[Name] langsung buru-buru memotong pria itu yang ingin mengatakan sesuatu dengan meletakkan tangannya di bahu. "Charlie, tidak apa."
Charlie langsung menyisir rambutnya dengan tangan. "Baiklah, kurasa berdebat dengan anak-anak muda memang tidak ada gunanya."
Setelah itu pun, Bella dan [Name] berangkat sekolah. Kali ini, iblis itu yang menyetir karena dia melihat keadaan 'adik' nya itu yang tidak memungkinkan.
Yah, mungkin hari ini akan menjadi hari yang berat. Namun ada rasa tertarik yang [Name] rasakan di lubuk hati iblisnya yang paling terdalam, entah apa itu namun cukup membuatnya penasaran dan terhibur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Deal With the Devil [Twilight Saga x Reader]
FanfictionKetika [Name] Michaelis membuka mata, ia mendapati dirinya jauh dari istana kelam yang biasa ia sebut rumah-terlempar ke dunia aneh penuh manusia fana. Tak ada tanda-tanda kakaknya, Sebastian, atau pun kehidupan iblis yang penuh intrik. Sebaliknya...
![Deal With the Devil [Twilight Saga x Reader]](https://img.wattpad.com/cover/383734638-64-k726680.jpg)