Secrets - 10

765 100 1
                                        

Keesokan paginya, matahari belum terlalu tinggi ketika [Name] baru kembali dari 'perjalanannya' semalam setelah bertemu Carlisle, dan ia langsung mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Bella, seperti biasa, selalu memulai hari dengan mandi lama, dan kebiasaan itu memberinya kesempatan langka untuk mengintip barang-barang pribadi Bella. Sebenarnya, dia hanya iseng, tapi di salah satu sudut meja kamar Bella, matanya langsung menangkap sebuah buku tua dengan sampul bergambar ukiran misterius. Ia segera meraih buku itu dan membuka halamannya.

Isinya? Kisah legenda Quileute yang menceritakan tentang makhluk-makhluk mitologi, khususnya manusia serigala dan The Cold Ones, atau seperti yang tertulis di buku itu—vampir.

[Name] menghela napas pendek, membuka beberapa halaman yang menjelaskan tentang para makhluk yang disebut-sebut sebagai 'jelmaan iblis'. Dia membaca dengan alis terangkat dan sering kali mengeluarkan dengusan kecil, menahan tawa.

"Jelmaan iblis?" Gumamnya dengan suara rendah, penuh sarkasme. "Kalau ini benar, iblis macam apa yang mau menjelma jadi penghisap darah busuk? Ia mendengus sekali lagi, membayangkan betapa vampir dan iblis sama sekali tidak ada kemiripannya. Dan itu malah membuatnya geli. "Jika saja mereka tau bau busuk darah yang menempel di makhluk-makhluk ini, mungkin mereka akan meralat cerita ini jadi 'jelmaan mayat hidup yang membusuk'."

Menurut legenda itu, vampir adalah makhluk kuat yang memiliki tubuh dingin seperti es, mata yang berubah warna sesuai keinginan, kecepatan yang setara kilat, dan tak bisa mati. Vampir juga digambarkan sebagai pemburu darah yang tak berperasaan. [Name] melipat tangannya sambil berpikir, hampir merasa kasihan pada Bella karena tampaknya dia benar-benar percaya pada semua ini.

Dia mendengar kalau gadis yang sedari tadi dia pikirkan sudah selesai mandi dan itu membuatnya cepat-cepat merapikan semuanya dan turun ke dapur untuk membuat sarapan.

Tak lama kemudian, Bella bergabung dengannya, dan mereka pun bersiap berangkat ke sekolah bersama-sama. Perjalanan dengan mobil tua Bella dipenuhi keheningan, namun [Name] sesekali melemparkan pandangan sekilas padanya, menyadari betapa fokusnya Bella pada pikirannya sendiri. Dia tahu manusia itu  mungkin sedang berusaha mencari cara untuk bertanya pada Edward tentang siapa sebenarnya dirinya.

Sesampainya di sekolah, Bella memberhentikan mobil dan menatap [Name] dengan wajah serius namun juga gugup. "Kau masuk duluan saja, aku ada urusan sebentar.”

[Name] tersenyum kecil, sudah tahu dengan jelas ke mana arah Bella. "Tentu, kalau begitu aku pergi dulu. Jangan terlalu lama ya," jawabnya sambil melangkah masuk ke gedung sekolah. Tapi begitu Bella pergi, ia langsung membuntuti Bella diam-diam menggunakan kekuatan iblisnya. Tak ada vampir, manusia, atau makhluk apapun yang bisa mendeteksi kehadirannya saat dia menyamarkan auranya sepenuhnya.

Dari kejauhan, [Name] melihat Bella bertemu dengan Edward. Ia memperhatikan bagaimana mereka berbicara—dari ekspresi wajah Bella yang penuh rasa penasaran dan antusias, hingga tatapan Edward yang terlihat waspada namun berusaha menenangkan.

"Aku tau siapa dirimu, kau adalah vampir..." Bella akhirnya mengakui, suaranya berbisik namun penuh tekad.

Edward tampak terkejut, tapi dia tidak membantah. Sebaliknya, ia mengakui kebenarannya, lalu, dengan sikap sok keren yang sedikit membuat [Name] muak, Edward mulai mendemonstrasikan kekuatannya. Ia melompat, bergerak secepat kilat, membawa Bella menaiki pepohonan dengan loncatan-loncatan yang tampaknya ditujukan untuk membuat Bella terkesan.

[Name] hanya menghela napas panjang, menggelengkan kepala saat melihat aksi pamer itu. "Norak, seperti kera saja," gumamnya sambil menyilangkan tangan. Ia hampir berbalik pergi ketika merasakan sesuatu yang aneh di sekitarnya.

Sebuah aroma yang tidak asing.

Tanpa perlu melihat ke belakang, dia tahu ada seseorang yang sudah memperhatikannya. Matanya menyipit, mencoba meresapi aroma yang menguar di udara. Ini bukan aroma manusia, bukan juga aroma vampir biasa, tapi sesuatu yang jauh lebih tua, dan ia pernah merasakannya sebelumnya.

[Name] berbalik perlahan, dan benar saja, di balik bayang pepohonan, ada sosok seorang pria dengan tatapan yang penuh minat. Pria itu tersenyum tipis, dan sorot matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.

"[Name], akhirnya kita bertemu lagi," ujar pria itu, suaranya dingin namun tenang, seolah tidak sedikit pun terancam.

[Name] hanya menatap pria itu tanpa ekspresi, mencoba mengingat di mana ia pernah bertemu dengan vampir ini. Dan dalam sekejap, ingatannya kembali ke momen ketika ia pertama kali terjatuh ke dunia ini. Vampir ini, dialah yang pertama kali dilihat [Name] dan melihat nya juga.

"Aku heran kau masih hidup setelah sekian lama. Atau mungkin, aku yang perlu memberi penghargaan padamu karena berhasil menemukanku," jawab [Name] dengan nada sarkastik, tanpa mengindahkan tatapan tajam dari pria itu.

Pria itu tertawa pelan, langkahnya mendekat tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. "Namaku Aro," dia memperkenalkan dirinya. "Aku datang jauh-jauh, penasaran pada makhluk misterius sepertimu. Meski aku sudah bisa menebak kau bukanlah sekadar makhluk biasa."

[Name] mendengus, menahan senyum sinis. "Dan aku sudah tau kau akan datang. Indera penciumanku jauh lebih kuat daripada vampir mana pun," ujarnya. "Sebenarnya, aku sengaja membuat diriku terlihat olehmu. Anggap saja aku ingin melihat, apakah vampir seperti kalian bisa benar-benar menemukan iblis."

Aro menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Iblis, ya? Aku sudah lama mendengar tentang makhluk seperti dirimu, tapi tak pernah benar-benar bertemu. Kau adalah makhluk yang luar biasa.. dan langka," katanya, tampak terkesima namun juga penuh kehati-hatian.

"Terima kasih atas pujiannya," jawab [Name] dingin. "Tapi jangan pikir aku akan merasa tersanjung."

Aro tersenyum samar, lalu melipat tangan di dada, seolah ingin menunjukkan ketenangannya. "Aku menghargai kekuatanmu, [Name]. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Kau terlihat cukup cerdas untuk tidak menolak tawaran dari Volturi."

[Name] tertawa kecil, nada tawanya dingin. "Volturi, ya? Seperti nama kumpulan kakek-kakek," candanya, mengingat legenda yang pernah dia dengar tentang kelompok vampir yang sangat tua itu. "Maaf, tapi aku tidak tertarik bergabung dengan perkumpulan para vampir tua. Aku lebih suka beroperasi sendiri."

Aro menatapnya tajam, lalu mengangguk pelan, tampak mempertimbangkan kata-kata [Name]. "Tentu saja, pilihan ada padamu. Tapi izinkan aku memperingatkan, ada harga yang harus dibayar jika kau memilih jalan yang tidak sejalan dengan Volturi."

[Name] tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Sebaliknya, ia tersenyum penuh tantangan. "Harga? Aku tidak pernah takut pada harga yang harus kubayar. Kalau kau ingin menakutiku, Aro, maka kau sudah gagal."

Aro tersenyum kecil, menatap [Name] dengan penuh kekaguman namun juga rasa hormat yang samar. "Lalu, kurasa pertemuan kita sudah cukup untuk kali ini," ujarnya, melangkah mundur dengan anggun. "Tapi jangan khawatir, kita akan bertemu lagi. Cepat atau lambat."

Tanpa menunggu jawaban, Aro berbalik, tubuhnya lenyap di balik bayang-bayang pepohonan. Hanya aroma samar yang tertinggal, tapi bagi [Name], itu sudah cukup menjadi pengingat bahwa Aro dan Volturi bukanlah musuh yang bisa diabaikan begitu saja.

[Name] memandang ke arah di mana Aro menghilang, lalu berbalik, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sambil berjalan kembali ke sekolah, kembali ke rutinitas di Forks yang tampak damai namun menyimpan begitu banyak misteri. "Astaga, sepertinya ada banyak hal menarik yang harus kuceritakan pada Sebastian. Aku tau kau kau pasti bisa mendengar ku, dasar kakak sialan!!"

---

"Hatchoo!"

"Ada apa Sebastian? Tidak biasanya kau bersin."

"Ah, maaf tuanku. Tapi tadi aku merasa seperti ada yang mengejek ku."

"Mungkin khayalan dirimu saja."

Deal With the Devil [Twilight Saga x Reader]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang