Pagi itu, suasana rumah keluarga Swan terasa berbeda. Charlie duduk di kursi dengan Edward duduk di depannya, dengan berpakaian rapi, mengenakan setelan jas hitam yang kontras dengan wajahnya yang pucat. Ekspresinya tegang, jelas menunjukkan bahwa ia tak sabar menunggu Bella selesai bersiap. Di lantai atas, gadis itu masih dalam proses dandan, atau lebih tepatnya, sedang 'dibuat' cantik oleh [Name], yang bersemangat menjadi penata rias dadakan untuk malam spesial ini.
Bella, dia duduk diam di kursi, sementara [Name] dengan teliti menyapukan sentuhan terakhir pada riasannya. "Nah, selesai sudah, nona Swan," kata [Name] dengan gaya ala profesional yang sedikit berlebihan. Dia mundur selangkah, menatap Bella dari atas ke bawah dengan puas.
Bella tersenyum canggung, masih mencoba membiasakan diri dengan tampilan glamornya. "Aku merasa seperti orang lain.., tapi terima kasih, [Name]. Kau benar-benar luar biasa."
"Oh, itu sudah pasti. Tidak perlu meragukan diriku ini." [Name] menyeringai, merasa sangat bangga dengan hasil karyanya. "Serahkan semuanya kepada iblis pelayan ini, nona." Ujarnya dengan penuh canda. Dan ya, dia sudah menjelaskan semuanya kepada Bella, tentang siapa dia sebenarnya.
Saat Bella bersiap turun dengan bantuan [Name] yang memegang lengan agar dia tidak terpeleset dengan penyangga kakinya, Edward yang menunggu di bawah terpana. Mata vampirnya tak lepas dari sang pujaan hati yang kini tampak begitu cantik. Charlie juga tak kalah terkesima, sampai tak sadar dirinya tersenyum bangga.
Melihat hal ini, [Name] menatap Charlie dengan pandangan penuh arti, seperti menantikan pujian atas hasil karyanya. Charlie hanya mengangguk dengan penuh makna, lalu mengangkat tinjunya ke arah [Name] dengan isyarat tos.
[Name] merespon dengan senyum lebar, membalas tos kepalan itu dengan penuh kebanggaan. "Itulah yang aku sebut karya seni," gumamnya puas, merasa sudah melampaui ekspektasi siapa pun.
Setelah beberapa saat penuh kekaguman, Edward, Bella, dan [Name] akhirnya menuju mobil untuk pergi ke prom. Saat tiba di sekolah, dan setelah kedua wanita itu turun, Edward memutuskan untuk memarkir mobil, meninggalkan kedua wanita itu di depan gedung.
Di saat itulah, Jacob Black, sahabat Bella, muncul entah dari mana. Dengan senyuman lebar, dia menghampiri Bella, mengajaknya berbincang. Namun, [Name] tampaknya tidak terlalu memperhatikan percakapan mereka. Indra penciumannya yang tajam menangkap aroma makanan yang menggoda dari dalam gedung. Sebagai seorang yang secara misterius berbakat dalam bidang kuliner, dia tiba-tiba terpancing rasa ingin tahu.
"Hmm, mari kita lihat apakah makanan di sini layak," gumam [Name] dengan mata berbinar, benar-benar tidak peduli dengan percakapan Bella dan Jacob. Dia melangkah maju dengan tekad, mengikuti aroma itu seperti kompas.
---
Di dalam tempat pesta prom, suasana ramai dan penuh warna. Orang-orang menari di bawah lampu warna-warni, tertawa, dan menikmati malam istimewa itu. [Name] yang baru masuk ke area pesta langsung menuju ke food stall, tidak tertarik sedikit pun pada dentuman musik atau lampu berkelap-kelip. Dia sudah mulai mempercayai Edward untuk menjaga Bella, jadi dia tidak terlalu khawatir.
Dan mata [Name] langsung berbinar saat melihat deretan makanan di meja panjang. Dia memeriksa makanan satu per satu dengan penuh antusias. Dari cupcakes warna-warni hingga pizza keju yang menggiurkan, semuanya tampak menarik. Namun, perhatiannya tertuju pada satu makanan, yaitu kue coklat yang tampak menggiurkan.
"Baiklah, kue coklat, ayo buktikan apakah kau hanya cantik di luar," gumam [Name] sambil memotong sepotong kecil kue coklat itu dan memasukkannya ke mulut.
Mendadak, rasa manis coklat itu memenuhi mulutnya. Meskipun sebagai iblis ia tidak bisa merasakan rasa makanan manusia, coklat selalu menjadi pengecualian aneh bagi dirinya. [Name] tertegun sejenak, otak nya seketika mengingat kembali ke saat pertama kali dia tiba di dunia ini. Kala itu, Charlie memberinya secangkir coklat panas untuk pertama kalinya, dan itu adalah rasa pertama yang benar-benar bisa ia nikmati.
Namun, momen sentimental itu terganggu ketika seorang pemuda datang mendekat dengan penuh percaya diri. Dengan gaya ala pahlawan film romansa yang terlalu percaya diri, pemuda itu menatap [Name] dan mengulurkan tangannya. "Permisi, mau berdansa denganku?" Katanya dengan nada sok keren.
[Name] menatap pemuda itu dari atas ke bawah, menilai dari kepala hingga kaki. Pemuda itu mengenakan jas yang terlihat sedikit kebesaran dan rambutnya disisir berlebihan, seolah ia berpikir dirinya adalah James Bond di sekolah ini. Alih-alih merasa terkesan, [Name] malah hampir tertawa.
"Oh, jadi kau pikir, hanya dengan mengajak dansa, aku akan langsung terpikat?" Jawab [Name] dengan nada sarkastis, membuat pemuda itu tergagap sedikit. "Lucu sekali. Tapi maaf, aku sudah 'dipesan'."
Pemuda itu tampak bingung dan sedikit tersinggung. "Dipesan? Maksudmu.. kau sudah punya seseorang? Atau kau milik seseorang?"
[Name] mengangkat bahunya dengan gaya santai, matanya menyipit seolah mengingat seseorang atau bisa di bilang, satu vampir yang tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Meski tak mau mengakuinya, sosok Carlisle muncul di benaknya, membuatnya merasa.., agak gugup. Sesuatu yang seharusnya tidak mungkin bagi seorang iblis yang sudah hidup beribu-ribu tahun. "Tentu saja," kata [Name] sambil tersenyum sinis. "Dan dia, yah, dia jauh lebih keren dari siapapun yang ada di sini."
Pemuda itu mundur, merasa tertampar oleh penolakan tajam dari [Name]. Ia menggaruk kepalanya dengan malu-malu dan segera pergi, meninggalkan [Name] yang tertawa kecil.
[Name] kembali menikmati kue coklatnya, tapi dalam hati, ia merenung tentang betapa anehnya perasaannya saat memikirkan Carlisle. Sebagai iblis, ia tahu seharusnya dirinya tidak bisa merasa gugup atau berdebar. Tapi entah mengapa, di tengah hingar-bingar pesta ini, pikirannya tak bisa lepas dari sosok vampir dokter yang tenang itu.
Dengan senyum kecil yang anehnya hangat, [Name] berdiri di sana, menikmati kue coklat, sambil mengakui sedikit saja, bahwa mungkin, mungkin Carlisle telah membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda. Mungkin vampir itu telah mengukir sesuatu di hati nya yang sebenarnya tidak ada. "Tch, Carlisle, sialan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Deal With the Devil [Twilight Saga x Reader]
FanfictionKetika [Name] Michaelis membuka mata, ia mendapati dirinya jauh dari istana kelam yang biasa ia sebut rumah-terlempar ke dunia aneh penuh manusia fana. Tak ada tanda-tanda kakaknya, Sebastian, atau pun kehidupan iblis yang penuh intrik. Sebaliknya...
![Deal With the Devil [Twilight Saga x Reader]](https://img.wattpad.com/cover/383734638-64-k726680.jpg)