Operasi Menaklukkan Dokter Cullen
(POV Carlisle)
Carlisle Cullen tidak pernah menganggap dirinya sulit didekati. Ia hanya sibuk. Antara menangani pasien di rumah sakit, memastikan keluarganya tetap dalam kendali, dan terus mengikuti perkembangan dunia medis, ia jarang punya waktu untuk hal lain.
Termasuk—dan terutama—untuk urusan romansa.
Namun, tampaknya ada satu orang yang tidak peduli dengan fakta itu. Seseorang yang, dengan segala cara, berusaha menarik perhatiannya: [Name].
Awalnya, Carlisle mengira itu hanya lelucon. Godaan ringan, sekadar hiburan di tengah kesibukannya. Tapi semakin lama, ia sadar bahwa [Name] benar-benar serius.
Dan lebih parahnya? Ia mulai memperhatikannya.
---
Strategi 1: Serangan Fisik (Bukan Kekerasan, Maksudnya)
Carlisle mulai memperhatikan pola tertentu.
Setiap kali mereka berjalan bersama, entah bagaimana, [Name] selalu tersandung dan meraih lengannya. Saat menyerahkan dokumen, jari mereka bersentuhan sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Dan setiap kali berbicara, [Name] selalu mencondongkan tubuh lebih dekat, seolah sengaja menguji batas pribadinya.
Carlisle, tentu saja, menganggap ini sebagai ketidaksengajaan.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya suatu hari ketika [Name] hampir jatuh lagi. "Sepertinya koordinasi gerakanmu kurang. Mungkin perlu diperiksa?"
Reaksi [Name] sungguh.. menarik. Matanya melebar sebelum kemudian mendesah panjang, seperti orang yang kehilangan harapan.
Carlisle hanya bisa menatapnya bingung.
---
Strategi 2: Menjadi Pasien Paling Menyedihkan
Hari itu, Carlisle sedang sibuk dengan pasiennya ketika [Name] datang dengan ekspresi muram. "Dokter, aku merasa tidak enak badan," katanya, suaranya terdengar lemah.
Carlisle meletakkan pulpennya dan menatapnya dengan penuh perhatian. "Gejalanya apa?"
"Hatiku sakit setiap kali melihatmu berjalan menjauh."
Carlisle menatapnya dalam diam selama beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas. "[Name], kalau kau tidak benar-benar sakit, aku masih punya pasien yang harus kutangani."
"Tapi.."
Carlisle sudah beranjak pergi sebelum [Name] sempat menyelesaikan kalimatnya.
---
Strategi 3: Mencuri Perhatiannya dengan Persaingan Palsu
Carlisle bukan orang yang mudah terpengaruh emosi, terutama sesuatu yang seremeh kecemburuan.
Namun, hari itu, saat ia melewati ruang makan staf, ia mendengar suara tawa yang sangat familiar.
"Oh, Marcus, kau benar-benar lucu!"
Carlisle melirik ke arah meja tempat [Name] duduk bersama seorang dokter residen bernama Marcus. Ia melihat [Name] tertawa, lebih keras dari biasanya dan menatap Marcus dengan cara yang jelas disengaja.
Carlisle melanjutkan langkahnya.
Namun, ia berhenti saat mendengar suara [Name] lagi.
"Marcus, kalau kau punya waktu, ayo makan malam bersama? Aku rasa kita perlu menghabiskan lebih banyak waktu berdua."
Carlisle menoleh sebentar dan berkata, "Pastikan kau tidak terlalu banyak makan makanan berminyak. Jaga kolesterolmu."
Lalu ia pergi.
Ia tidak melihat ekspresi [Name], tapi dari keheningan yang terjadi setelahnya, Carlisle menduga rencananya tidak berjalan seperti yang ia harapkan.
---
Strategi 4: Serangan Langsung
Hari itu, Carlisle sedang membaca jurnal medisnya ketika [Name] tiba-tiba berdiri di depannya dengan ekspresi serius.
"Carlisle, kenapa kau tidak suka padaku?"
Carlisle mengangkat alis, sedikit terkejut. "Apa maksudmu?"
"Aku sudah melakukan segala cara untuk membuatmu tertarik," [Name] mulai merinci usahanya, dari sentuhan tidak sengaja, berpura-pura sakit, hingga mencoba membuatnya cemburu. "Tapi kau tetap menolakku! Kenapa?"
Carlisle menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab dengan jujur, "Karena aku berpikir kau hanya bercanda."
[Name] membeku. "Apa?"
"Kau selalu bertingkah konyol, aku kira kau tidak benar-benar menyukaiku." Carlisle menutup bukunya dan menghela napas. "Tapi jika kau memang serius.."
Mata [Name] berbinar penuh harapan. "Ya?"
Carlisle tersenyum kecil. "Aku mungkin juga mulai menyukaimu."
Saat itu, ia berpikir reaksi [Name] akan seperti biasa, mungkin sedikit menggoda atau tertawa puas. Namun, ia tidak menyangka [Name] akan tiba-tiba merogoh saku jasnya, berlutut, dan menarik sesuatu yang kecil serta berkilauan.
Cincin plastik dari mesin mainan.
"Carlisle Cullen, maukah kau menikah denganku?"
Carlisle menatapnya lama sebelum akhirnya tertawa kecil. "Kau benar-benar tak bisa ditebak." Ia mengambil cincin plastik itu dari tangan [Name] dan memasukannya ke jari manisnya. "Tapi baiklah, aku terima."
Dan, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Carlisle merasa ada sesuatu yang lebih menarik daripada jurnal medisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Deal With the Devil [Twilight Saga x Reader]
FanfictionKetika [Name] Michaelis membuka mata, ia mendapati dirinya jauh dari istana kelam yang biasa ia sebut rumah-terlempar ke dunia aneh penuh manusia fana. Tak ada tanda-tanda kakaknya, Sebastian, atau pun kehidupan iblis yang penuh intrik. Sebaliknya...
![Deal With the Devil [Twilight Saga x Reader]](https://img.wattpad.com/cover/383734638-64-k726680.jpg)