Satu hari, dua hari, tiga hari begitu mudah kita lalui. Waktu adalah barang mahal yang tidak bisa di ulang kembali, seperti pepatah mengatakan"Waktu Adalah Emas."Hari berganti begitupun minggu menyapa, hari ini adalah hari bahagia untuk dua insan yang ingin menyempurnakan separuh agamanya.
Hiasan serta semua perlengkapan sudah tersusun rapi di tempatnya masing masing, akad nikah akan di laksanakan di jam 10 pagi ini. Pengantin wanita sedang di make up oleh salah satu Mua, sedangkan pengantin pria berada di perjalanan menuju tempat acara.
"Maasyallah walaupun make up natural, tetap keliatan pangling ya ka"ujar Mua tersebut.
"Iya benar mba, cantik banget"kata Salsa yang sedang menemani Meera di kamar, dan ia menjadi salah satu brismeid di pernikahan sang sahabat.
"Makasi Mba, Sal"jawab Meera dan mereka berdua tersenyum menganggukan kepala.
Untuk akad nikah, Meera memakai kebaya, atau orang bilang memakai singer sunda dengan hijab menutup dada. Cantik dan pangling itu lah gambaran Meera sekarang. Tak berselang lama rombongan pengantin pria sudah datang dan di sambut dengan suka cita oleh keluarga besar Meera.
Keluarga duduk di tempat yang sudah di sediakan, dan Fahri duduk di meja akad dengan para sepuh di sana. Sebentar lagi akad nikah akan di laksanakan, Meera yang sudah tau pengantin pria sudah datang tiba tiba merasakan gugup dan keringat dingin. Begitupun dengan Fahri.
"Apa kita bisa mulai?"Tanya pak penghulu.
"Bisa pak"jawab tegas Fahri.
"Baik karena di sini yang menjadi wali nikah adalah kakak laki laki dari pengantin wanita, silahkan nak Azam dan nak Fahri berjabat tangan."
Mereka berdua berjabat tangan dan Azam merasakan sedikit gemetar di tangannya.
"Ya Fahri Alexander, Saya Nikahkan Dan Saya Kawinkan Engkau Dengan Adik Saya Yang Bernama. Almeera Chairunnisa Binti Bapak Bayu Handika Pratama, Dengan Maskawin Emas Sebesar 200gram, Seperangkat Alat Shalat Serta Sebuah Rumah. Di Bayar Tunai!"
"Saya Terima Nikah Dan Kawinnya Almeera Chairunnisa Binti Bapak Bayu Handika Pratama, Dengan Maskawin Tersebut Di Bayar Tunai!"tegas Fahri yang berjabat tangan dengan sang kakak ipar, yakni Azam.
"Bagaimana para saksi sah?"Tanya penghulu
"Sah"jawab mereka yang ada di sana.
Alhamdulillah, mereka berdoa terlebih dahulu sebelum ke pemanggilan pengantin wanita. Azam menangis haru dan memeluk Ibu Dwi di sana.
"Hiks--Hiks---Akhirnya tanggung jawab ayah, sudah Azam laksanakan bu"tangisnya.
"Sekarang Meera sudah bukan tanggung jawab kamu lagi nak. Adikmu sudah ada yang menjaganya"ujar Ibu Dwi yang berkaca kaca sambil mengelus punggung sang anak.
Para tamu yang hadir di sana terharu melihatnya, begitupun dengan Meera yang ada di dalam kamar, yang sedang menonton mereka lewat monitor. Meera menangis karena sekarang ia sudah menjadi seorang istri, dan ia terharu ketika sang abang berjabat tangan dengan calon suaminya dan melepaskan tanggung jawab itu.
"Ayah, Meera sekarang sudah menjadi seorang istri. Ayah bahagia kan di atas sana?"Tanya Meera yang menitikan air mata, Harusnya sang ayah yang berada di posisi Azam, tapi takdir berkehendak lain.
"Untuk pengantin wanita, silahkan di bawa keluar"ujar penghulu melalui mic di sana.
Meera bersiap siap untuk menghampiri suaminya, dan ia di temani Salsa sang sahabat serta adik perempuan dari suaminya. Mereka berjalan mengandeng tangan Meera sampai ke meja ijab qobul. Para tamu yang ada di sana menatap kagum kepada pengantin wanita, karena masih memakai cadar pun aura pangling Meera terlihat dan sangat cantik.
"Silahkan cium tangan pria yang sudah menjadi suamimu nak"ujar penghulu dan Meera merasa gemetar untuk mencapai tangan itu.
Ini pertama kalinya Meera bersentuhan dengan lawan jenis, kecuali dengan sang abang. Setelah Meera mencium tangan suaminya, Fahri berdoa di ubun ubun sang istri meminta doa kebaikan untuk mereka berdua. Baru setelah itu di lanjut dengan menandatangani berkas berkas.
"Silahkan tanda tangan di sini"ujar penghulu setelah Meera duduk bersebelahan dengan sang suami. Selesai menandatangani berkas berkas, mereka lanjut ke acara sungkeman kepada orang tua di sana.
"Ibu maafin Meera, kalau selama ini Meera banyak salah sama ibu. Meera mohon doanya ya bu, Hiks--Hiks"tangis Meera yang sedang memeluk ibunya.
"Ibu sudah maafkan semuanya nak, ibu juga minfa maaf kalau ibu punya salah sama kamu. Doa ibu selalu menyertai kalian, jadi istri yang baik ya"jawab Ibu Dwi yang mengusap punggung putrinya.
Setelah dari ibu, Meera lanjut ke abang dan orang tua Fahri. Begitupun dengan Fahri yang sekarang sedang sungkem kepada ibu Meera.
"Mohon doanya ya bu"sungkem Fahri yang sedang mencium telapak tangan dari mertuanya.
"Titip putri ibu ya nak, doa ibu selalu menyertai keluarga kalian"jawab ibu Meera.
Selesai dari ibu Meera, Fahri lanjut ke abang iparnya.
"Sungkem bos"ledek Azam dan Fahri menurut saja, karena memang sudah sepatutnya ia lakukan.
"Terima kasih sudah merelakan adikmu untuk menjadi istri saya, saya akan menjaga apa yang keluarga titipkan kepada ya"ujarnya dengan formal.
"Saya titip adik saya, jangan sakiti hatinya. Jika kamu berani menyakitinya, saya tidak akan tinggal diam"tegas Azam dan Fahri menganggukan kepala.
Acara terus berlangsung dengan berbagai adat, dan sekarang kedua pasangan itu sedang duduk di atas pelaminan menunggu para tamu yang ingin mengucapkan selamat.
Tak berselang lama, tamu yang ingin mengucapkan selamat pun berdatangan, dari mulai keluarga Zaki, keluarga Ilham dan yang lain.
"Selamat ya best, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah"ujar Salsa yang memeluk sahabatnya. Sedangkan dengan pengantin pria Salsa hanya menangkupkan kedua tangan.
"Aamiin makasi Sal"jawab Meera dan sekarang giliran yang lain.
"Barakallah Meer, semoga menjadi keluarga yang selalu bahagia dan di rahmati Allah"ujar Ustadz Zaki yang menangkupkan kedua tangan.
"Aamiin terima kasih ustadz"jawab Meera yang membalas tangkupan tangan itu, setelah Zaki selesai bersama Ustadzah Nurul. Di lanjut dengan Hilwa yang yang mengucapkan selamat.
"Selamat Aca, jangan lupain Ilwa ya. Dan untuk om, nanti bolehin aca main sama Ilwa ya"ujar Hilwa dan Fahri mengangkat tubuh mungil itu agar sejajar dengan mereka.
"Iya boleh, tapi harus ijin dulu sama om ya"ujar Fahri.
"Siap om"jawab Hilwa dengan memberikan hormat kepada Fahri, dan mereka berdua terkekeh melihat kelakuan bocil satu ini. Setelah Hilwa selesai, di lanjut dengan Ikhsan, dan Ilham.
"Selamat ya ca, semoga menjadi keluarga yang harmonis dan langgeng"ujar Ikhsan yang sudah lapang dada, dan tengah mengandeng tangan calon istrinya.
"Aamiin makasi bang, secepatnya nyusul ya"jawab Meera yang menangkupkan kedua tangan.
"Doain ya kak secepatnya"ujar Salma, calon istri Ikhsan.
Selesai Ikhsan di lanjut dengan Ilham dan para tamu yang lain.
"Selamat Meer, semoga selalu menjadi keluarga yang rukun dan di berkahi Allah"ujar Ilham.
"Aamiin makasi ya kak"jawab Meera.
Selesai Ilham mengucapkan selamat, para tamu sudah mengantri ingin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Acara cukup meriah karena kebanyakan yang hadir adalah rekan bisnis Fahri, dan sebagian ada sahabat Meera. Hari ini sungguh hari bahagia Meera dan Fahri, dan hari ini juga adalah hari dimana Meera merasakan tenang dan bahagia yang sangat melimpah, setelah ujian yang selama ini ia rasakan. Dan ternyata rasa sakit yang ia rasakan dulu, berbuah manis di hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Almeera Chairunnisa
Teen Fiction📌 FOLLOW SEBELUM BACA📌 Kehidupan itu laksana sebuah buku cerita, ada kisah sedih, kisah bahagia dan ada pula kisah yang membangkitkan. Akan tetapi, ketika halaman baru belum terbuka, maka kisah yg tersimpan di halaman berikutnya hanya akan menjad...
