Acara terus berlanjut hingga semua tamu pulang, tinggal keluarga inti yang ada di sana.
"Ibu istirahat di sini dulu ya, kebetulan saya sudah siapkan kamar"ujar Ibu Dwi kepada besannya.
"Iya bu"jawab Mamah Anya.
"Nak, antarkan suami mu ke atas"titah Bu Dwi ke Meera, dan Meera mengiyakan.
"Mari kak, Meera antar ke atas."
Fahri beserta Meera naik ke lantai satu, sedangkan yang lain sudah istirahat di kamar masing masing. Tidak ada percakapan di antara keduanya, selain terdengar suara langkah kaki.
Beberapa menit mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di kamar itu.
Ceklek
Meera membuka kamar dan masuk ke dalam bersama Fahri.
"Meera atau kakak dulu yang bersih bersih?"Tanyanya yang masih menundukan kepala.
"Kamu saja"Meera berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian ke baju yang biasa. Sedangkan Fahri duduk di kasur sambil membuka ponsel. Tak berselang lama Meera selesai berganti pakaian, dan ia memakai baju tidur dengan cadar masih menutupi wajahnya. Fahri yang mendengar suara pintu di buka, lantas menatap ke sana dan melihat Meera keluar dari kamar mandi.
"Sudah?"
"Su--dah ka, nanti baju gantinya Meera siapkan di kasur. Meera mau keluar sebentar ambil air minum"ujarnya dan Fahri mengiyakan, baru setelah itu ia masuk ke kamar mandi.
Meera keluar kamar dan menuruni tangga untuk mengambil air, di bawah sudah tidak ada siapa siapa, karena mereka tengah istirahat di kamar masing masing. Selesai mengambil air, Meera kembali ke kamar yang mana sang suami sudah selesai dengan membersihkan dirinya.
"Meer"panggil Fahri ketika mereka malah terdiam di atas kasur dengan duduk bersampingan.
"Ke--napa ka?"Tanyanya gugup.
"Boleh saya membuka cadar kamu?"
Meera terdiam dan Fahri pun kembali berucap.
"Kalau kamu keberatan tidak apa apa, bisa lain waktu kok."
"Boleh, sebentar"
Jantung Fahri berdegup kencang ketika tangan putih itu mulai membuka sedikit demi sedikit, Meera membuka tali cadarnya sambil menundukkan kepala, dan ketika sudah selesai, Meera menatap ke arah sang suami dan---
Deg
Fahri terdiam ketika mata itu bersitubruk dengan mata yang amat cantik, mata itu---
"Masyallah cantiknya"gumam Fahri tanpa sadar.
Meera yang mendengar gumaman Fahri, tiba tiba merasa wajahnya panas seperti kepiting rebus, wajah Meera memerah dan ia menahan diri agar tidak salting.
"Boleh saya lihat rambutnya di gerai?"
"Bo--leh ka"Meera kemudian membuka tali rambutnya, dan rambut itu tergerai cantik di hadapannya.
"Cantik"pujinya lagi.
Meera menahan rasa salting itu sebisa mungkin, hati wanita mana yang tidak terbang ketika di puji cantik oleh suaminya sendiri. Mereka berdua tiba tiba terdiam, tapi tatapan mata Fahri tidak berpaling sedikit pun dari Meera. Tatapan mata Fahri, membuat jantung Meera berdegup kencang seperti tengah berlari jauh.
"Boleh saya minta satu permi--ntaan lagi?"
"Boleh ka"
"Bisa kita lakukan malam ini? Kalau kamu keberatan dan memang belum siapa, saya bisa menunggu sampai kamu siap."
"Meera si--ap lahir batin ka, sudah jadi tugas Meera memberikan hak ini kepada ka--kak"ujar Meera sambil menahan rasa gugupnya.
Fahri semakin mendekat ke arah Meera dan bibir itu mulai mendarat ke kening, sampai ke yang lain. Meera menutup kedua matanya, dan akhirnya malam itu pun terjadi. Tidak ada unsur paksaan bagi keduanya, yang mana mereka sudah siap lahir dan batin untuk menjalani bina rumah tangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Almeera Chairunnisa
Fiksi Remaja📌 FOLLOW SEBELUM BACA📌 Kehidupan itu laksana sebuah buku cerita, ada kisah sedih, kisah bahagia dan ada pula kisah yang membangkitkan. Akan tetapi, ketika halaman baru belum terbuka, maka kisah yg tersimpan di halaman berikutnya hanya akan menjad...
