Adzan subuh berkumandang membangunkan tidur sepasang suami istri yang sedang bergelut di bawah selimut. Meera sedikit demi sedikit mulai membuka mata dan menatap ke arah jam dinding, ia bangun dan meregangkan badannya yang mana badan ia serasa remuk karena semalam.
"Kak"panggil lirih Meera.
Fahri hanya berdehem sebagai jawaban, dan ia belum mau membuka kedua matanya.
"Subuh ka, Meera ke kamar mandi duluan ya"kata Meera yang bangkit dari kasur.
"Hmm"jawab Fahri yang sedikit sedikit membuka kedua matanya.
Meera masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dan mandi wajib. Baru setelah itu, ia berwudhu. Selang beberapa menit, Meera keluar dan gantian Fahri yang masuk ke dalam. Meera mengamparkan dua sejadah, dan menyiapkan baju sang suami.
Shalat sudah mereka laksanakan, seperti biasa Meera mencium tangan Fahri dengan takzim dan di balas dengan ciuman lembut di kening Meera.
"Kakak mau sarapan pakai apa?"Tanya Meera
"Nasi goreng sama teh hangat saja"jawab Fahri.
"Yaudah Meera ke bawah dulu ya"ujarnya dan Fahri menganggukan kepala.
Drap
Drap
Drap
Suara langkah kaki Meera yang menuruni tangga, membuat Mamah Anya serta Bu Dwi menatap ke arah sana. Mereka berdua melihat Meera yang turun dari tangga dengan jalan yang sedikit berbeda seperti biasanya, dan mereka tersenyum penuh arti melihat hal itu.
"Loh kamu kenapa turun, ada masalah nak?"Tanya Bu Dwi.
"Ngga bu, Meera cuma mau bikin sarapan"ujar Meera yang ikut duduk sebentar bersama ibu serta mertuanya.
"Ibu sama mamah Anya sudah bikin sarapan, jadi kamu gak perlu masak lagi"ujar ibu Dwi
"Fahri dimana sayang?"Tanya Mamah Anya.
"Kak Fahri ada di kamar mah"
"Loh kok manggilnya masih kakak, panggil mas dong"katanya dan Meera mengiyakan dengan sedikit canggung.
Berbincang sebentar bersama mereka, setelah itu Meera kembali ke kamar untuk memanggil sang suami sarapan pagi bersama dengan yang lain. Langkah kaki Meera sedikit pelan dan lambat, dan Azam yang kebetulan melihat itu pun tersenyum penuh arti.
"Gercep juga si bos"gumam Azam yang langsung pergi ke meja makan.
Personil sudah lengkap, dan mereka sudah duduk di tempat masing masing. Keluarga inti Fahri hanya ada kedua orang tuanya, sedang adik adiknya sudah pulang sedari subuh tadi, karena ada yang harus kuliah dan bekerja.
"Duhai senangnya pengantin baru"goda Azam dengan nada sedikit bernyanyi.
"Nyenyak ya ka, sekarang kalau tidur"celetuk mamah Anya.
"Pasti mah, kan udah punya istri"tambah Pak Alex.
Fahri hanya diam, sedangkan Meera wajahnya memerah di balik cadar karena godaan godaan mereka. Bukannya apa, Fahri diam karena memang tengah menahan debaran jantungnya yang kian kencang seperti tengah maraton.
"Gak baik di godain terus pengantinnya, nanti mereka malu"ujar Bu Dwi sambil terkekeh pelan.
"Meera siapkan makanan untuk suami mu nak"titahnya dan Meera bangkit dari duduknya untuk menyiapkan sarapan Fahri.
"Kakak mau pakai telur?"Tanyanya yang sudah menyendokan nasi ke piring, dan Fahri menganggukkan kepala.
"Gak mau di tambah lagi ka?"Tanya Meera kembali, yang sudah menyendokkan telur itu.
"Sudah cukup dek"jawab Fahri.
Meera memberikan makanan itu ke Fahri, dan mereka yang ada di sana hanya melihat apa yang kedua pasangan pengantin baru itu lakukan. Setelah Meera duduk kembali, barulah mereka bergantian menyendokan nasi ke piring masing masing, dan sarapan pagi pun di mulai dengan tenang tanpa ada suara satu katapun.
Sarapan pagi selesai, mereka berlima berkumpul di ruang tamu. Azam sudah berangkat kerja, Sedangkan Fahri masih ada cuti satu hari, Pak Alex dan Mamah Anya berpamitan untuk pulang karena mereka pun sama, mempunyai kesibukan tersendiri.
"Mamah pamit ya ka, jangan lupa nanti mampir ke rumah"ujar Mamah Anya.
"Iya hati hati"jawab Fahri seadanya yang menyalami tangan kedua orang tuanya.
"Kami ijin pamit bu, nanti kapan kapan main ke rumah saya ya"ujar Mamah Anya kepada Bu Dwi dan mereka berpelukan sebentar.
"Kamu juga, jangan lupa mampir ke rumah mamah ya sayang"ujarnya yang memeluk Meera.
"Insyallah mah"jawab Meera yang membalas pelukan dari meetuanya, baru setelah itu ia menyalami tangan sang mertua.
Setelah perpisahan sebentar, Fahri, Meera serta Bu Dwi mengantarkan Mamah Anya dan Pak Alex ke depan. Pak Alex sudah menyalakan mobil dan Mamah Anya sudah duduk di sampingnya, baru setelah itu mereka meninggalkan halaman rumah Meera.
Mereka bertiga kembali ke dalam, dan Bu Dwi menyuruh Fahri beserta Meera untuk kembali istirahat di dalam kamar. Baik Fahri maupun Meera belum menentukan akan tinggal dimana, karena hal itu belum mereka bicarakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Almeera Chairunnisa
Teen Fiction📌 FOLLOW SEBELUM BACA📌 Kehidupan itu laksana sebuah buku cerita, ada kisah sedih, kisah bahagia dan ada pula kisah yang membangkitkan. Akan tetapi, ketika halaman baru belum terbuka, maka kisah yg tersimpan di halaman berikutnya hanya akan menjad...
