SELAMAT MEMBACA ❤️
---------------------
"Ku kan ada selalu untukmu
Temani setiap derita
Jadi pelukan ternyaman untukmu."
(Raim Laode - Bersenja Gurau)
●○•♡•○●
Mendapatkan teman dengan mudah, tak pernah sekali pun terlintas dalam pikiran seorang Sapta Sadana. Meski sudah berdamai dengan masa lalunya, trauma terkadang muncul secara tiba-tiba. Bahkan, sebelum berteman dengan Savio dan juga Dafi semenjak masuk SMA, Sapta lebih memilih untuk menjadi orang pendiam yang setiap waktu istirahatnya hanya pergi ke perpustakaan seperti yang sempat ia lakukan dulu. Namun, kali ini berbeda. Kehadiran Savio dan juga Dafi, seolah menjadi sumber semangat baru Sapta dalam menjalani kehidupannya.
"Mas Sena, nanti pulang ngampus jam berapa?" tanya Sapta yang baru saja keluar dari kamar, kemudian ikut duduk melingkar untuk sarapan bersama kelima kakaknya.
"Nggak tahu. Kenapa emang?" tanya Sena.
"Hari ini, aku mau ngajak teman-teman aku kesini. Mau ngerjain tugas bareng. Nggak pa-pa kan, Mas?" tanya Sapta. Kali ini, ia menatap Mas Abi.
"Ya boleh, dong! Savio sama Dafi yang waktu itu kamu ceritain, bukan?" tanya Mas Abi. Sapta mengangguk.
"Ya udah. Nanti, kunci rumahnya Mas simpen di bawah pot yang depan garasi, ya," kata Sena.
Sapta mengangguk. "Oke. Eh, bentar. Mas Dika kemana?" tanyanya ketika menyadari kakak keempatnya itu tidak ada di tengah-tengah mereka.
Mas Raga menjawab, "Udah pergi ke kantor."
"Kok mobilnya masih ada?"
"Iya, tadi di jemput sama temannya," balas Kara.
Sapta mengangguk paham, kemudian mulai menyendokkan nasi dengan potongan ayam goreng yang memang sudah sengaja Mas Raga siapkan.
"Nanti, kalau teman-temannya datang, itu ada sirup sama buah-buahan di kulkas. Kamu bikin itu sop buah buat teman-teman kamu nanti. Sama kalau mau makan, ajak makan aja. Banyak frozen food dalam freezer. Kamu goreng aja sendiri. Udah bisa, kan?" Mas Abi menatap Sapta, seraya membereskan piring sisa makannya.
"Udah, dong. Kalau masak kayak gitu doang nggak bisa, apa aku nggak diamuk Mas Dika?"
Mendengar itu, Kara tiba-tiba tertawa. "Iya, lagi. Udah tipis banget itu kesabaran Mas Dika pas ngajarin elu masak. Untung belom abis."
"Ya udah. Berhubung Mas Dika nggak ada, kalian berangkat masing-masing dulu, ya. Nggak pa-pa, kan?" tanya Mas Abi.
"Mas, kan kita tuh udah biasa begini. Santai aja, lagi," kata Kara seraya membawa piring kotor ke wastafel untuk ia cuci nanti setelah pulang sekolah.
●○•♡•○●
"Woy, Ta!" teriak Dafi dari belakang Sapta, yang tengah menghampiri Sapta dengan setengah berlari.
"Lah? Tumben amat lu pagi. Biasanya juga nyangkut dulu di kantin."
"Iya, nih. Lagi males banget gue ke kantin. Gue nggak nafsu makan. Lagi patah hati," kata Dafi dengan napas yang tersengal-sengal seraya merangkul Sapta.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN THE END ✔
Romance"Na, air laut aja ada pasang surutnya. Hujan deras juga ada redanya. Hidup ini tuh dinamis, Na. Nggak diem di satu tempat, dan nggak jalan di satu arah doang. Munafik banget kalo gue bilang nggak capek. Lu capek, gue capek, Mas Abi capek. Bahkan, se...
