53. Sampai Akhir

2.8K 266 63
                                        

SELAMAT MEMBACA ❤️

---------------------

"Hening tak bersuara bagaikan hatiku
Terdiam bisu kehilangan dunia
Kuharap semua tak nyata
Menyadarimu tlah jauh

Ku bagaikan langit yang tiada hujan
Mungkin tlah kering air mata ini
Kehilanganmu, aku tak sanggup
meniti jalan di dunia."

(Shanna Shannon - Kehilanganmu)

●○•♡•○●

"Jan? Kamu ngapain sendirian disini?" tanya Mas Abi ketika melihat Jantera seperti orang yang kebingungan.

"Mas? Ya Allah. Aku nyari-nyari Mas dari tadi. Mas darimana aja?" tanya Jantera.

Mas Abi malah tertawa. Rasanya, lucu sekali melihat wajah Jantera yang terbiasa gagah dan tegas, saat itu malah terlihat seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

"Kok Mas malah ketawa? Aku udah takut banget ini!"

Mas Abi yang melihat Jantera seperti akan menangis pun langsung mendekati Jantera, kemudian merangkulnya. "Duduk dulu, Jan."

"Ada apa, Jan?" tanya Mas Abi lembut ketika mereka sudah duduk di satu kursi panjang yang terbuat dari kayu.

"Mas, aku baru sadar kalau Sapta sama Kara tuh bisa sedewasa itu. Mereka ternyata bisa kok ngelakuin hal-hal yang biasanya nggak mereka lakuin. Kemarin, Kara cuci baju, terus Sapta yang jemur bajunya. Mandiri juga ternyata mereka," tutur Jantera.

Mas Abi terkekeh. "Kan mereka emang bukan anak kecil lagi, Jan. Kara tahun depan udah kuliah, Sapta aja sekarang udah SMA. Mungkin, karena jarak kelahiran mereka jauh banget sama kita, makannya kita tuh selalu nganggap mereka masih anak kecil."

Jantera mengangguk. Ada keterdiaman panjang diantara mereka. Hanya desauan angin yang terdengar, juga burung-burung yang bersahutan seraya terbang dari satu pohon, ke pohon yang lain. Jantera beranjak, kemudian menghirup udara di sekelilingnya.

"Jan, gimana keadaan rumah?"

"Nggak begitu baik, Mas. Tapi, masih bisa terkendali, kok."

Mas Abi mengangguk, kemudian mengusap rambut Jantera. "Jan, kan rumah udah Mas lunasin, jadi kalian nggak perlu berantem, ya?"

Mas Abi memang memiliki tabungan yang cukup. Dan entah kenapa, saat itu Mas Abi memilih menghabiskan uang tabungannya untuk melunasi rumah alih-alih untuk pendidikan Kara dan Sapta. Itu pun tentu saja hasil berunding dengan keenam adiknya.

"Iya, Mas. Lagian apa yang mau diberantemin coba," kata Jantera.

Mas Abi terkekeh. "Ya pokoknya tinggal kalian rawat aja itu rumah! Rawat yang baik! Rajin bersih-bersih. Kalau ada yang rusak sedikit, langsung perbaiki. Jangan tunggu semuanya jadi parah!" peringat Mas Abi.

"Tenang aja, Mas. Mas lupa ya kalau punya adik-adik yang hebat?" tanya Jantera.

Mendengar itu, Mas Abi tertawa. "Nggak, dong. Yang bener aja kamu, Jan! Masa Mas lupa sama adik-adik Mas yang kelakuannya subhanallah bikin Mas ngelus dada mulu tiap hari," kata Mas Abi.

IN THE END ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang