SELAMAT MEMBACA ❤️
---------------------
"Hatiku seberat dunia
Semua bentuknya kau rayakan
Menangis pun kau penuh tenang ku di buai."
(Nadin Amizah - Semua Aku Dirayakan)
●○•♡•○●
Dari banyaknya jalanan terjal yang dilewati, berbagai macam cobaan hidup yang menggunung pun mampu didaki. Meski harus bertarung dengan air mata yang seolah tak memiliki henti, pada akhirnya mampu membawa ketujuh bersaudara itu pada titik saling berterimakasih pada diri.
Semenjak Mas Abi kembali bekerja, Jantera dan Mas Raga juga sudah memiliki pekerjaan yang layak, membuat perekonomian keluarga mulai stabil. Ditambah lagi, Dika kini juga sudah bekerja. Dika bekerja sebagai customer service di salah satu perusahaan besar. Gajinya sebagian Dika tabung untuk keperluan pribadi, dan sebagiannya lagi Dika percayakan pada Mas Raga untuk biaya sekolah Kara dan juga Sapta yang sudah mulai mendaftar ke SMA yang menjadi pilihannya.
Semenjak Dika bekerja, semua keperluan rumah tangga masihlah menjadi tanggung jawab Mas Abi, Mas Raga, dan juga Jantera. Namun, untuk biaya sekolah Kara dan juga Sapta, Dika mengambil alih, dan menyanggupi untuk membiayai kedua adiknya itu selama ia masih mampu. Dan akan terus ia usahakan agar ia selalu mampu.
Meski masih mahasiswa, Sena tidak selalu mengandalkan uang pemberian dari semua kakaknya. Sena masuk melalui jalur beasiswa. Sama seperti Dika. Bahkan, Sena pun selalu mengikuti kegiatan di luar kampus demi menghasilkan uang meski tak sebanyak kakak-kakaknya yang bekerja. Namun, sesekali, Dika memberi Sena uang saku lebih. Dika tahu betul jika kebutuhan mahasiswa sangatlah banyak. Dika sangat paham akan hal itu. Karena, ia pun pernah merasakannya.
Tak ada yang berubah dari mereka. Mereka masih ketujuh bersaudara yang saling menjaga dan menyayangi satu sama lain. Yang berbeda hanyalah jiwa dan pemikiran mereka yang semakin lama, semakin ikut bertumbuh seiring berjalannya waktu.
"Barang-barang yang sekiranya nggak penting, di buang aja, Dek!" titah Mas Raga pada Sapta.
"Nanti aja. Biar aku pilih-pilihin disana. Aku nggak mau ada yang ketinggalan. Semua barang disini berharga," kata Sapta.
Setelah melalui diskusi, dan juga tentu saja ada sedikit perdebatan, Mas Abi pada akhirnya mengambil rumah di sebuah perumahan. Bukan perumahan mewah. Tapi, setidaknya Mas Abi bisa membawa adik-adiknya itu ke sebuah rumah dan lingkungan yang lebih layak dari yang mereka tinggali dulu.
Dan atas persetujuan semua adiknya, rumah yang selama ini mereka tempati itu pada akhirnya akan di kontrakan. "Buat tabungan kita, Mas. Kita nggak tahu kan kedepannya bakal kayak gimana. Seenggaknya, kita masih punya pemasukan kalau rumah ini dikontrakan daripada dijual," begitulah saran dari Mas Raga saat itu. Dan semuanya pun setuju.
●○•♡•○●
"Mas, ini rumah kita?" tanya Sapta pada Mas Abi, ketika sampai di depan rumah baru mereka.
Mas Abi yang tengah menurunkan barang-barang mereka dari atas mobil pick-up pun mengangguk. "Iya, Dek. Kita tinggal disini sekarang."
Sapta hanya bisa mematung. Apakah ini mimpi? Rumahnya kini sangat layak untuk mereka tinggali bertujuh. Wajar jika Sapta terlihat tidak percaya. Karena, memang hanya Sapta dan Sena yang belum tahu rumah baru mereka. Dika dan Jantera sudah beberapa kali bolak-balik ke rumah ini untuk mengecek. Dan ini, pertama kalinya Sapta dan Sena kesini.
Sementara Sapta tengah melihat-lihat sekitar rumah, Mas Abi, Jantera, dan juga Sena tengah menurunkan barang-barang mereka. Kara, Dika, dan juga Mas Raga masih di rumah lama mereka untuk mengambil barang-barang mereka yang masih tersisa.
Jika dulu waktu libur mereka tidak menentu, syukurlah karena sekarang, jadwal kerja mereka semua memang mendapatkan libur pada hari Minggu. Dan mereka akan menggunakan waktu itu untuk berkumpul bersama.
●○•♡•○●
Ketika sudah selesai menurunkan semua barangnya, Mas Abi, Jantera, Sena dan juga Sapta masuk ke dalam rumah baru mereka. Ruang depannya masih kosong. Belum ada apa-apa. Jika dulu rumah mereka hanya memiliki satu kamar, kini rumah baru mereka memiliki tiga buah kamar yang masing-masing sudah ada tempat tidurnya.
Mas Abi dan juga Dika lebih dulu membeli tiga buah kasur berukuran besar untuk ditempatkan di masing-masing kamar. Sebagian memakai uang tabungan Mas Abi, dan sebagian lagi patungan antara Mas Raga, Jantera, dan juga Dika.
"Kamarnya bagus banget," kata Sapta menatap kagum.
"Ini benar-benar rumah yang sehat. Semua kamarnya kena sinar matahari," katanya lagi ketika selesai melihat-lihat kamar.
"Waaahh ... sekarang kamar mandinya udah di dalam rumah! Kita udah punya kamar mandi sendiri. Nggak perlu lagi ganti-gantian sama orang lain!" seru Sapta. Sapta benar-benar tidak berhenti mengelilingi seisi rumah.
Bahkan, sepertinya ia lupa dengan kalimat, "Aku itu udah dewasa ya, Mas, Bang!" kepada keenam kakaknya.
Mas Abi hanya bisa terkekeh mendengar celotehan adik bungsunya itu. Sementara, Jantera dan Sena tertidur di ruang tamu yang masih berantakan, dengan napas yang masih tersengal-sengal.
Bayangkan saja. Jantera dan Sena harus mengangkut dua buah lemari besar dari atas mobil, hingga masuk ke dalam kamar. Tak heran, jika kedua adiknya itu kelelahan. Sedangkan, si bungsu masih asyik berkeliling.
●○•♡•○●
"Selamat siang."
Terdengar suara ketukan pintu, yang pintunya memang sengaja dibuka.
Sena yang mendengar itu pun merasa terusik, lalu perlahan membuka matanya ketika melihat ada seseorang yang berdiri diambang pintu.
"Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu waktunya."
"Iya. Ada yang bisa di bantu, Pak?" tanya Sena seraya bangkit dan berjalan ke arah pintu.
"Apa benar ini dengan kediaman Bapak Mahardika Jagat?" tanyanya.
Sena mengangguk. "Betul, Pak. Ada apa ya, Pak?" tanya Sena bingung.
Mas Abi yang mendengar itu pun berjalan ke arah ruang tamu, dengan di ekori oleh Sapta.
"Ada apa, Na?" tanya Mas Abi.
"Ini, Mas. Ada yang nyariin Mas Dika," kata Sena.
"Saya kakaknya. Ada keperluan apa ya, Pak?" tanya Mas Abi.
-
-
- bersambung ...
guys!!! mas abi berhasil bawa adik-adiknya pindah ke rumah yang lebih layak!😭❤️
bilang makasih sama Mas Abi yang udah berjuang sampe sejauh ini! ❤️
makasih juga buat kalian yang menemani perjalanan mereka sampe di titik ini 🫶🏻
see you next part~
Love, Grace ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
IN THE END ✔
Romantika"Na, air laut aja ada pasang surutnya. Hujan deras juga ada redanya. Hidup ini tuh dinamis, Na. Nggak diem di satu tempat, dan nggak jalan di satu arah doang. Munafik banget kalo gue bilang nggak capek. Lu capek, gue capek, Mas Abi capek. Bahkan, se...
