51. Seketika Hilang

2.9K 265 27
                                        

SELAMAT MEMBACA ❤️

---------------------

"Belum sempat ku membagi kebahagiaanku
Belum sempat ku membuat dia tersenyum
Haruskah ku kehilangan tuk kesekian kali?
Tuhan, ku mohon jangan lakukan itu."

(Agnes Monica - Rapuh)

●○•♡•○●

Jantera, Dika, Sena, Kara, dan juga Sapta berlarian di lorong rumah sakit. Saat menerima telepon tentang kondisi Mas Abi dan Mas Raga, tanpa persiapan apa pun mereka langsung ke rumah sakit yang dimaksud. Mereka hanya sempat mencuci muka saja agar menghilangkan sisa-sisa bedak dari bermain game. Itu pun saling berebut. Bahkan, Dika mencuci wajahnya di wastafel, dan Kara menggunakan air mineral yang ada di dalam kulkas. Tidak peduli jika dinginnya air itu membasahi wajahnya malam itu.

"Aku nggak suka ya kayak gini," kata Sapta dengan napas yang tersengal-sengal akibat berlari.

Kara yang melihat adiknya itu pun berhenti sejenak, lalu menuntun Sapta untuk duduk. "Duduk dulu sini sama Abang," kata Kara.

Kara membiarkan ketiga kakaknya itu menemui Mas Abi dan Mas Raga. Kara memilih untuk menemani Sapta. Kara tidak ingin Sapta juga malah jatuh sakit disaat-saat seperti ini.

"Abang, Mas Abi sama Mas Raga gimana, Bang? Mas Abi sama Mas Raga mau beli nasi goreng. Kenapa pulangnya malah kesini, bukan ke rumah?"

Tanpa sadar, air mata Sapta menetes. Kara yang melihatnya pun lantas menghapus jejak air mata di pipi adiknya itu.

"Nggak pa-pa, Ta. Mas Abi sama Mas Raga nggak pa-pa. Itu Mas Jan, Mas Dika, sama Mas Sena lagi ngurus-ngurus semuanya. Kamu jangan takut! Ada Abang disini. Abang nggak bakal kemana-mana," kata Kara.

Sapta yang memang sudah tak mampu lagi menahan tangisnya pun langsung menarik Kara, lalu memeluknya. "Kalau mereka kenapa-kenapa gimana, Bang?"

"Nggak, Ta. Nggak bakal. Percaya sama Abang!" kata Kara seraya mengeratkan pelukannya pada Sapta. Padahal, ia sendiri pun tak tahu bagaimana kondisi kedua kakaknya itu.

●○•♡•○●

Hati Jantera, Dika, dan Sena seolah hancur berkeping-keping melihat keadaan Mas Abi dan Mas Raga. Keduanya masih dalam penanganan medis. Sena bahkan tidak sanggup melihat wajah Mas Raga yang lebam-lebam.

"Nak Jantera, Bapak minta maaf karena ini harus terjadi sama kalian." Pak Amir langsung memeluk Jantera. Pak Amir, pemilik warung langganan mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas Mas Abi dan Mas Raga sebelum semuanya datang.

Jantera menepuk pelan punggung Pak Amir. "Kenapa harus Bapak yang minta maaf? Bapak nggak salah. Harusnya, saya yang bilang makasih karena Pak Amir mau mengurus Mas Abi dan Mas Raga," tutur Jantera.

"Maaf, Pak Amir. Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Dika pelan.

"Bapak nggak tahu bagaimana awalnya. Tapi, yang Bapak tahu, ketika semua orang lagi mengerubungi korban bentrokan warga sambil nunggu ambulan, Bapak melihat Mas Abi dan Mas Raga juga sebagai korbannya. Bapak langsung memutuskan buat jadi penanggung jawab mereka berdua sebelum kalian datang."

IN THE END ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang