56. Senyap

2.4K 254 41
                                        

SELAMAT MEMBACA ❤️

---------------------

"Kamu dan segala kenangan
menyatu dalam waktu yang berjalan

Dan aku kini sendirian
menatap dirimu hanya bayangan."

(Maudy Ayunda - Kamu dan Kenangan)

●○•♡•○●

Jika biasanya selalu Mas Abi dan Mas Raga yang bangun paling awal, kali ini Kara yang bangun terlebih dahulu ketika mendengar suara adzan subuh dari masjid sekitar komplek mereka. Awalnya, Kara ingin membangunkan Sapta. Namun, ia mengurungkan niatnya dan lebih memilih keluar kamar saja untuk membangunkan Dika terlebih dahulu.

Saat membuka pintu kamarnya, Kara sedikit heran karena melihat Dika yang malah meringkuk di depan TV dengan hanya berselimutkan sarung alih-alih tidur di kamarnya. Kara menyalakan lampu, dan melihat Dika yang merasa terusik dengan cahaya yang tiba-tiba menyambar.

"Mas, ayo bangun! Kita sholat subuh berjamaah. Kata Mas Abi, kita kan harus sholat berjamaah kalo lagi bareng-bareng," ucap Kara.

"Iya, bentar lagi. Bilangin Mas Abi, Mas bentar lagi bangun. Lu aja sana duluan wudhunya! Bangunin dulu adek lu sekalian!" titah Dika dalam keadaan setengah sadar.

Kara terdiam. Jika bisa, Kara akan langsung mengadukan Dika dengan alasan 'tidak ingin bangun' pada Mas Abi, dan menciptakan huru-hara baru sepagi itu. Nyatanya, pada siapa kini ia mengadu? Mas Abi sudah tiada. Dika yang baru saja menyadari apa yang ia katakan pun seketika langsung terbangun, dan mendapati Kara yang kini ada di hadapannya.

"Mas ..."

"Iya, Mas baru sadar. Maaf," kata Dika seolah mengerti kemana arah ucapan Kara seraya mengusap pelan pipi adiknya itu. Dika bisa melihat jika mata adiknya itu sudah mulai memerah. Namun, sebisa mungkin Kara menahannya.

"Bangunin Sapta, Dek! Mas mau bangunin Mas Sena. Kita sholat berjamaah. Kita doakan Mas Abi, dan mengucap syukur karena Mas Raga udah bangun," kata Dika.

"Mas Raga udah bangun?!" Kali ini mata Kara terlihat berbinar.

Dika mengangguk. "Iya. Mas Jan yang bilang semalam. Udah, ayo siap-siap sekarang!"

●○•♡•○●

Setelah memberitahu Dika bahwa Mas Raga sudah bangun, Jantera benar-benar menghabiskan waktunya bersama Mas Raga. Kondisi Mas Raga sudah sangat membaik. Bahkan, hingga dinihari pun Jantera memilih untuk mendengarkan Mas Raga bercerita tentang apa pun itu. Ketika Mas Raga tertawa, hati Jantera seketika seperti tertusuk anak panah tak kasat mata. Jika Mas Raga tahu yang sebenarnya, apakah tawanya yang kemarin sempat hilang itu akan kembali lenyap?

"Gimana adik-adik kamu yang lain, Jan? Nggak bikin rusuh kan mereka selama Mas sama Mas Abi sakit?" tanya Mas Raga.

Jantera menggeleng. "Nggak, Mas. Mereka mandiri, kok," balas Jantera singkat.

Mas Raga menghela napas lega. "Syukur lah, Jan. Kasihan nanti Mas Abi kerepotan sendirian kalau ngurusin mereka. Apalagi Sapta sama Kara tuh. Sedangkan, Mas masih disini. Mas udah khawatir banget Mas Abi kenapa-kenapa. Karena, seinget Mas tuh Mas Abi di pukul balok kayu yang lumayan gede. Nekat banget deh Mas Abi ngelindungin Mas sampe sebegitunya."

IN THE END ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang