SELAMAT MEMBACA ❤️
---------------------
"Kita beranjak dewasa
Jauh terburu seharusnya
Bagai bintang yang jatuh
Jauh terburu waktu."
(Nadin Amizah - Beranjak Dewasa)
●○•♡•○●
•• diantara banyaknya kesulitan yang selalu kuhadapi sendirian, nyatanya Tuhan telah mengirimkan enam malaikat berwujud manusia untuk menemaniku dalam kesunyian ••
Langit pagi yang masih membuka tirai gelapnya, bersahutan dengan suara burung pipit yang beterbangan bebas seolah tak memiliki beban kehidupan, juga aroma nasi goreng buatan Mas Raga yang tajam, menusuk ke indra penciuman siapa saja yang berada di sekitarnya dan mendominasi seisi rumah yang sempit itu.
Di sebuah ruangan kecil, dengan beralaskan kasur yang sudah tipis dan juga karpet yang sudah usang, terlihat ada tiga manusia yang masih nyaman berada di alam bawah sadarnya. Tidak terusik sama sekali dengan suara-suara bising yang sedari pagi buta menggema di ruangan itu. Dika, Kara, dan Sapta tidur dengan posisi yang mampu menghangatkan hati siapa saja yang melihatnya. Dengan Sapta yang tertidur di lengan Dika sebagai bantal, dan Kara yang tidur seraya memeluk Dika dari belakang.
Meski rumah mereka terbilang sangat sempit dan bahkan tidak layak di sebut rumah, namun untuk masalah kebersihan dan kerapihan, Mas Raga selalu menjadikannya nomor satu. "Baju bekas pakai, kalau belum boleh di cuci, lipat masing-masing, terus simpan di keranjang itu! Jangan di gantung! Nanti banyak nyamuk!" begitulah gerutunya jika adik maupun kakaknya itu berulah lagi.
"Jan, itu adik-adik kamu udah pada sholat subuh belum? Ini Kara sama si Adek kok tidur disini, sih? Kambuh lagi nanti asmanya!" kata Mas Abi yang baru saja pulang dari membuang sampah di tempat penampungan, yang berada di sudut kampung.
"Nggak tahu, Mas. Padahal, semalem yang tidur disini ya biasa cuma kita-kita aja. Kayaknya, mereka pindah, deh. Mas nggak ngeh emang?" tanya Jantera.
Mas Abi menggeleng. "Tolong bangunin, Jan! Tanyain udah pada sholat subuh belum? Udah jam setengan enam lebih ini. Mas mau bantuin Mas Raga dulu di dapur," kata Mas Abi seraya beranjak ke dapur, dengan membawa dua buah tempe dalam keresek bening di tangannya.
Setelah Mas Abi beranjak, Jantera mencoba membangunkan ketiga adiknya itu. "Bangun! Mas Abi nanyain udah sholat subuh belom?" Jantera mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Dika. Namun, hanya di balas dehaman oleh Dika.
"Bangun, Cuk! Jangan buat Mas Raga berkicau di pagi hari, dah! Burung mah masih merdu. Lah Mas Raga kalo udah ngomel, knalpot sember punya motor butut Bang Jaja aja kalah!" kata Jantera. Sena yang melihat itu pun hanya bisa menahan tawanya, kemudian beranjak menyusul Mas Abi ke dapur.
"Apaan, sih?!" gerutu Dika dengan suara seraknya.
"Bangun!"
Dika hanya bisa menatap langit-langit kamar untuk mengumpulkan nyawanya yang sebagian masih tertinggal di alam mimpi. Setelah dirasa memungkinkan untuk bangun, Dika dengan pelan menarik lengannya dari kepala si bungsu, lalu menurunkan pelan lengan Kara yang masih melingkar di pinggangnya.
"Nggak udah di bangunin ini bocah dua! Udah sholat subuh tadi bareng gue," kata Dika.
"Ini kok si Adek tidur disini, sih? Kata Mas Abi, asmanya kambuh lagi nanti," ujar Jantera.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN THE END ✔
Romance"Na, air laut aja ada pasang surutnya. Hujan deras juga ada redanya. Hidup ini tuh dinamis, Na. Nggak diem di satu tempat, dan nggak jalan di satu arah doang. Munafik banget kalo gue bilang nggak capek. Lu capek, gue capek, Mas Abi capek. Bahkan, se...
