63. Semua Punya Makna (END)

3.7K 233 173
                                        

SELAMAT MEMBACA

---------------------

"Hari-hari kujalani
harap ada yang bermakna

Kembalikanlah senyumku yang pergi
Secepat seperti dilahirkan lagi

Tiada yang meminta seperti ini
Tapi, menurutku Tuhan itu baik
Merangkai ceritaku sehebat ini."

(Feby Putri - Usik)

●○•♡•○●

Menelisik jauh sebelum berada di titik ini, kehidupan yang dijalani tujuh bersaudara ini memang penuh dengan lika-liku, luka, dan juga kehilangan yang seolah sudah menjadi teman akrab mereka. Jalan yang mereka lalui pun tidak sepenuhnya mulus dan lurus. Harus ada jiwa yang meronta, batin yang berteriak, dan juga raga yang terseok untuk membayar segala yang mereka nikmati saat ini.

Dan yang lebih menyakitkan, kehilangan Mas Abi adalah sebuah perjalanan hidup yang harus mereka terima dalam proses pendewasaan.

Sena termenung di meja makan. Kehidupannya sebagai seorang mahasiswa yang berjuang hingga akhir pun telah ia selesaikan. Sena menatap lurus ke arah kamar Mas Raga yang memang selalu dibuka jika pagi hari. Semenjak Mas Abi pergi, yang tidur bersama Mas Raga adalah Jantera. Bapak tidur bersama Dika dan juga Sena. Selain kamarnya yang memang lebih luas, kehadiran bapak juga meminimalisir trio recetnya Mas Raga itu untuk berisik saat malam hari. Dika dan Jantera sudah sepakat akan patungan membangun ruangan baru untuk kamar bapak, agar bapak juga bisa leluasa dan memiliki privasi.

Kalau urusan Kara dan Sapta, tentu saja mereka tidak bisa di pisahkan. Kecuali, ketika salah satunya tengah flu atau demam. Apalagi, Kara itu lebih rewel dibanding Sapta kalau lagi sakit. Mas Raga akan memaksa mereka agar tidurnya terpisah. Bukannya apa-apa. Tubuh Kara dan Sapta itu benar-benar rentan terhadap virus. Mereka akan cepat sekali tertular jika salah satu orang rumah ada yang tengah sakit. Dan yang sakit, pasti selalu tidur bersama Mas Raga. Mas Raga itu orangnya sensitif terhadap suara. Mendengar suara sedikit saja, Mas Raga bisa langsung bangun. Itulah kenapa Mas Raga lebih memilih dirinya saja yang merawat adik-adiknya yang tengah sakit.

Sena menatap dengan nanar ruangan yang tetap diisi oleh dua orang, namun terkesan kosong dan hampa. Biasanya, ada Mas Abi yang tengah membongkar isi lemari, mengganti sprei, atau mendatangi satu-persatu kamar mereka hanya untuk mengambil cucian kotor, "Mana baju kotornya? Tuh, kan. Kalian tuh kebiasaan ditumpukin di kamar! Kalian emang nggak capek diomelin mulu sama Mas Raga? Mana sini baju kotornya! Kumpulin di atas mesin cuci!" perintah Mas Abi. Masih terdengar sangat jelas suara Mas Abi yang jarang sekali marah, tapi sekalinya kesal ya Mas Abi ngomel-ngomel sendiri.

"Mas, andai Mas bisa hidup sehari lagi, aku ikhlas kok meski pun Mas Abi mau ngomel-ngomelin baju kotor lagi," batin Sena. Bahkan, laptopnya yang menyala pun tidak ia hiraukan. Selama menunggu wisuda, Sena memang sudah rajin mencari lowongan pekerjaan agar ketika ia lulus, ia sudah memiliki pekerjaan.

"Bengong mulu! Kesambet setan baru tahu rasa lo!" sembur Dika yang baru saja pulang bekerja. Mas Raga, Jantera, dan juga Dika kembali bekerja setelah tujuh hari kepergian Mas Abi. Dan kini, tak terasa sudah hampir satu bulan Mas Abi pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.

"Nggak mungkin. Orang setannya ini nyapa gue, kok," sahut Sena.

Dika yang biasanya mengumpat, malam itu hanya menggeleng saja. Ia menyimpan tas kerjanya di atas meja, lalu menyampirkan jasnya di belakang kursi. Dika membuka kacamata yang selama seharian penuh bertengger di hidungnya, kemudian mengusap kedua matanya. Ketara sekali jika ia kelelahan luar biasa.

IN THE END ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang