61. Satu Langkah Kecil

2.2K 210 23
                                        

SELAMAT MEMBACA ❤️

---------------------

"Perang telah usai
Aku bisa pulang

Kubaringkan panah
Dan berteriak menang."

(Nadin Amizah - Di Akhir Perang)

●○•♡•○●

Kehadiran bapak benar-benar terlalu mendadak untuk Sapta dan juga Kara. Meski Sapta dan Kara diberi kesempatan dan juga kebebasan untuk mengemukakan pendapat mereka, mereka tetap bingung harus memutuskan apa. Tapi, mereka bersyukur karena merasa dihargai oleh keempat kakak mereka. Mereka berdua pun berhak bersuara, dan juga berhak untuk didengar. Mas Raga, dan yang lainnya tidak ingin memaksakan ego dan kehendak mereka sendiri. Mas Abi pernah bilang, jika segala sesuatu itu harus diselesaikan dengan musyawarah. Tidak dengan saling mencela, apalagi hingga meretakkan segala yang sudah terjaga. Semuanya harus diselesaikan dengan kepala dingin, dan juga sebisa mungkin menentukan jalan tengahnya yang disetujui oleh semuanya.

Sayangnya, suara yang tenang dan selalu mendamaikan itu tidak akan pernah terdengar lagi dimana pun untuk selama-lamanya.

"Abang? Kenapa diem aja?" tanya Sapta yang sedari tadi melihat Kara yang hanya menunduk. Bahkan, ia pun masih memakai seragam sekolahnya.

"Ta, menurut kamu gimana tentang ini?"

Mendengar pertanyaan dari kakaknya itu, sontak membuat Sapta juga tiba-tiba bergeming. Ia juga bingung harus menjawab apa. Bapak yang selama ini ia cari-cari, kini sudah berada dalam jangkauannya. Namun, ia juga merasa bingung atas perasaannya sendiri yang memang seolah tak memiliki ikatan batin apa pun dengan bapak.

Kara bangkit, lalu membuka jaket dan seragam sekolahnya. Ia berjalan ke arah lemari, kemudian mengambil sebuah kaos berwarna cokelat yang warnanya sudah sedikit memudar. Kaos polos yang dibelikan Mas Abi ketika ia baru saja masuk SMA.

"Abang sebenarnya lega karena sekarang kita punya bapak. Tapi, entah kenapa perasaan Abang biasa aja. Nggak ngerasa gimana-gimana. Kayak ... oh, gini ya punya bapak. Udah, gitu aja. Abang bingung gimana rasanya dekat sama bapak. Apalagi, pas dulu Abang tahu segimana dekatnya Tania sama papanya. Kok bisa mereka sedekat itu?" ucap Kara.

Kini tangannya membuka pintu lemari milik Sapta, lalu membawa satu buah kaos oblong warna hitam yang sering adiknya pakai itu. "Ganti dulu baju kamu!" imbuhnya seraya melempar pelan baju itu pada Sapta.

Sapta menurut, kemudian mengganti bajunya dengan yang sudah disiapkan kakaknya itu. "Mungkin emang karena kita nggak pernah ngerasain, Bang. Jadinya canggung banget. Aku malah ngerasa kalau bapak aku itu Mas Abi. Padahal, Mas Abi kan kakak kita. Sama kayak aku ke Mas-mas yang lain. Bahkan, ke Abang juga," terang yang lebih muda.

Kara menarik napas panjang, kemudian kembali duduk di pinggiran kasur sambil mengecek ponselnya. Padahal, tidak akan ada lagi yang mengiriminya rentetan pesan random. Tania, seseorang yang sering melakukannya pun sudah tiada.

"Bang, apa kita punya pilihan buat nolak?" tanya Sapta tiba-tiba.

"Punya. Kakak-kakak kita nggak seegois itu, Ta. Kenapa? Kamu nggak setuju bapak tinggal disini?" tanya Kara.

Sapta menggeleng. "Nggak gitu, Bang. Aku cuma masih bertanya-tanya aja. Kenapa bapak pergi selama itu?"

"Kita bisa tanya Mas Raga! Ayo!" Kara tiba-tiba langsung menarik lengan Sapta. Benar juga apa yang dikatakan oleh adiknya itu. Mereka belum tahu alasan bapak pergi.

IN THE END ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang