"Na, air laut aja ada pasang surutnya. Hujan deras juga ada redanya. Hidup ini tuh dinamis, Na. Nggak diem di satu tempat, dan nggak jalan di satu arah doang. Munafik banget kalo gue bilang nggak capek. Lu capek, gue capek, Mas Abi capek. Bahkan, se...
"Mungkin hanya sedikit rasa yang kini tersisa Tak mungkin menyembuhkan luka jiwa Karena, dirimu pergi Selamanya ..."
(Ayumi Ara - Seandainya)
●○•♡•○●
Selama satu kelas dengan Tania, dibalik dingin dan angkuhnya Kara, dia sebenarnya diam-diam memerhatikan Tania. Meski tak sepenuhnya tahu, tapi setidaknya Kara memiliki gambaran sederhana tentang Tania. Tentang bagaimana posisinya di keluarga, tentang makanan kesukaannya, warna kesukaannya, bahkan hingga obrolan-obrolan centil pun Kara pernah mendengarnya sekilas.
Bagaimana tidak? Bangku Tania tepat berada di depan Kara. Dan terkadang, Tania menggoda Kara dengan melirik ke belakang ketika Kara tengah mengerjakan tugas. "Kara, kamu hari ini ganteng banget!" itu yang selalu Kara dengar setiap hari.
Awalnya, Kara merasa risih. Namun, semakin lama, Kara semakin terbiasa dengan perlakuan Tania yang seperti itu. Pikirnya, Tania memang anak yang ekspresif. Terlihat ketika ia sedang bergaul bersama teman-temannya. Meski pun terkesan centil, Tania itu merupakan murid yang berprestasi. Dalam rangking 5 besar, nama Tania pasti selalu ada. Dan tidak dapat dipungkiri, Kara kagum dalam hal itu.
Namun, akhir-akhir ini Tania terlihat berbeda. Tak ada lagi Tania yang centil seperti biasanya. Tania terkesan murung, dan air wajahnya pun terkesan sendu. Bahkan, ketika Kara mengiriminya chat pun Tania membalasnya dengan terkesan dingin. Kara menyadari itu. Namun, tidak terlalu memedulikan. Bukankah perasaan galau dan juga sakit itu memang manusiawi? Mungkin, Tania sedang berada di fase itu. Begitulah pikir Kara
Namun, benteng keras yang di bangun oleh Kara seolah seketika runtuh saat itu juga oleh satu pesan. Saat Kara tengah mengecek kembali buku pelajaran yang akan ia bawa ke sekolah, Kara mendengar banyak sekali rentetan pesan yang masuk ke ponselnya. Ada satu nama yang mencuri antensi Kara, dan membuatnya membuka pesan itu lebih dulu dibanding yang lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kara seketika mematung membaca pesan itu. Tidak ingin memercayai apa yang ia baca. Terlebih lagi, Tania membuat citra dirinya begitu baik di keluarganya. Padahal, hubungan mereka tidak pernah sedekat itu. Kara mencoba tenang, lalu membuka rentetan pesan yang sedari tadi masuk ke ponselnya melalui grup chat kelas. Isinya, benar-benar berita duka tentang Tania semua.
Kara seketika melemas. Tubuhnya ambruk. Ponsel yang sedari tadi ia pegang pun kini sudah lepas dari genggamannya.
"Tania ... nggak. Nggak mungkin lo pergi secepat ini. Lo nggak kenapa-kenapa, Tania," gumam Kara dengan tatapan kosongnya.