59. Tak Pernah Pergi

2.4K 257 29
                                        

SELAMAT MEMBACA ❤️

---------------------

"Seandainya ...
Semua cinta di dunia aku punya

Tak mampu kembalikan cinta kita
Karena, kini dirimu tlah tiada."

(Ayumi Ara - Seandainya)

●○•♡•○●

Meski hari terus berganti, tapi perasaan hampa masih di sini dan tak kunjung pergi. Layaknya dingin yang masih menyisakan gigil meski hujan sudah lama berhenti.

Setelah obrolan singkat semalam, Jantera bangun lebih dulu dibanding semuanya. Tak seperti biasanya, Jantera langsung ke dapur dan berniat memasak apa pun yang ada di dalam kulkas untuk mereka sarapan. Meski skill memasaknya tidak sehebat Mas Raga dan juga Dika, tapi bukan berarti Jantera tidak bisa apa-apa. Namun, yang tersisa di kulkas hanyalah bahan-bahan yang cukup untuk membuat nasi goreng.

Jantera sadar. Makanan itu, akhir-akhir ini sering mereka hindari karena trauma Sapta bisa muncul hanya dengan menyebut namanya saja. Kejadian malam itu, benar-benar membuat segalanya runyam. Terutama, untuk jiwa Sapta.

Jantera yang bingung pun akhirnya lebih memilih untuk membuka freezer, lalu mengambil beberapa es batu untuk ia kompreskan pada luka memarnya akibat pukulan Dika. Jantera menunggu matahari sedikit meninggi agar ia bisa pergi membeli makanan.

"Gue tahu lu mau masak, tapi bingung masak apa, kan?"

Dika sekonyong-konyong datang ke dapur dengan membawa tiga buah kantong keresek berwarna putih.

"Dih, sok tahu, lu! Gue kira lu masih tidur. Abis darimana, lu? Terus, bawa apaan itu?" tanya Jantera.

Dika tidak langsung menjawab. Ia malah berjalan ke arah rak piring, lalu membawa beberapa wadah itu untuk ia jadikan alas makanan yang baru saja ia beli.

"Satu-satu kek nanyanya! Gue udah bangun pas denger suara keran kamar mandi nyala. Itu elu, kan?" tanya Dika.

"Bukan. Setan," celetuk Jantera.

Dika mengangguk menyetujui. "Lo emang setan, sih!" ucap Dika setelahnya, yang membuat Jantera ingin sekali membalas untuk meninju adiknya itu.

"Lagian, bisa-bisanya lu nggak nyadar gue masuk kamar mandi, Mas. Padahal, lu ada di halaman belakang tadi gue liat."

"Lu setannya kali. Makannya, nggak kelihatan!" ujar yang lebih tua. Dika hanya bisa menatap kakaknya itu dengan tatapan sinis. Yang ditatap malah cengengesan.

"Udah, nggak perlu masak, Mas! Ini gue tadi pagi-pagi banget ke ujung komplek. Gue dikasih tahu sama tukang galon pas gue beli air kemaren. Katanya, di ujung komplek tuh suka ada yang jualan lauk. Tapi, emang pagi-pagi banget begini," tutur Dika seraya menyusun ayam goreng, sayur sop, dan juga perkedel kentang ke wadah yang sudah ia siapkan.

Jantera menatap Dika dengan tatapan yang sulit diartikan antara bangga, dan juga sedih. Jantera bangga melihat Dika yang benar-benar memilih jalan hidupnya untuk tumbuh dengan baik. Namun di sisi lain, Jantera juga sedih melihat Dika yang memang dari dulu sudah harus dipaksa dewasa sebelum waktunya. Bagaimana pun juga, Dika adalah orang pertama yang memberinya gelar seorang kakak. Dan dalam hati kecilnya yang paling dalam, Jantera merasa gagal menjaga adik pertamanya itu dari kerasnya hidup.

IN THE END ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang