SELAMAT MEMBACA ❤️
---------------------
"Jika malam datang dan takut menyerang
Kau genggam apa yang kuragukan."
(Nadin Amizah - Semua Aku Dirayakan)
●○•♡•○●
Bagi sebagian orang, sepertinya rugi jika Minggu pagi, langit berwarna biru muda, dan udara yang hangat itu hanya berdiam diri di dalam rumah. Itu juga berlaku untuk tujuh bersaudara ini. Mereka sering berkumpul di halaman belakang, atau pun di teras depan hanya untuk sekadar melihat anak-anak komplek yang hanya bisa bermain di hari Minggu saja.
Itu sama saja, kan? Sama-sama keluar rumah.
"Mas Abiiiii!! Mas lihat kolor aku yang gambarnya anak ayam, nggak?!" teriak Dika dari dalam kamar.
Mas Abi yang tengah membaca buku di halaman belakang pun hanya bisa menarik napas panjang. Sudah sangat terbiasa mendengar banyaknya huru-hara di rumah yang disebabkan oleh adik-adiknya itu. Tapi anehnya, Mas Abi sangat menyukai keramaian itu.
"Mas, lihat, nggak?" tanya Dika lagi yang kini kepalanya menyembul dari balik pintu.
"Coba tanya Mas Raga. Mas Raga yang nyuci," balas Mas Abi.
"Tuh, kan. Barang aku tuh selalu aja ilang," gerutu Dika seraya masuk kembali ke dalam rumah dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Nggak bakal hilang, Mahardikaaa! Kecuali emang itu kolor ada yang buang! Astaghfirullahal 'adziim. Alhamdulillah, rame banget ini pagi-pagi," kata Mas Abi seraya menyeruput teh cokelat buatan Sapta itu.
Baru saja selesai dengan urusan Dika, Kara dan Sapta yang sedari tadi anteng-anteng saja ngobrol di halaman belakang, tiba-tiba mereka terlibat cekcok. Entah meributkan apa lagi hingga pada akhirnya mereka saling kejar.
Buku yang tengah di baca oleh Mas Abi pun seolah kini hilang dari atensinya. Mas Abi lebih memilih untuk menutup bukunya, kemudian menyeruput kembali cokelat hangatnya.
"Kenapa lagi sih mereka, Mas?" tanya Sena yang membawa laptop ke halaman belakang.
"Biarin aja, Na. Selama nggak saling pukul, biarin aja. Mentok-mentok si adek gigit. Emang gitu kan kebiasaannya? Emang Kara tuh ... aduh ... demam 7 hari 7 malem kayaknya kalau dia nggak ngisengin adeknya itu," tutur Mas Abi.
Sena tertawa kecil mendengar penuturan Mas Abi. "Ya itu tuh Mas kelakuan yang katanya garda terdepan buat adeknya. Garda terdepan buat bikin adeknya nangis sama kesel sih iya."
"Mas, kenapa lagi dah itu dua bocah curut? Aku sampe pusing banget lagi mandi. Ada gila-gilanya suara mereka nembus sampe kamar mandi," kata Jantera yang kini sudah ikut bergabung bersama Sena dan Mas Abi di halaman belakang. Di susul oleh Dika dan Mas Raga di belakangnya.
"Tuh lihat, tuh! Bener, kan? Si adek tuh gigit!" seru Sena ketika melihat Kara yang berteriak akibat tangannya di gigit oleh Sapta.
"Woy!! Berhenti nggak lo berdua?!" teriak Mas Raga.
Kedua adiknya itu hanya melirik sesaat, kemudian tetap melanjutkan pertengkaran mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN THE END ✔
Romance"Na, air laut aja ada pasang surutnya. Hujan deras juga ada redanya. Hidup ini tuh dinamis, Na. Nggak diem di satu tempat, dan nggak jalan di satu arah doang. Munafik banget kalo gue bilang nggak capek. Lu capek, gue capek, Mas Abi capek. Bahkan, se...
