62. Percakapan Hangat

2.3K 206 55
                                        

SELAMAT MEMBACA ❤

---------------------

"Rekatkan kita
jiwa yang tak pernah saling memandang

Pekatkan rasa
agar tak lagi kembali mengulang hari yang sama."

(Feby Putri - Dera)

●○•♡•○●

Mas Raga dan kelima adiknya menuruti permintaan bapak untuk menginap di rumah mereka yang dulu. Tentu saja mereka tidur berdesakan. Mendengar dari Mas Raga bahwa Sapta tak bisa tidur di tempat yang dingin karena memiliki penyakit asma, tentu saja itu membuat bapak khawatir. Pada akhirnya, Sapta dan Kara diminta untuk tidur di dalam kamar saja. Keadaan itu seolah dejavu untuk Mas Raga dan kelima adiknya. Sapta dan Kara yang tidur di kamar, lalu mereka yang tidur di ruang tengah. Mereka masih tetap bertujuh. Namun kini, sosok Mas Abi terganti oleh bapak.

Meski sebenarnya, sosok Mas Abi tidak akan pernah bisa terganti oleh siapa pun.

Tepat setelah selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah, Mas Raga, Jantera, Dika, Sena dan juga Sapta langsung pulang. Karena, Sapta memang harus sekolah. Namun, entah kenapa Kara memilih untuk ingin diam lebih lama di rumah bersama bapak. Lagi pula, sekolah Kara pun memang masih di sekitar sini. Berbeda dengan Sapta yang sudah pindah ke lingkungan baru. Pada akhirnya, Mas Raga mengizinkan meski ada sedikit perdebatan kecil bagaimana seragam dan buku-buku milik Kara. Dan sebagai solusinya, Sena menawarkan diri biar seragam sekolah dan juga buku pelajaran Kara ia saja yang akan mengantarkan kembali.

Dan di sinilah Kara sekarang. Meski atmosfir canggung masih terasa sangat kuat, Kara mencoba untuk membuat dirinya lebih tenang, "Lo lagi sama bokap lo. Tenang aja!" begitulah batinnya pada dirinya sendiri.

Kara menyapu halaman yang terlihat berantakan akibat daun-daun kering yang berjatuhan dari pohon kecil yang tumbuh di depan rumahnya. Itu memang sudah menjadi kebiasaannya dari dulu. Sedangkan, bapak sedang sibuk berkutat di dapur. Sepertinya, tengah menyiapkan sarapan untuknya dan juga Kara.

"Adek, makan dulu, sini!" Tak berselang lama, teriakan bapak terdengar dari dalam rumah.

Kara melirik sekilas, kemudian melihat bapak yang tengah menyiapkan itu semua di dalam rumah. Kara yang memang sudah selesai pun pada akhirnya pergi ke wc umum hanya untuk sekadar mencuci tangannya. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya kehidupan mereka di masa lalu.

●○•♡•○●

Saat Kara masuk ke dalam rumah, bapak sepertinya memang sengaja menunggunya. Disana ada piring kecil berisi tiga buah lontong, dan juga beberapa potong bakwan. Kara tidak merasa aneh dengan situasi saat itu. Toh kehidupannya pun dulu tak jauh dari ini.

"Adek, minum dulu ini teh hangatnya. Bapak tadi bikin ini," kata bapak seraya menuangkan teh hangat itu pada Kara.

Mas Raga saat itu memang sengaja meninggalkan beberapa perabotan rumah di belakang. Dan ternyata, itu masih bisa di gunakan meski pun sudah tidak layak. Siapa yang menyangka kalau rumah itu akan mereka tempati lagi disaat mereka sudah memiliki kehidupan yang lebih baik?

"Mau ditambahin gula, nggak?" tanya bapak.

Kara menggeleng. "Nggak usah, Pak. Aku suka teh tawar. Yang suka teh manis itu Mas Raga," balas Kara seraya mengambil satu buah bakwan buatan bapak, kemudian memakannya.

IN THE END ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang