SELAMAT MEMBACA ❤️
---------------------
"Namun, aku akan tetap di sini
Menunggu alam semesta menerima
Dan angin membawakan jawabannya
Karna detak jantung dan nadiku akan selalu
Merindukanmu."
(Daun Jatuh - Resah Jadi Luka)
●○•♡•○●
Berdamai dengan keadaan yang tak pernah kita inginkan, bukanlah sesuatu yang mudah. Namun bagaimana pun juga, keadaan itu akan tetap dilewati selama hidup masih terus berjalan. Kehilangan Tania memang berdampak besar untuk Kara. Bahkan, setelah satu bulan Tania pergi, Kara masih sering melamun dan larut dalam penyesalannya.
Tetapi, kini Kara sudah mulai bisa sedikit merasakan kelonggaran dalam batinnya. Kara yang saat itu bangun paling pertamaㅡini tumben sebenarnyaㅡtiba-tiba ikut nimbrung bersama Dika yang tengah mencuci mobil di halaman depan.
"Tumben banget lu nggak ngurung diri di kamar? Udah tobat?" Dika selalu saja seperti ini. Rugi jika tidak memanfaatkan celah untuk mengganggu adik-adiknya.
"Mas Raga denger, kan? Mas Dika tuh selalu kayak gitu ke aku kalau nggak ada Mas sama Mas Abi. Aku tuh teraniaya, tahu!" Kara mengadu pada Mas Raga yang saat itu memang tengah berada di halaman depan juga untuk menyusun pot-pot kecil yang isinya itu tanaman hias yang sengaja Mas Abi tanam.
Mas Raga menghela napas panjang. "Ini aduan kalian nggak ada yang elitan dikit, apa? Sapta ngadu kalau dia lagi dijahilin kamu cuma perkara rebutan lego, kamu ngadu kalau lagi dijahilin Mas Dika, Mas Dika ngadu kalau Mas Jan pake handuknya dia. Dari dulu nggak pernah berubah."
Mas Raga terkadang lelah sekali menghadapi adik-adiknya. Namun, menghadapi mereka yang saling menjahili satu sama lain itu lebih mudah, jika dibandingkan dengan mereka yang saling betah dalam keterdiaman. Mas Raga sudah pernah merasakan itu. Pertama dan yang paling lama adalah perang dingin antara Jantera dan juga Sapta. Dan baru-baru ini, Kara dan Dika yang berseteru saat Sapta masuk rumah sakit. Namun, itu semua tidak bertahan lama. Mereka sudah sama-sama tumbuh dewasa. Buktinya, mereka berdua bisa se'akur' ini sekarang.
"Ya nggak pa-pa, sih. Meski pun si Sapta nyebelinnya naudzubillah, terus Mas Dika itu tukang drama, aku mah tetap sayang sama mereka," kata Kara.
Dika dan Mas Raga seketika saling bertatapan. Wajah mereka kentara sekali kebingungan. Kenapa adiknya ini? Kesambet setan komplek, kah? Tapi, masa iya sepagi ini? Mas Raga yang tengah sibuk dengan potnya itu pun buru-buru menghampiri Kara, lalu menangkup kedua pipi adik bungsuㅡyang nggak jadiㅡnya itu.
"Adek, kamu nggak pa-pa? Kamu masih kenal Mas, kan?" tanya Mas Raga.
Kara yang merasa pipinya semakin ditekan, dan bibirnya semakin maju itu pun berusaha menepis tangan Mas Raga. "Mas! Tangan Mas kotor! Iiihhh ... tangan Mas bau tai kambing!!!"
Kara menepis tangan Mas Raga yang memang saat itu belum melepas sarung tangannya, kemudian ia terlihat seperti akan muntah.
"Oh, iya. Mas abis megang pupuk. Maaf ya, Adek!" ujar Mas Raga dengan tawa khas bapak-bapaknya.
"TUH, KAAAN! IIIHH ... AKU TUH NIATNYA MAU MANDI AGAK SIANGAN! KALAU UDAH BEGINI, AKU JADI NGGAK BISA NUNDA BUAT MANDI!! MASA AKU BAU TAI KAMBING?!! MANA DI MUKA LAGI. MAS ABI!!! AKU DIDZHOLIMI MAS RAGA!!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
IN THE END ✔
Romance"Na, air laut aja ada pasang surutnya. Hujan deras juga ada redanya. Hidup ini tuh dinamis, Na. Nggak diem di satu tempat, dan nggak jalan di satu arah doang. Munafik banget kalo gue bilang nggak capek. Lu capek, gue capek, Mas Abi capek. Bahkan, se...
