(penulisan ulang)
Surabaya, Juni 1921.
Udara siang itu hangat, tetapi tidak menyengat. Angin dari arah pelabuhan membawa aroma laut yang samar, menyelinap di antara jalan-jalan kota yang dipenuhi trem, sepeda, dan langkah para pelajar. Kota Surabaya pada masa itu adalah pertemuan berbagai dunia—Eropa, pribumi, dan mimpi-mimpi yang tumbuh di antara keduanya.
Di tengah kota itulah berdiri sebuah sekolah bergengsi: Hogere Burger School Surabaya. Gedungnya kokoh, bercat putih pucat dengan jendela-jendela tinggi. Halamannya luas, ditumbuhi pohon flamboyan yang bayangannya menari di atas tanah setiap siang.
Aku adalah salah satu murid di sana.
Hari itu aku duduk sendirian di bangku taman sekolah. Sebuah buku terbuka di pangkuanku, tetapi pikiranku tidak sepenuhnya berada di dalam halaman-halaman itu. Langit Surabaya siang itu begitu biru, seolah memanggil siapa saja yang menatapnya untuk bermimpi sedikit lebih jauh dari biasanya.
Aku menengadah, menghela napas panjang.
Hidup sebagai pelajar sering terasa sederhana, tetapi di dalam kesederhanaan itu tersimpan berbagai harapan yang belum terucap.
Saat itulah aku melihatnya.
Seorang gadis berjalan dari arah koridor menuju gerbang sekolah.
Langkahnya pelan, namun pasti. Gaun formal yang dikenakannya bergerak lembut mengikuti hembusan angin siang. Rambutnya yang panjang berwarna keemasan jatuh hampir menyentuh betisnya, berkilau seperti kelopak bunga matahari yang disinari cahaya.
Matanya… matanya berwarna nila kandi yang tenang.
Tatapan itu tajam, tetapi juga menyimpan kelembutan yang sulit dijelaskan.
Ia menoleh.
Entah mengapa, pada saat yang sama aku juga menoleh.
Tatapan kami bertemu di tengah taman yang sunyi.
Beberapa detik berlalu dalam diam yang aneh—diam yang tidak terasa canggung, justru terasa seperti perkenalan yang tertunda.
Gadis itu tersenyum kecil.
Aku berdiri dari bangku taman tanpa sadar.
“Selamat siang,” katanya dengan suara lembut.
Aku sedikit terkejut, tetapi segera membalas sapaannya.
“Selamat siang.”
Ia mendekat beberapa langkah.
“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya,” katanya.
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin karena aku lebih sering bersembunyi di balik buku.”
Ia tertawa pelan.
Tawa itu ringan seperti denting kaca yang bersentuhan.
“Aku Ann,” katanya kemudian.
Aku mengangguk sedikit.
“Senang bertemu denganmu, Ann.”
Hari itu percakapan kami tidak panjang. Namun anehnya, setelah pertemuan singkat itu, dunia terasa berubah sedikit.
Sejak hari itu aku mulai sering melihat Ann di sekolah.
Kadang ia berjalan melewati koridor kelas.
Kadang ia berdiri di kantin bersama teman-temannya.
Kadang ia duduk di taman yang sama tempat kami pertama kali bertemu.
Dan setiap kali kami berpapasan, ia selalu tersenyum.
Senyum itu sederhana.
Tetapi selalu terasa berbeda.
Seolah-olah ada rahasia kecil di dalamnya.
Suatu sore, aku duduk di beranda kelas sambil membaca sebuah buku sejarah.
Matahari mulai condong ke barat, dan cahaya keemasan masuk melalui jendela-jendela panjang sekolah.
Aku tenggelam dalam bacaan.
Begitu tenggelamnya hingga tidak menyadari seseorang berdiri di sampingku.
“Apa yang kau baca?”
Aku terlonjak kaget.
Ann sudah berdiri tepat di dekatku.
“Ann! Kau membuatku hampir menjatuhkan buku ini.”
Ia tersenyum nakal.
“Maaf. Aku hanya penasaran.”
Ia sedikit mencondongkan tubuhnya melihat halaman buku yang kubaca.
“Sejarah Eropa?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Kadang aku merasa sejarah lebih jujur daripada manusia.”
Ann mengangkat alisnya sedikit.
“Mengapa?”
Aku menutup buku itu perlahan.
“Karena sejarah tidak pernah berpura-pura.”
Ann terdiam sebentar, lalu duduk di sampingku.
Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Aku suka orang yang berpikir seperti itu,” katanya.
Aku menoleh kepadanya.
“Benarkah?”
Ia mengangguk kecil.
“Orang yang memikirkan hal-hal besar biasanya memiliki hati yang dalam.”
Aku tertawa kecil.
“Kalau begitu aku hanya berpikir keras supaya terlihat menarik.”
Ann memandangku beberapa detik.
Lalu ia berkata dengan nada pelan,
“Kau tidak perlu berpura-pura menarik.”
Aku sedikit bingung.
“Mengapa?”
Ann tersenyum lagi.
“Karena kau sudah menarik sejak pertama kali aku melihatmu di taman.”
Aku terdiam.
Untuk sesaat aku tidak tahu harus berkata apa.
Angin sore berhembus lembut melewati beranda kelas.
Helai rambut Ann bergerak perlahan tertiup angin.
“Ann,” kataku akhirnya.
“Ya?”
“Mengapa kau sering tersenyum padaku?”
Ia menatap lurus ke depan, ke arah taman sekolah.
“Karena aku suka melihat seseorang yang memandang langit terlalu lama.”
Aku tertawa pelan.
“Itu kebiasaan buruk.”
“Tidak,” jawabnya lembut.
“Itu kebiasaan orang yang sedang mencari sesuatu.”
Aku memandangnya.
“Dan menurutmu aku sedang mencari apa?”
Ann menoleh kepadaku.
Matanya yang berwarna nila kandi itu tampak lebih dalam dari biasanya.
“Mungkin… seseorang.”
Aku terdiam lagi.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang hangat.
“Kalau begitu,” kataku perlahan, “mungkin aku sudah menemukannya.”
Ann menatapku dengan ekspresi terkejut yang lembut.
“Apa maksudmu?”
Aku tersenyum.
“Maksudku… sejak kau duduk di sini, langit tidak lagi menjadi hal paling indah yang kulihat hari ini.”
Ann menunduk sedikit.
Pipinya memerah samar.
“Kau pandai berkata-kata,” katanya.
“Tidak,” jawabku.
“Aku hanya jujur.”
Ann tertawa kecil lagi.
Dan di tengah cahaya sore Surabaya tahun 1921 itu, aku menyadari satu hal yang pasti.
Pertemuan kami di taman bukanlah kebetulan biasa.
Itu adalah awal dari kisah yang perlahan akan mengubah hidupku.
Dan mungkin juga hidup Ann.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
ContoAnnalise Dwight Rossevelt seorang perempuan tinggi semampai, bermata biru, berambut menyerupai bunga matahari, dan anting merah delima yang selalu ia kenakan menjadi saksi di pelipis matamu senja itu berlabuh.
