Yoongi sudah berdiri di depan pintu rumah Hoseok selama lebih dari lima menit. Tangannya ragu-ragu untuk mengetuk, tapi akhirnya dia mengambil napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang penuh kekhawatiran.
"Ini pasti terakhir kali aku ke sini minggu ini," batinnya, meski hatinya tahu dia nggak akan bisa berhenti kalau Hoseok masih terus menghindarinya.
Dengan ketukan lembut, Yoongi mengetuk pintu kayu itu. Bunyi langkah kaki dari dalam rumah akhirnya terdengar, dan pintu terbuka perlahan. Hoseok muncul dengan rambut berantakan dan mata yang tampak kelelahan, jelas baru saja bangun tidur.
“Yoon?” Hoseok menatap Yoongi dengan mata setengah tertutup. “Kenapa pagi-pagi banget di sini?”
Yoongi mencoba tersenyum, mengangkat tas kertas di tangannya. “Aku bawain sarapan. Aku tahu kamu pasti lupa makan.”
Hoseok menarik napas panjang, jelas menunjukkan ketidaksukaannya. “Yoon… aku udah bilang, kita nggak perlu ketemu sesering ini. Aku nggak mau bikin semuanya makin rumit.”
“Tapi aku cuma pengen tahu kalau kamu baik-baik aja, Seok,” Yoongi menjawab jujur, suaranya lembut, hampir memohon. “Aku cuma… aku nggak bisa berhenti mikirin kamu.”
Hoseok menatap Yoongi selama beberapa detik, seperti menimbang sesuatu. Akhirnya, dia membuka pintu lebih lebar. “Masuk aja, deh. Aku nggak mau tetangga lihat kita ngobrol di depan pintu kayak gini.”
Yoongi mengangguk dan melangkah masuk. Rumah Hoseok kecil dan sederhana, tapi terasa hangat meski suasana antara mereka dingin. Yoongi mengikuti Hoseok ke ruang tamu, tempat sofa usang dan meja kecil sudah menunggu. Hoseok duduk di salah satu ujung sofa, sementara Yoongi mengambil tempat di ujung lainnya, menjaga jarak.
“Aku tahu kamu tulus, Yoon,” Hoseok memulai, suaranya terdengar lebih lembut sekarang. “Aku tahu banget kamu serius. Tapi… aku nggak yakin sama perasaan aku sendiri. Aku nggak tahu ini apa.”
Yoongi meletakkan tas kertas berisi sarapan di meja, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab. “Kamu nggak perlu buru-buru tahu, Seok. Aku cuma mau kamu tahu kalau aku di sini buat kamu.”
“Itu masalahnya,” Hoseok membalas, suaranya sedikit lebih tegas. “Aku nggak mau kasih kamu harapan yang mungkin nggak bisa aku penuhi. Kalau aku nerima kamu sekarang, tapi ternyata aku nggak bisa benar-benar mencintai kamu… aku nggak mau kamu kecewa.”
Ruangan menjadi hening. Hanya suara jam dinding yang terdengar, mengisi kekosongan di antara mereka. Yoongi menatap Hoseok dengan penuh pengertian, meskipun hatinya terasa berat.
“Aku ngerti,” Yoongi akhirnya berkata, suaranya pelan dan tulus. “Aku ngerti kalau ini nggak mudah buat kamu. Aku tahu kamu butuh waktu, dan aku nggak akan maksa kamu buat langsung nerima aku.”
Hoseok menghela napas panjang, tubuhnya sedikit merosot di sofa. “Kamu terlalu baik, Yoon. Kadang aku mikir, aku nggak pantas buat orang sebaik kamu.”
Yoongi tertawa kecil, meski senyumnya sedikit getir. “Kamu selalu bilang kayak gitu, Seok. Tapi aku tahu kamu pantas. Kamu lebih dari pantas.”
“Yoon…” Hoseok menatap Yoongi dengan ragu, suaranya hampir bergetar. “Aku nggak tahu apakah aku bisa berubah pikiran. Aku nggak tahu apakah aku bisa ngerasain yang sama kayak yang kamu rasain.”
“Itu nggak masalah,” Yoongi menyela, nadanya penuh keyakinan. “Aku di sini buat kamu, Seok. Aku nggak peduli berapa lama aku harus nunggu. Yang penting aku ada buat kamu.”
Hoseok tersenyum kecil, meski matanya masih menyimpan keraguan. Dia menatap keluar jendela, mencoba menghindari tatapan intens Yoongi. “Aku takut, Yoon. Aku takut kalau akhirnya aku nyakitin kamu. Aku nggak mau itu terjadi.”
“Kamu nggak akan nyakitin aku, Seok,” jawab Yoongi lembut. “Yang nyakitin aku adalah kalau aku kehilangan kamu. Jadi, meskipun kamu belum bisa nerima aku sekarang, aku cuma mau kita tetap ada buat satu sama lain.”
Hoseok mengangguk pelan, tapi dia tetap terlihat ragu. Dia tahu Yoongi tulus, tapi hatinya masih penuh dengan ketakutan dan keraguan.
“Aku nggak tahu, Yoon,” Hoseok akhirnya berkata, suaranya hampir tak terdengar. “Aku cuma nggak tahu.”
Yoongi tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa sakit di hatinya. “Kamu nggak perlu tahu sekarang, Seok. Aku di sini, dan aku nggak akan pergi ke mana-mana.”
Mereka duduk dalam diam setelah itu, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Yoongi berharap Hoseok bisa melihat betapa besar rasa cintanya, sementara Hoseok berjuang dengan perasaannya sendiri, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.
Meski percakapan mereka nggak membawa hasil yang pasti, Yoongi tahu bahwa perjuangannya belum selesai. Dia tahu bahwa Hoseok butuh waktu, dan dia bersedia memberikan semua waktu yang dibutuhkan.
Karena untuk Yoongi, Hoseok adalah segalanya. Dan untuk segalanya, Yoongi tahu dia harus berjuang.
TBC
ah aku gamau jadiin hoseok dan yoongi sekarang 🤭
lu author lu punya kuasa boss!
vote dulu buat tau kelanjutannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
kau rumah ku (sope)
RandomMenceritakan tentang kisah anak pertama, yang keluarga nya terlihat cemara dan penuh dengan kebahagiaan diluar, nyatanya di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan rumah pertamanya, dan mentalnya di hajar hingga hancur berkeping-keping. Jung hoseok...
