9. apa itu cinta?

302 32 2
                                        

Pagi itu, Hoseok baru saja selesai siap siap ketika suara klakson motor terdengar dari depan rumahnya. Hoseok melongok keluar jendela dan langsung mengenali siapa yang berdiri di depan pagar dengan motor besar, helm full face, dan jaket kulit hitam.

Yoongi.

Hoseok menghela napas, ragu-ragu. Sejak mereka mulai sedikit membaik, Yoongi memang sering mengirim pesan atau mencoba mencairkan suasana, tapi ini pertama kalinya Yoongi muncul untuk menjemputnya.

"Seok, yok berangkat bareng!" teriak Yoongi sambil melepas helmnya, menampilkan senyum lebarnya.

Hoseok keluar dari rumah, mengenakan jaket hitam dan membawa helmnya sendiri. "Kenapa tiba-tiba jemput? Kamu nggak bilang mau ke sini."

Yoongi mengangkat bahu santai. "Aku pikir kalau aku kasih tahu dulu, kamu bakal nolak. Jadi, ya, aku langsung aja."

Hoseok hanya mendengus kecil, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Dia memasang helmnya dan naik ke motor Yoongi. "Hati-hati bawanya. Kalau aku jatuh, aku bakal minta ganti rugi."

Yoongi terkekeh. "Tenang aja, aku supir terbaik di kota ini. Pegangan yang erat, ya!"

Mereka melaju di jalanan pagi yang masih sepi. Yoongi sesekali mengajukan pertanyaan kecil atau melontarkan candaan, berusaha membuat Hoseok tertawa. Hoseok, yang biasanya hanya diam, mulai merespons dengan komentar pendek atau tawa kecil yang membuat Yoongi tersenyum lebar di balik helmnya.

Sesampainya di kantor, mereka menarik perhatian karyawan lain. Beberapa berbisik, tapi Yoongi tidak peduli. Dia memarkir motornya, lalu melepas helmnya dan menoleh ke Hoseok.

"Thanks udah mau aku jemput. Besok mau lagi, nggak?" tanya Yoongi, nada suaranya penuh harapan.

Hoseok melepas helmnya, lalu menatap Yoongi dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Kita lihat nanti," jawabnya sebelum berjalan masuk ke gedung kantor.

Hari itu, Yoongi merasa lebih ringan. Meski hubungan mereka belum sepenuhnya pulih, setidaknya Hoseok sudah mulai membiarkan Yoongi masuk lagi ke dalam hidupnya.

Saat jam makan siang, Yoongi kembali menghampiri meja Hoseok dengan dua kotak bekal di tangannya. "Seok, aku bawain makan siang. Yuk ke taman belakang kantor. Ada tempat enak buat makan."

Hoseok melirik kotak bekal itu, ragu sejenak sebelum mengangguk. "Oke, tapi kalau makanannya nggak enak, aku nggak bakal mau makan bekal kamu lagi."

Yoongi tertawa kecil. "Deal. Tapi aku jamin kamu bakal suka."

Mereka duduk di bangku taman yang teduh, di bawah pohon besar. Yoongi membuka bekalnya, memperlihatkan nasi dengan ayam panggang dan beberapa potongan buah segar.

Hoseok mencoba satu suap, lalu matanya sedikit membesar. "Yoongi, ini... enak banget! Kamu masak sendiri?"

Yoongi tersenyum bangga. "Iya dong. Aku belajar semalaman biar bisa masak ini. Aku cuma mau lihat kamu senyum lagi."

Hoseok menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah. "Kamu nggak perlu repot-repot, Yoongi. Aku udah maafin kamu, kok."

"Kalau gitu, kita mulai lagi dari awal, ya?" tanya Yoongi dengan nada lembut, menatap Hoseok penuh harap.

Hoseok mengangguk kecil, menatap Yoongi dengan senyuman tipis. "Iya, mulai lagi."

----

Besoknya, hoseok termenung di meja kerjanya, menatap kosong ke layar komputer yang menyala. Pekerjaan yang menumpuk seharusnya bisa membuatnya sibuk, tapi pikirannya terus-menerus berputar pada satu hal: Yoongi.

Sejak pagi tadi, Yoongi kembali menjemputnya ke kantor. Dengan senyuman lebar dan sapaan ramah, pria itu seolah-olah mencoba menghapus semua luka yang pernah dia sebabkan. Dan entah kenapa, Hoseok tidak mampu menolak. Dia naik ke motor Yoongi tanpa banyak bicara, membiarkan angin pagi menyapu wajahnya sepanjang perjalanan. Tapi hati Hoseok justru makin kacau.

“Apa yang sebenarnya aku rasakan?” gumamnya pelan, hampir tak terdengar oleh siapa pun.

Dia teringat senyuman Yoongi. Betapa hangatnya senyuman itu saat mereka makan siang bersama kemarin, dan betapa tulusnya ketika Yoongi meminta maaf untuk kesalahan yang bahkan tidak perlu dia ulangi. Hoseok merasa hatinya bergetar setiap kali bersama Yoongi, tapi dia tidak tahu apa arti dari semua ini.

Hoseok mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Apa ini cinta?" pikirnya, mengingat ucapan Yoongi beberapa hari yang lalu. Saat itu, Yoongi berkata, "Aku cuma mau lihat kamu bahagia, Seok. Itu udah cukup buatku."

“Kalau itu cinta, kenapa rasanya rumit?” bisik Hoseok. Tangannya meremas pensil yang dia pegang. Ada rasa ragu dan takut yang menyelimuti hatinya.

---

Saat jam istirahat, Yoongi datang menghampiri meja Hoseok, seperti biasanya. Kali ini, dia membawa dua cangkir kopi.

"Seok, aku bawain kopi. Aku tau kamu suka kopi hitam tanpa gula," ucap Yoongi sambil meletakkan cangkir itu di meja Hoseok.

Hoseok mendongak, menatap Yoongi dengan bingung. "Kenapa kamu selalu baik sama aku, Yoongi?"

Pertanyaan itu membuat Yoongi terdiam. Tatapannya berubah serius, tidak lagi bercanda seperti biasanya. Dia duduk di kursi di depan Hoseok, lalu menarik napas dalam-dalam.

“Karena aku peduli sama kamu, Seok. Karena aku sayang kamu,” jawab Yoongi dengan jujur. Tidak ada nada bercanda, hanya ketulusan.

Hoseok menelan ludah. Hatinya berdebar kencang mendengar pengakuan itu, tapi dia tetap merasa bingung. “Sayang? Tapi kenapa aku merasa takut?” tanyanya dengan suara yang lebih pelan.

Yoongi tersenyum tipis. "Karena cinta itu menakutkan, Seok. Cinta bikin kita rentan, bikin kita harus percaya sama orang lain sepenuhnya. Tapi cinta juga bikin kita kuat. Aku tahu ini mungkin nggak gampang buat kamu, tapi aku nggak akan maksa. Aku cuma mau kamu tahu kalau aku selalu ada buat kamu."

Hoseok menunduk, memikirkan kata-kata Yoongi. Dia merasa takut untuk menerima cinta itu, tapi di sisi lain, dia tidak ingin kehilangan Yoongi.

“Yoongi… aku nggak tahu apa yang aku rasakan sekarang. Aku butuh waktu untuk memahaminya,” ucap Hoseok akhirnya.

Yoongi mengangguk dengan senyum lembut. "Aku nggak kemana-mana, Seok. Ambil waktu yang kamu butuhkan."

Hoseok menghela napas panjang, merasa sedikit lebih tenang. Untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, dia bisa memahami apa itu cinta. Dan jika itu benar, dia ingin menemukan jawabannya bersama Yoongi.

TBC

lama aku tidak up, dan aku kembali untuk kalian semua.

apa kabar? sehat kalian?

kau rumah ku (sope) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang