Hari itu, Hoseok mengurung diri di ruangannya, pintu tertutup rapat. Rekan-rekan kerjanya sudah menyadari perubahan sikap Hoseok beberapa waktu terakhir. Biasanya ia selalu menjadi sosok yang ceria dan ringan tangan, tapi akhir-akhir ini, Hoseok lebih sering diam dan terlihat tenggelam dalam pikirannya.
Di sisi lain, Yoongi tidak pernah menyerah. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Hoseok, tapi tak satu pun pesan atau teleponnya yang mendapat balasan. Rasa bersalah yang menggerogoti Yoongi semakin besar setiap harinya, dan dia tahu dia tidak bisa terus membiarkan jarak ini semakin lebar.
---
Pukul tiga sore, Yoongi berdiri di depan pintu ruang kerja Hoseok, membawa dua gelas kopi di tangannya. Dia mengetuk pintu perlahan, tapi tidak ada jawaban.
“Hoseok, ini aku,” Yoongi berkata pelan, suaranya terdengar penuh harapan. “Aku cuma pengen bicara.”
Masih tidak ada jawaban. Yoongi menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu perlahan. Hoseok duduk di mejanya, pandangannya terarah ke jendela, seolah-olah dia tidak menyadari keberadaan Yoongi.
“Hoseok,” panggil Yoongi lagi, sedikit lebih keras.
Hoseok akhirnya menoleh, tapi ekspresinya dingin. “Kenapa kamu di sini?”
Yoongi mendekat, meletakkan gelas kopi di meja Hoseok. “Aku bawa kopi buat kamu. Aku pikir mungkin kamu butuh.”
“Aku nggak butuh,” jawab Hoseok tanpa basa-basi, mendorong gelas kopi itu menjauh.
Yoongi menghela napas. Dia tahu ini tidak akan mudah, tapi dia tidak akan menyerah. “Aku tahu aku salah, Hoseok. Aku tahu aku udah nyakitin kamu berkali-kali. Tapi aku benar-benar minta maaf. Aku... aku nggak tahu harus gimana lagi buat kamu percaya.”
“Kamu nggak perlu bikin aku percaya,” balas Hoseok dingin. “Aku udah selesai, Yoongi. Aku udah cukup.”
Kata-kata itu menusuk hati Yoongi seperti pisau. Tapi dia tetap berdiri di sana, mencoba menahan rasa sakitnya. “Aku nggak mau selesai, Hoseok. Aku nggak bisa. Aku nggak bisa bayangin hidup aku tanpa kamu.”
“Kamu harus belajar,” jawab Hoseok dengan nada tegas. “Kamu harus belajar hidup tanpa aku, Yoongi. Karena aku nggak bisa lagi.”
Yoongi menunduk, kedua tangannya mengepal erat. “Tolong, Hoseok. Aku janji, aku nggak akan ngecewain kamu lagi. Aku tahu aku udah bilang ini sebelumnya, tapi kali ini aku benar-benar serius.”
“Serius?” Hoseok tertawa pahit. “Kamu selalu bilang kamu serius, Yoongi. Tapi apa yang kamu lakuin? Kamu selalu ngecewain aku. Aku nggak mau terus-terusan jadi orang bodoh yang nungguin kamu berubah.”
“Aku berubah, Hoseok. Aku mau berubah,” Yoongi berkata dengan nada memohon. “Aku tahu aku terlambat, tapi aku mau perbaiki semuanya. Aku mau jadi orang yang kamu layak dapetin.”
“Udah terlambat, Yoongi,” Hoseok menjawab, suaranya mulai bergetar. “Kamu udah punya banyak kesempatan. Aku nggak bisa terus-terusan hidup dengan luka yang kamu kasih.”
“Hoseok,” Yoongi mendekat, mencoba meraih tangan Hoseok, tapi Hoseok mundur, menepis tangan Yoongi.
“Jangan sentuh aku,” Hoseok berkata tajam, air matanya mulai menggenang. “Aku nggak bisa, Yoongi. Aku nggak mau.”
Yoongi berdiri di tempatnya, tubuhnya membeku. Dia bisa melihat rasa sakit di mata Hoseok, dan itu hanya membuatnya semakin sadar betapa buruknya dia telah melukai orang yang dia cintai.
“Aku nggak akan nyerah,” kata Yoongi akhirnya, suaranya penuh dengan tekad. “Aku tahu kamu nggak mau lihat aku sekarang, tapi aku nggak akan berhenti. Aku akan terus minta maaf, terus berusaha, sampai kamu bisa percaya lagi.”
KAMU SEDANG MEMBACA
kau rumah ku (sope)
AléatoireMenceritakan tentang kisah anak pertama, yang keluarga nya terlihat cemara dan penuh dengan kebahagiaan diluar, nyatanya di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan rumah pertamanya, dan mentalnya di hajar hingga hancur berkeping-keping. Jung hoseok...
