Hari-hari berlalu dengan perlahan, dan di setiap langkahnya, Yoongi merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Hoseok. Senyum yang biasanya terselip di sudut bibirnya kini hilang. Tatapan lembut yang dulu selalu diberikan Hoseok saat mereka berbicara kini berganti dengan pandangan datar. Ada dinding tak kasat mata yang Hoseok bangun di antara mereka, dan Yoongi tahu dia yang harus bertanggung jawab atas hal itu.
Pagi itu, seperti biasa, Yoongi datang ke meja Hoseok dengan secangkir kopi favoritnya. "Ini buat kamu," katanya sambil meletakkan gelas di meja Hoseok.
Hoseok hanya menoleh sebentar, lalu mengangguk. "Thanks," jawabnya singkat tanpa sedikit pun menyentuh kopi itu.
Yoongi berusaha menahan senyumnya yang perlahan memudar. Dia mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal itu, tetapi hatinya terasa berat. Hari ini bukan pertama kalinya Hoseok bersikap seperti itu, dan Yoongi tahu dia sedang menghadapi sesuatu yang lebih besar dari sekadar sikap dingin.
Di ruang kerja mereka, biasanya Yoongi dan Hoseok akan saling bercanda di sela-sela waktu bekerja. Tetapi kini, semua terasa sepi. Hoseok lebih sering tenggelam dalam pekerjaannya, menghindari percakapan yang terlalu panjang dengan Yoongi. Setiap kali Yoongi mencoba memulai obrolan, jawaban Hoseok selalu pendek, seperti sengaja ingin mengakhiri percakapan secepat mungkin.
"Seok, kamu baik-baik aja?" tanya Yoongi suatu siang ketika mereka sedang makan bersama tim di kantin.
"Ya, aku baik," jawab Hoseok singkat sambil mengaduk makanannya tanpa benar-benar memakannya.
Yoongi menatap Hoseok dengan khawatir, tetapi tidak ingin memaksa. Dia tahu Hoseok butuh ruang, tetapi dia juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa sesuatu sedang tidak beres.
Yoongi akhirnya memutuskan untuk bicara. Dia tidak bisa terus membiarkan keadaan seperti ini. Dia menunggu sampai jam kerja selesai dan mendapati Hoseok sedang bersiap untuk pulang.
"Seok, tunggu," panggil Yoongi sambil mengejar Hoseok ke lorong kantor.
Hoseok berhenti sejenak, lalu menoleh dengan wajah datar. "Apa?"
Yoongi menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Kita perlu bicara. Aku merasa ada yang berubah antara kita."
Hoseok terdiam sejenak, lalu mengangkat bahu. "Mungkin memang sudah berubah, Yoongi."
Jawaban itu menusuk Yoongi seperti belati. "Kenapa kamu bilang begitu? Aku tahu aku salah, tapi aku sudah berusaha memperbaikinya, Seok."
"Tapi nggak semua hal bisa diperbaiki, Yoongi," jawab Hoseok dengan suara yang lebih pelan, tetapi penuh dengan emosi yang terpendam. "Aku nggak tahu lagi harus gimana. Aku capek."
"Capek?" Yoongi mengulang kata itu dengan ekspresi terluka. "Aku sudah berusaha, Seok. Aku tahu aku bukan yang terbaik, tapi aku nggak akan menyerah."
"Tapi aku yang menyerah," kata Hoseok dengan tegas. Matanya menatap Yoongi dengan dingin. "Aku nggak yakin lagi dengan kita."
Perkataan Hoseok terus terngiang di kepala Yoongi sepanjang malam. Dia tidak bisa tidur, terus memikirkan bagaimana semuanya bisa sampai di titik ini. Dia tahu Hoseok berubah karena kehilangan kepercayaan padanya, tetapi dia tidak tahu bagaimana mengembalikannya.
Sementara itu, Hoseok juga merasa hatinya berat. Dia tidak membenci Yoongi, tetapi dia tidak bisa lagi merasa seperti sebelumnya. Setiap perhatian kecil dari Yoongi terasa seperti pengingat akan semua kekecewaan yang pernah ia alami. Dia merasa lelah mencoba percaya lagi, hanya untuk terluka.
Hoseok mulai menghindari Yoongi. Dia datang lebih awal ke kantor untuk menghindari bertemu dengannya, dan pulang lebih lama untuk memastikan Yoongi sudah tidak ada. Dia bahkan mengganti tempat makannya di kantin, mencari sudut yang jauh dari pandangan Yoongi.
Yoongi menyadari semua itu, tetapi tidak tahu harus melakukan apa. Setiap langkah yang ia ambil terasa salah. Dia ingin mendekati Hoseok, tetapi semakin ia mencoba, semakin Hoseok menjauh.
Sore ini, ketika kantor mulai sepi, Yoongi menemukan Hoseok sendirian di ruang meeting. Hoseok sedang menatap jendela dengan tatapan kosong, tampak tenggelam dalam pikirannya.
Yoongi masuk perlahan, mencoba tidak mengganggu. "Seok, aku tahu kamu nggak mau bicara sama aku, tapi aku nggak bisa terus diam."
Hoseok menoleh, ekspresinya tetap datar. "Aku sudah bilang, Yoongi. Aku nggak yakin lagi dengan kamu. Aku nggak yakin dengan kita."
"Tapi aku yakin," jawab Yoongi tegas. "Aku yakin dengan kita, Seok. Aku tahu aku bikin kesalahan, tapi aku nggak akan berhenti berusaha sampai kamu percaya lagi sama aku."
"Percaya?" Hoseok tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya. "Kamu tahu nggak betapa sulitnya percaya lagi setelah semuanya?"
Yoongi terdiam. Dia tahu kata-kata tidak akan cukup. Dia tahu dia harus melakukan lebih dari sekadar bicara.
"Seok, aku nggak punya jawaban atas semua pertanyaanmu. Tapi aku cuma minta satu hal-jangan tutup pintu itu sepenuhnya. Kasih aku waktu untuk membuktikan kalau aku bisa berubah."
Hoseok menghela napas panjang. Dia tidak menjawab, tetapi tatapannya melembut sedikit sebelum akhirnya berkata, "Aku butuh waktu, Yoongi. Aku nggak tahu apakah waktu itu akan mengubah sesuatu, tapi aku nggak bisa memutuskan sekarang."
Yoongi mengangguk pelan. Dia tahu itu bukan jawaban yang ia harapkan, tetapi setidaknya, itu bukan akhir.
Hari-hari setelah percakapan itu tetap sulit. Hoseok masih bersikap cuek, tetapi ada momen-momen kecil di mana Yoongi merasa ada harapan. Seperti ketika Hoseok menerima kopi yang ia berikan tanpa menolak, atau ketika Hoseok tersenyum tipis saat mendengar candaan rekan kerja mereka.
Yoongi tahu jalannya masih panjang, tetapi dia tidak akan menyerah. Dia akan terus berusaha, tidak peduli seberapa sulitnya, karena bagi Yoongi, Hoseok adalah alasan yang cukup untuk terus berjuang.
TBC
ada apa ya dengan hoseok? :(
KAMU SEDANG MEMBACA
kau rumah ku (sope)
РазноеMenceritakan tentang kisah anak pertama, yang keluarga nya terlihat cemara dan penuh dengan kebahagiaan diluar, nyatanya di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan rumah pertamanya, dan mentalnya di hajar hingga hancur berkeping-keping. Jung hoseok...
