26. putus

203 21 4
                                        

Malam itu, Hoseok lagi-lagi duduk di sofa ruang tamunya, dengan secangkir teh hangat yang sama sekali tidak disentuh. Pikirannya berat, penuh dengan keraguan dan keputusan yang sulit. Sejak pertengkaran terakhirnya dengan Yoongi, ada sesuatu dalam dirinya yang patah, sesuatu yang tidak bisa diperbaiki begitu saja.

Pintu diketuk tiga kali, pelan tapi tegas. Hoseok tahu siapa itu tanpa perlu bertanya. Dengan napas berat, dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Yoongi berdiri di sana, wajahnya kusut, dengan mata yang tampak tidak tidur selama berhari-hari.

"Seok..." Yoongi membuka mulut, suaranya serak, tapi Hoseok mengangkat tangannya untuk menghentikan.

"Masuk," katanya singkat, melangkah ke dalam tanpa menoleh. Yoongi mengikutinya dengan langkah pelan, seolah takut membuat suara berlebihan.

Mereka duduk di sofa yang sama, tapi rasanya seperti dunia memisahkan mereka sejauh mungkin. Yoongi mencoba berbicara lebih dulu.

"Seok, aku... aku nggak bisa kayak gini. aku nggak bisa hidup tanpa kamu," katanya dengan nada yang hampir seperti memohon.

Hoseok menghela napas panjang. Dia menatap lurus ke depan, menghindari mata Yoongi. "aku juga nggak bisa hidup kayak gini, Yoongi. Selalu ngerasa takut, ngerasa nggak cukup. aku nggak bisa terus kayak gini."

Yoongi mencoba mendekat, tapi Hoseok mundur, menjaga jarak. "Tapi aku cinta sama kamu, Seok. aku tau aku banyak salah, tapi aku bakal berubah. aku janji."

Hoseok akhirnya menatap Yoongi, matanya penuh dengan air mata yang ditahan. "kamu selalu bilang bakal berubah, tapi kenyataannya nggak pernah berubah, Yoongi. kamu tetep nyakitin aku, berkali-kali. aku capek jadi orang yang selalu memaafkan kamu, cuma buat disakiti lagi."

"kamu nggak ngerti, Seok!" Yoongi membalas, emosinya mulai naik. "aku nyoba! aku bener-bener nyoba buat jadi lebih baik buat kamu! Tapi kamu nggak pernah percaya sama aku!"

"Karena kamu nggak pernah ngasih aku alasan buat percaya!" Hoseok berdiri, suaranya bergetar karena emosi. "Setiap kali aku kasih kamu kesempatan, kamu selalu ngecewain aku. kamu bilang serius sama aku ribuan kali, tapi nyatanya ga ada tindakan kamu yang ngebuktiin omongan kamu."

Yoongi terdiam, kata-kata Hoseok menamparnya lebih keras daripada pukulan apa pun. Dia mencoba mendekat lagi, kali ini dengan tangan yang gemetar. "Seok, tolong... Jangan kayak gini. Kita bisa perbaiki ini. aku bakal buktiin kalau aku serius sama kamu."

Tapi Hoseok menggeleng, air matanya mulai jatuh. "aku nggak mau perbaiki sesuatu yang udah hancur, Yoongi. aku nggak mau terus-terusan jadi orang yang nunggu kamu berubah, cuma buat kecewa lagi."

Yoongi memegang tangan Hoseok, menggenggamnya erat seolah itu adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan. "Seok, jangan lakuin ini ke aku. aku nggak tau bakal gimana tanpa kamu."

Hoseok menarik tangannya perlahan, meskipun hatinya terasa seperti direnggut paksa. "kamu bakal baik-baik aja, Yoongi. Tapi aku nggak bisa terus-terusan ngorbanin kebahagiaan aku buat kamu. aku harus pergi, kita akhiri hubungan kita, dan batalkan pernikahan kita."

Yoongi terdiam, menatap Hoseok dengan pandangan yang penuh rasa sakit. Tapi dia tahu, kali ini tidak ada kata atau janji yang bisa mengubah keputusan Hoseok.

"Jadi ini akhir buat kita?" Yoongi akhirnya bertanya, suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

Hoseok mengangguk, meskipun setiap serat dalam tubuhnya ingin mengatakan sebaliknya. "Ini yang terbaik buat kita berdua."

Dengan berat hati, Yoongi bangkit dan berjalan ke pintu. Sebelum dia pergi, dia menoleh sekali lagi, matanya basah karena air mata. "aku cuma mau kamu tau, Seok. aku bener-bener cinta sama kamu."

Dan dengan itu, dia pergi, meninggalkan Hoseok sendirian di apartemennya yang kini terasa lebih kosong dari sebelumnya.

TBC

sedih :( batal deh...

kau rumah ku (sope) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang