14. kenapa harus lagi?

206 25 4
                                        

malam itu, hoseok duduk di kursi kamarnya, menatap cermin dengan pandangan kosong. pikirannya berputar-putar, seolah otaknya tidak mau berhenti memutar ulang semua momen yang pernah dia lalui bersama yoongi. senyuman yoongi, tawa kecilnya, cara dia selalu memperhatikan hoseok tanpa banyak bicara-semuanya terasa sangat jelas di kepalanya. terlalu jelas, hingga menyakitkan.

"aku harus bilang," gumam hoseok pada dirinya sendiri. tangannya meremas-remas ujung jaket yang sudah dia pakai dari tadi. "nggak mungkin terus kayak gini. aku harus jujur."

malam ini dia bertekad untuk mengungkapkan perasaannya pada yoongi. setelah berminggu-minggu memendam, akhirnya dia merasa siap. atau setidaknya, dia mencoba meyakinkan dirinya kalau dia siap.

hoseok mengambil ponselnya, mengetik pesan dengan jari yang gemetar.

"yoongi, bisa ketemu malam ini? penting banget."

dia menekan tombol kirim dan menunggu. setiap detik terasa seperti menit. suara jam dinding yang berdetak pelan-pelan menjadi semakin keras di telinganya.

lima menit. sepuluh menit. belum ada balasan.

"mungkin dia sibuk," pikir hoseok, mencoba menenangkan dirinya. tetapi rasa gelisah itu tetap ada. dia menghela napas panjang, mencoba mengalihkan pikirannya dengan membuka buku yang ada di meja, tapi tidak satu kata pun yang dia baca masuk ke kepalanya.

lima belas menit kemudian, ponselnya berbunyi. dengan cepat, hoseok meraihnya, dan dadanya sedikit lega saat melihat nama yoongi di layar.

"oke, seok. aku lagi keluar, mungkin sekitar dua jam lagi ya. aku kabari kalau udah selesai."

dua jam. hoseok menatap pesan itu, lalu menghela napas lagi. "oke, aku tunggu," balasnya singkat.

namun dua jam itu terasa seperti dua tahun. hoseok mondar-mandir di kamarnya, duduk sebentar, lalu berdiri lagi. pikirannya dipenuhi oleh berbagai skenario-bagaimana jika yoongi menolaknya? bagaimana jika yoongi tertawa? bagaimana jika, dan ini yang paling buruk, yoongi malah menjauh setelah tahu perasaannya?

"nggak, nggak mungkin," hoseok berusaha menepis pikiran itu. dia memegang dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "yoongi nggak seperti itu."

---

dua jam berlalu, tetapi tidak ada pesan dari yoongi. hoseok melirik ponselnya lagi, mencoba menahan diri untuk tidak mengetik pesan lain. tetapi rasa cemasnya semakin besar, dan akhirnya dia menyerah.

"yoongi, kamu udah selesai?"

tidak ada balasan.

lima belas menit. setengah jam. hoseok mulai merasa aneh. dia mencoba menelepon yoongi, tetapi panggilannya langsung masuk ke voicemail. rasa cemas di dadanya berubah menjadi kecewa.

tiga jam kemudian, ponselnya akhirnya berbunyi. hoseok meraihnya dengan cepat, tetapi saat dia membaca pesan yoongi, senyum kecil di wajahnya langsung memudar.

"maaf banget, seok. aku lagi ketemu temen lama tadi. nggak bisa ketemu malam ini, ya. mungkin besok?"

hoseok terdiam. dia membaca pesan itu berulang-ulang, mencoba menekan rasa kecewa yang tiba-tiba membanjiri dirinya. tetapi tidak peduli seberapa keras dia mencoba, hatinya terasa semakin berat.

"nggak apa-apa, yoongi. besok aja," balasnya akhirnya, mencoba terdengar santai meskipun hatinya hancur.

---

keesokan harinya di kantor, hoseok berusaha bersikap biasa saja. dia menyapa rekan-rekannya seperti biasa, tetapi senyumannya terasa dipaksakan. dan ketika yoongi masuk dengan senyuman lebarnya, hoseok tidak bisa menahan rasa kesalnya.

kau rumah ku (sope) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang