Pagi Hari, Awal yang Berbeda
Pagi itu, Hoseok bangun dengan perasaan campur aduk—antara gugup, bahagia, dan sedikit tidak percaya. Hari ini adalah hari spesial. Hari di mana dia dan Yoongi akan menjalani kencan pertama mereka. Rasanya seperti mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan.
Hoseok berdiri di depan cermin, mencoba berbagai outfit. "Terlalu formal," gumamnya saat melihat kemeja biru polos. Dia menggantinya dengan sweater abu-abu yang lebih santai. Tapi kemudian dia merasa itu terlalu biasa. "Kenapa susah banget, sih?" keluhnya sambil menjatuhkan diri ke tempat tidur.
Sementara itu, yoongi sibuk mengatur rencana di kepala. Dia ingin kencan pertama mereka berkesan. Setelah sekian lama berputar-putar dalam emosi dan ketidakpastian, akhirnya mereka punya momen ini. Dia mengirim pesan ke Hoseok.
“Sayang, aku jemput jam 5 sore, ya? Pakai pakaian yang nyaman aja, kita nggak mau yang terlalu formal.”
Hoseok membaca pesan itu dengan pipi yang langsung memerah. Kata “sayang” yang Yoongi gunakan terdengar begitu manis, tetapi Hoseok belum terbiasa. Dia mengetik balasan dengan jantung berdebar.
“Oke. Ditunggu, Yoongi.”
Yoongi tersenyum membaca balasannya. Dia tahu Hoseok masih malu-malu, tapi dia suka sisi itu dari Hoseok.
---
Pukul 5 tepat, Yoongi sudah berdiri di depan pintu rumah Hoseok dengan setelan kasual. Kemeja putih yang digulung hingga siku, celana panjang hitam, dan sepatu sneakers membuatnya terlihat santai tapi tetap memesona.
Ketika Hoseok membuka pintu, Yoongi terdiam sejenak. Hoseok mengenakan sweater biru pastel dengan jeans hitam. Rambutnya yang sedikit berantakan justru menambah daya tariknya.
“Cantik banget,” kata Yoongi tanpa sadar, membuat Hoseok semakin salah tingkah.
“Yoongi, jangan bercanda,” balas Hoseok sambil menunduk.
“Aku nggak bercanda, sayang,” Yoongi menegaskan sambil tersenyum lembut. “Ayo, kita pergi.”
---
Yoongi mengajak Hoseok ke taman di pinggir kota yang terkenal dengan pemandangan senja yang indah. Mereka berjalan berdampingan di jalan setapak yang dipenuhi bunga bermekaran. Angin sore bertiup lembut, membuat suasana semakin romantis.
“Sayang, kamu suka tempat ini?” tanya Yoongi sambil melirik Hoseok.
Hoseok menelan ludah, sedikit bingung dengan perasaannya sendiri. “Iya, bagus banget. Kamu tahu aja tempat yang pas.”
Yoongi tertawa kecil. “Tentu aja aku tahu. Aku udah lama memikirkan ini. Aku mau momen ini jadi kenangan indah buat kita.”
Hoseok hanya tersenyum kecil, masih belum berani menatap Yoongi terlalu lama.
---
Mereka berhenti di sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang. Yoongi membuka tas kecil yang dia bawa dan mengeluarkan dua gelas kopi dingin dan beberapa camilan.
“Ini buat kamu,” katanya sambil menyerahkan gelas ke Hoseok.
“Terima kasih, Yoongi,” jawab Hoseok pelan.
Yoongi menatap Hoseok dengan lembut, lalu berkata, “Sayang, aku senang banget akhirnya kita bisa kayak gini. Aku udah lama nunggu momen ini.”
Hoseok mendongak, menatap mata Yoongi yang penuh kehangatan. Dia ingin menjawab, tapi rasanya semua kata tertahan di tenggorokannya.
“Kenapa diem? Malu ya?” goda Yoongi sambil tertawa kecil.
Hoseok menggeleng pelan. “Aku… aku juga senang,” katanya akhirnya.
---
Setelah menikmati camilan, Yoongi berdiri dan mengulurkan tangannya ke Hoseok. “Ayo jalan lagi, sayang. Aku mau tunjukin sesuatu.”
Hoseok meraih tangan Yoongi, jantungnya berdebar keras. Mereka berjalan menuju sebuah bukit kecil di ujung taman. Dari sana, mereka bisa melihat matahari terbenam dengan sempurna.
Yoongi berdiri di belakang Hoseok, tangannya melingkar di pinggang Hoseok. “Kamu tahu, setiap kali aku lihat matahari terbenam, aku selalu mikir, kapan aku bisa nikmatin ini bareng orang yang aku sayang?”
Hoseok terdiam, wajahnya memerah hebat. Dia merasa seluruh tubuhnya hangat, bukan hanya karena matahari, tapi juga karena kata-kata Yoongi.
“Sekarang aku udah nemuin orang itu. Kamu, Hoseok.”
Hoseok menggigit bibirnya, menahan senyum yang hampir tak tertahan. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Yoongi sepertinya sadar Hoseok masih terlalu malu, jadi dia hanya memeluknya lebih erat.
“Kamu nggak harus jawab apa-apa, sayang. Aku cuma pengen kamu tahu, aku beneran serius sama kamu,” bisik Yoongi lembut.
Hoseok akhirnya mengangguk pelan, lalu berbalik dan menatap Yoongi. “Terima kasih, Yoongi. Aku juga… aku juga merasa hal yang sama.”
Yoongi tersenyum lebar, lalu mengecup kening Hoseok dengan lembut. “Aku janji, aku bakal bikin kamu bahagia, sayang.”
---
Mereka berhenti di sebuah bangku yang menghadap kolam kecil. Yoongi duduk, menarik Hoseok untuk duduk di sampingnya. Angin malam bertiup lembut, membuat suasana semakin syahdu.
“Aku boleh minta sesuatu?” tanya Yoongi, menatap Hoseok dengan serius.
“Apa?” jawab Hoseok pelan.
“Boleh aku cium kamu?”
Mata Hoseok membesar, wajahnya langsung memerah. Dia membuka mulut, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Yoongi hanya menunggu dengan sabar, memberikan Hoseok waktu untuk menjawab.
Akhirnya, Hoseok mengangguk pelan, hampir tak terlihat. Tapi itu cukup untuk Yoongi. Dengan hati-hati, Yoongi mendekatkan wajahnya, memastikan dia memberi Hoseok waktu untuk menolak jika dia berubah pikiran.
Dan ketika bibir mereka bersentuhan, dunia seolah berhenti berputar. Itu bukan ciuman yang terburu-buru atau penuh gairah, tapi lembut dan penuh perasaan. Hoseok merasa seluruh tubuhnya hangat, seolah semua keraguan dan ketakutannya menghilang dalam sekejap.
Ketika mereka akhirnya menjauh, Yoongi menatap Hoseok dengan senyuman lebar. “Aku janji, aku bakal jaga kamu sebaik mungkin, sayang.”
Hoseok tidak menjawab, tapi senyuman kecil yang muncul di wajahnya sudah cukup menjelaskan segalanya.
---
Malam itu, ketika Yoongi mengantar Hoseok pulang, mereka berpisah dengan sebuah pelukan erat di depan pintu rumah Hoseok. “Terima kasih untuk malam ini, Yoongi,” kata Hoseok pelan.
“Ini baru permulaan, sayang,” jawab Yoongi sambil mengecup kening Hoseok. “Aku nggak sabar untuk kencan-kencan kita berikutnya.”
Hoseok hanya bisa tersenyum, menutup pintu rumahnya dengan hati yang penuh kebahagiaan. Ini adalah awal dari sesuatu yang indah, dan dia tahu dia sudah menemukan tempatnya—di sisi Yoongi.
TBC
HDJSHSJSHS duh gemes sendiri deh nulisnya, kalian gemes ga?
KAMU SEDANG MEMBACA
kau rumah ku (sope)
RandomMenceritakan tentang kisah anak pertama, yang keluarga nya terlihat cemara dan penuh dengan kebahagiaan diluar, nyatanya di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan rumah pertamanya, dan mentalnya di hajar hingga hancur berkeping-keping. Jung hoseok...
