25. bertengkar

127 19 0
                                        

Malam itu, Hoseok duduk di sofa apartemennya, tangannya mengepal erat hingga buku-bukunya memutih. Ia bahkan tidak sadar betapa gemetarnya tubuhnya saat ponselnya berdering untuk kesekian kalinya. Nama Yoongi terus berkedip di layar, membuat darahnya mendidih semakin tinggi.

"Dasar brengsek," gumam Hoseok pelan sambil menekan tombol untuk menolak panggilan. Tapi Yoongi tak menyerah, terus menghubunginya, membuat kesabaran Hoseok yang sudah tipis semakin terkikis.

Ketukan di pintu apartemen membuat Hoseok terlonjak. Dengan langkah berat, dia berjalan menuju pintu, membukanya tanpa berpikir dua kali. Di sana, berdiri Yoongi dengan wajah penuh emosi, matanya memerah seperti orang yang habis menangis.

"Apa lagi?!" Hoseok langsung menyergah tanpa basa-basi.

Yoongi mengangkat tangannya, mencoba memberi isyarat agar Hoseok mendengarkan. "Seok, aku bisa jelasin—"

"Jelasin apa?! Jelasin kenapa aku liat kamu pegangan tangan sama cewek sialan itu lagi?! Jelasin kenapa aku harus dipermainkan untuk ketiga kalinya?! Anjing, Yoongi, aku capek! aku bener-bener capek jadi orang yang kamu injek-injek seenaknya!" Hoseok langsung meledak, suaranya menggema di ruangan kecil itu.

Yoongi melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu di belakangnya. "Seok, dengerin aku dulu! aku nggak ngelakuin apa-apa sama dia! kamu cuma salah paham!"

"Salah paham?!" Hoseok tertawa sinis, tangannya menunjuk dada Yoongi dengan penuh emosi. "kamu pikir aku buta?! aku liat kamu, Yoongi! kamu pegangan tangan, ketawa-ketawa mesra, kayak dunia cuma milik kalian berdua! aku apaan di hidup kamu sebenernya, hah?"

Yoongi mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya berat. "Dia cuma temen lama, Seok! aku nggak punya perasaan apa-apa ke dia! kamu tuh terlalu sensitif!"

"Bangsat!" Hoseok mendorong dada Yoongi dengan keras hingga Yoongi hampir terhuyung mundur. "aku terlalu sensitif?! Jadi ini salah aku, hah?! kamu nggak pernah mau ngaku salah! kamu cuma berlindung dibalik kata teman, capek aku, yoon!"

"Karena emang itu kenyataan nya, Seok!" Yoongi balik berteriak, emosinya akhirnya meledak juga. "kamu selalu mikir aku brengsek, padahal aku nggak ngelakuin apa-apa! aku cuma ngobrol sama dia, Seok! aku nggak ngerti kenapa kamu selalu bikin masalah dari hal kecil!"

"Hal kecil?!" Hoseok menatap Yoongi dengan mata penuh kemarahan. "kamu pikir aku sakit hati kayak gini cuma karena 'hal kecil'?! kamu tau apa tentang perasaan aku, Yoongi? kamu cuma bisa bilang bakal bikin aku bahagia, nyatanya apa? kamu bikin aku bahagia, ga? kamu cuma bikin aku bahagia di moment moment tertentu."

"kamu tuh berlebihan, Seok!" Yoongi menekan suaranya, tapi jelas terlihat dia berusaha menahan amarahnya. "aku udah capek sama drama kamu! kamu selalu bikin aku ngerasa aku nggak cukup baik, padahal aku udah coba segalanya buat kamu!"

"Segalanya?!" Hoseok tertawa pahit. "Kalau itu segalanya, aku nggak mau tahu apa jadinya kalau kamu nggak peduli sama sekali. Karena apa yang kamu lakukan itu bukan cinta, Yoongi. Itu cuma kamu yang nggak mau sendirian!"

Yoongi terdiam sesaat, kata-kata Hoseok menancap seperti belati di hatinya. Tapi bukannya meredam, dia malah semakin naik pitam. "Kalau aku nggak cinta sama kamu, aku nggak akan ada di sini sekarang, bangsat!"

"kamu ada di sini bukan karena cinta, Yoongi!" Hoseok menunjuk Yoongi lagi, napasnya tersengal. "kamu ada di sini karena kamu takut kehilangan mainan kamu! iyakan?! aku bukan boneka kamu yang bisa kamu permainkan kapan pun kamu mau!"

Yoongi mencengkeram pergelangan tangan Hoseok dengan kuat, membuat Hoseok terdiam sejenak. "Jaga omongan kamu, Hoseok. aku nggak pernah main-main sama kamu."

Hoseok menepis tangan Yoongi dengan kasar. "Kalau kamu nggak main-main, kenapa aku selalu ngerasa sendirian di hubungan ini, hah?! kamu pikir permintaan maaf kamu bisa nyelamatin semuanya?! bacot, Yoongi, aku udah muak!"

Yoongi menghela napas berat, mencoba mengatur emosinya yang sudah di ambang batas. Tapi Hoseok tidak memberinya waktu untuk berbicara lagi.

"kamu pikir aku akan terus nerima alasan kamu, Yoon?!" Hoseok menatapnya dengan mata yang basah karena air mata yang tertahan. "aku udah ngasih kamu kesempatan, lebih dari yang kamu pantas dapetin! Tapi kamu selalu, selalu ngecewain aku!"

Yoongi mencoba mendekat, tangannya terangkat seolah ingin meraih Hoseok, tapi Hoseok mundur. "Jangan sentuh aku, Yoongi. Jangan sentuh aku lagi."

"Seok, aku bener-bener nggak mau kehilangan kamu," kata Yoongi, suaranya mulai melembut, tapi masih penuh dengan emosi. "aku nggak tahu gimana caranya bikin kamu percaya lagi, tapi aku mau kamu tahu kalau aku cuma punya kamu. aku nggak peduli sama orang lain, aku cuma peduli sama kamu."

Hoseok menatap Yoongi, hatinya penuh dengan rasa sakit dan kekecewaan yang hampir tak tertahankan. "Kalau kamu bener-bener peduli, kamu nggak akan bikin aku ngerasa kayak gini."

Tanpa menunggu jawaban, Hoseok berjalan ke arah pintu, membukanya lebar-lebar. "Keluar, Yoongi. aku butuh waktu buat mikir. Dan kamu juga harus mikir, apakah hubungan ini masih layak diperjuangin atau nggak."

Yoongi berdiri terpaku, matanya menatap Hoseok dengan campuran rasa marah dan putus asa. Tapi dia tahu bahwa melawan Hoseok sekarang hanya akan memperburuk keadaan. Dengan berat hati, dia melangkah keluar, pintu tertutup dengan suara yang menggema di apartemen Hoseok.

Dan untuk pertama kalinya, apartemen itu terasa begitu sunyi hingga suara napas Hoseok sendiri pun terasa menyakitkan.

TBC

oh nooo...:(((

kau rumah ku (sope) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang