16. maafin aku

168 22 0
                                        

Pagi itu, suasana di kantor masih sama seperti biasanya—sibuk, bising, dan penuh dengan suara keyboard yang mengetik tanpa henti. Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, Yoongi tidak bisa berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja. Dia memandang ke arah meja Hoseok, tempat pria itu sibuk menatap layar komputernya tanpa sedikit pun menoleh.

Yoongi menarik napas dalam-dalam, menggenggam cangkir kopi di tangannya lebih erat. Dia tahu, hari ini dia harus bicara. Dia sudah tidak bisa menunda lagi.

Langkah Yoongi terasa berat saat dia mendekati meja Hoseok. “Seok…” panggilnya pelan, hampir tidak terdengar di antara suara bising di ruangan itu.

Hoseok menoleh, menatap Yoongi dengan tatapan datar. “Ada apa?”

“Aku mau bicara,” kata Yoongi dengan nada pelan, mencoba terdengar lembut. “Tolong… cuma lima menit.”

Hoseok menatap Yoongi sejenak, sebelum akhirnya berdiri dari kursinya. “Oke. Di pantry aja,” katanya singkat, lalu berjalan lebih dulu tanpa menunggu Yoongi.

Yoongi mengikuti langkahnya, merasa gugup. Di pantry, suasana jauh lebih tenang. Tidak ada orang lain di sana, hanya mereka berdua. Hoseok menyandarkan tubuhnya ke meja, melipat tangan di depan dada, menunggu Yoongi bicara.

“Jadi?” tanya Hoseok dengan nada dingin.

Yoongi menggenggam cangkir kopinya, mencari kata-kata yang tepat. “Aku… aku cuma mau bilang kalau aku benar-benar minta maaf, Seok.”

Hoseok menatap Yoongi tanpa ekspresi, lalu tertawa kecil. “Kamu udah bilang itu, Yoongi. Berkali-kali. Apa bedanya kali ini?”

Yoongi menghela napas, merasakan sakit di dadanya karena kata-kata Hoseok. “Aku tahu aku udah bilang itu, tapi aku nggak tahu gimana lagi caranya buat nunjukin kalau aku benar-benar menyesal.”

“Menyesal?” ulang Hoseok, nada suaranya penuh sindiran. “Kamu baru menyesal setelah semuanya hancur, Yoongi. Setelah aku nggak punya apa-apa lagi untuk percaya.”

Yoongi menunduk, merasa malu. “Aku tahu aku nggak bisa ngubah apa yang udah terjadi. Aku tahu aku nggak pantas buat dimaafin. Tapi aku nggak mau menyerah, Seok. Aku nggak mau kehilangan kamu.”

“Kamu udah kehilangan aku,” potong Hoseok tajam. “Kamu kehilangan aku sejak hari itu, Yoongi. Dan nggak ada yang bisa ngubah itu.”

Yoongi menggigit bibirnya, mencoba menahan emosinya. “Aku tahu aku bikin kesalahan, Seok. Tapi aku nggak mau menyerah. Aku mau kamu tahu kalau aku akan ngelakuin apa aja buat dapetin kepercayaanmu lagi.”

Hoseok menggeleng pelan, lalu tertawa pahit. “Apa gunanya kepercayaan kalau kamu nggak pernah menghargainya, Yoongi? Kamu pikir aku bisa lupa gitu aja?”

“Aku nggak mau kamu lupa,” jawab Yoongi cepat. “Aku cuma mau kamu kasih aku kesempatan buat memperbaiki semuanya.”

Hoseok terdiam, menatap Yoongi dengan mata yang penuh rasa sakit. “Kesempatan?” katanya akhirnya. “Kamu mau aku kasih kesempatan buat apa, Yoongi? Buat nyakitin aku lagi?”

“Tidak!” seru Yoongi, suaranya penuh emosi. “Aku nggak akan nyakitin kamu lagi, Seok. Aku janji.”

“Janji?” Hoseok mengulang kata itu dengan nada sinis. “Kamu tahu berapa kali kamu udah ngasih janji yang sama? Dan lihat apa yang terjadi.”

Yoongi merasa seperti ditampar. Tapi dia tahu Hoseok punya hak untuk marah, untuk kecewa. Dia tahu, ini semua salahnya. “Aku nggak bisa balik ke masa lalu,” kata Yoongi pelan. “Tapi aku bisa mulai dari sekarang, Seok. Aku bisa buktiin kalau aku berubah.”

Hoseok tertawa kecil, lalu menggelengkan kepala. “Aku capek, Yoongi. Aku capek berharap, capek percaya. Dan aku nggak tahu apakah aku punya energi lagi untuk kasih kamu kesempatan.”

Yoongi menatap Hoseok dengan mata yang hampir putus asa. “Tolong, Seok. Aku nggak minta kamu buat percaya sama aku sekarang. Aku cuma minta kamu kasih aku waktu buat buktiin semuanya.”

Hoseok menghela napas panjang, lalu memalingkan wajahnya. “Aku nggak tahu, Yoongi. Aku benar-benar nggak tahu.”

Yoongi mendekat, mencoba menyentuh lengan Hoseok, tapi pria itu langsung mundur. “Tolong jangan sentuh aku,” kata Hoseok dengan suara yang hampir bergetar.

Yoongi menurunkan tangannya, merasa hancur. “Maaf…” katanya pelan. “Aku cuma mau kamu tahu kalau aku beneran menyesal.”

Hoseok tidak menjawab. Dia hanya menatap Yoongi sekali lagi sebelum berbalik dan meninggalkan pantry, meninggalkan Yoongi sendirian dengan rasa bersalah yang semakin berat.

---

Malam itu, Yoongi duduk di kamarnya, menatap foto lama mereka berdua di ponselnya. Senyuman Hoseok di foto itu terasa seperti hantu, mengingatkannya pada apa yang telah dia hancurkan.

Dia menulis pesan, lalu menghapusnya. Menulis lagi, lalu menghapus lagi. Akhirnya, dia hanya mengetik dua kata sederhana.

“Maafin aku.”

Dan untuk pertama kalinya, Yoongi merasa benar-benar tidak tahu apakah dia masih punya harapan.

TBC

maafin jangan? maafin jangan

kau rumah ku (sope) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang