Langit pagi itu cerah, tapi suasana di kantor terasa berbeda. Hoseok duduk di meja kerjanya, mencoba fokus pada layar komputer di depannya. Tangannya bergerak mengetik, tapi pikirannya melayang. Sementara itu, di seberang ruangan, Yoongi berdiri ragu-ragu di dekat pintu masuk, menatap Hoseok dari kejauhan.
“Seok…” Yoongi bergumam pada dirinya sendiri, mengambil napas panjang sebelum akhirnya melangkah mendekat. Setiap langkah terasa berat, seperti ada beban yang terus menekan dadanya.
Hoseok tahu Yoongi mendekat. Tanpa harus menoleh, dia bisa merasakan kehadirannya. Dan ketika suara lembut itu akhirnya terdengar, jantung Hoseok berdegup lebih kencang meskipun dia berusaha keras terlihat tenang.
“Seok, bisa kita bicara sebentar?” tanya Yoongi dengan nada hati-hati.
Hoseok tidak langsung menjawab. Dia menghela napas pelan, mencoba menahan emosinya, lalu menatap Yoongi dengan mata yang sulit ditebak. “Bicara soal apa?”
Yoongi menelan ludah, gugup dengan respons dingin Hoseok. “Aku… aku mau minta maaf,” katanya akhirnya, suaranya bergetar. “Aku tahu ini nggak cukup, tapi aku perlu kamu tahu kalau aku benar-benar menyesal.”
Hoseok tertawa kecil, penuh kepahitan. “Minta maaf? Kamu pikir kata-kata itu cukup buat memperbaiki semuanya?”
“Tidak,” jawab Yoongi cepat. “Aku tahu nggak cukup. Tapi aku nggak tahu harus mulai dari mana lagi, Seok. Aku nggak bisa terus seperti ini.”
Mata Hoseok menyipit, menatap Yoongi dengan penuh rasa tidak percaya. “Kamu nggak bisa terus seperti ini? Bagus. Karena aku juga nggak bisa.”
Yoongi menarik kursi di depan meja Hoseok, mencoba duduk meskipun dia tahu Hoseok mungkin tidak akan suka. “Seok, aku bodoh. Aku egois. Aku bikin kesalahan yang nggak bisa dimaafin. Tapi tolong… beri aku kesempatan buat ngomong.”
Hoseok bersandar ke kursinya, melipat tangan di depan dada. “Ngomong apa? Apa lagi yang mau kamu bilang, Yoongi? Kamu mau jelasin apa yang udah jelas?”
Yoongi terdiam sesaat, mencoba mencari kata-kata. “Aku nggak tahu apa aku bisa jelasin semuanya. Tapi aku mau kamu tahu… aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu.”
“Tapi kamu tetap nyakitin aku,” potong Hoseok, suaranya tajam. “Kamu pikir bilang ‘aku nggak bermaksud’ itu bakal bikin semuanya baik-baik aja?”
“Tidak,” Yoongi mengakui, suaranya melemah. “Aku tahu nggak akan. Tapi aku nggak mau kamu berpikir kalau kamu nggak berarti buat aku.”
Hoseok tertawa kecil lagi, tetapi kali ini ada air mata yang menggenang di matanya. “Kamu udah bikin aku merasa seperti itu, Yoongi. Dan aku nggak tahu apakah aku bisa percaya sama kamu lagi.”
Ruangan itu hening sejenak. Rekan-rekan mereka yang lain seolah menghilang, menyisakan hanya mereka berdua dalam ketegangan yang sulit dijelaskan.
“Seok,” kata Yoongi akhirnya, suaranya lebih lembut. “Aku tahu aku nggak pantas buat minta kesempatan kedua. Aku tahu aku udah ngancurin semua kepercayaan yang kamu kasih ke aku. Tapi aku nggak mau kehilangan kamu.”
Hoseok menatap Yoongi, mencoba mencari kejujuran di matanya. “Kenapa sekarang, Yoongi? Kenapa baru sekarang kamu bilang hal itu?”
“Aku butuh waktu untuk sadar,” jawab Yoongi jujur. “Dan aku tahu, aku terlambat. Tapi aku mohon… jangan biarin aku kehilangan satu-satunya hal yang berarti dalam hidupku.”
Hoseok mengalihkan pandangannya, menatap keluar jendela. Di dalam hatinya, ada pertempuran besar yang tidak terlihat. Bagian dari dirinya ingin mempercayai Yoongi, tetapi bagian lainnya berteriak bahwa ini hanya akan membawa lebih banyak rasa sakit.
“Aku nggak tahu, Yoongi,” kata Hoseok akhirnya, suaranya nyaris berbisik. “Aku nggak tahu apakah aku bisa mempercayai kamu lagi.”
---
Malam itu, Hoseok tidak bisa tidur. Kata-kata Yoongi terus terngiang-ngiang di kepalanya, mengguncang dinding pertahanan yang telah ia bangun selama ini. Ia tahu ia harus membuat keputusan, tetapi setiap kali ia mencoba, hatinya terasa semakin berat.
Sementara itu, Yoongi duduk di apartemennya, menatap layar ponselnya yang kosong. Dia tahu Hoseok butuh waktu, tapi dia juga tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menghubunginya.
“Seok, aku nggak akan nyerah,” tulis Yoongi akhirnya. “Aku akan buktiin kalau aku layak buat kamu percaya lagi.”
Pesan itu tidak mendapat balasan. Tapi Yoongi tidak menyerah. Keesokan harinya, dia menunggu Hoseok di depan rumahnya, berharap bisa berbicara lagi dengannya.
---
“Yoongi, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Hoseok saat membuka pintu. Ekspresinya campuran antara bingung dan lelah.
“Aku cuma mau ngomong, Seok,” jawab Yoongi. “Aku tahu aku bilang akan nunggu, tapi aku nggak bisa duduk diam tanpa melakukan apa-apa.”
Hoseok menghela napas. “Yoongi, aku bilang aku butuh waktu.”
“Aku tahu,” kata Yoongi cepat. “Aku tahu, dan aku nggak mau memaksa kamu. Aku cuma… aku cuma mau kamu tahu kalau aku serius. Aku akan ngelakuin apa aja buat dapetin kepercayaanmu lagi.”
Hoseok menatap Yoongi, mencoba mencari kejujuran di balik kata-katanya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Yoongi—kesungguhan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Aku nggak janji apa-apa,” kata Hoseok akhirnya. “Tapi kalau kamu benar-benar mau buktiin, kamu harus sabar. Aku nggak bisa janji kalau ini akan mudah.”
Yoongi mengangguk, wajahnya dipenuhi harapan. “Aku akan sabar, Seok. Aku janji.”
---
Malam itu, Hoseok kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, menerima Yoongi kembali bukanlah keputusan yang bisa ia buat dengan mudah. Tapi di dalam hatinya, ada bagian kecil yang berharap bahwa mungkin, hanya mungkin, cinta mereka masih punya kesempatan.
TBC
ahay ahay, gimana gimana? mantap ga?
KAMU SEDANG MEMBACA
kau rumah ku (sope)
SonstigesMenceritakan tentang kisah anak pertama, yang keluarga nya terlihat cemara dan penuh dengan kebahagiaan diluar, nyatanya di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan rumah pertamanya, dan mentalnya di hajar hingga hancur berkeping-keping. Jung hoseok...
