27. pergi!

134 20 1
                                        

Lagi dan lagi, suara ketukan pelan terdengar dari pintu depan. Dia tidak perlu menebak siapa yang datang—hanya ada satu orang yang akan mengetuk pintunya di malam sedingin ini. Dengan napas panjang, dia berjalan ke pintu dan membukanya.

Yoongi berdiri di sana, dengan jaket hitamnya yang biasa dan wajah yang tampak lebih lelah dari sebelumnya. Matanya memandang Hoseok penuh harap, tetapi Hoseok tidak membalas dengan senyuman.

“Aku cuma mau ngomong,” kata Yoongi cepat, sebelum Hoseok sempat menutup pintu.

Hoseok menghela napas, lalu melangkah ke samping, membiarkan Yoongi masuk. Dia tahu, pembicaraan ini tidak akan mudah.

Yoongi berdiri canggung di tengah ruangan, mengamati tempat yang dulu begitu akrab baginya. "Aku... aku tahu aku udah bikin salah. Banyak salah," dia memulai, suaranya pelan.

Hoseok menatapnya tajam. “Kamu selalu bilang itu. Selalu bilang kamu salah, terus minta maaf. Tapi kamu nggak pernah berubah.”

Yoongi mengangguk, mengakui kebenaran itu. “Aku tahu. Aku cuma... Aku nggak tahu kenapa aku terus nyakitin kamu. Tapi aku nggak pernah berhenti sayang sama kamu, Hoseok. Itu yang harus kamu tahu.”

Hoseok tersenyum sinis, meskipun hatinya terasa sakit. “Sayang? Kamu bilang kamu sayang, tapi kamu terus-terusan bohong. Kamu nggak pernah mikirin perasaan aku.”

“Aku mikirin kamu!” Yoongi membalas, suaranya sedikit meninggi. “Aku nggak sempurna, tapi aku selalu mikirin kamu, Hoseok. Aku nggak pernah berhenti.”

“Kalau kamu mikirin aku, kenapa kamu terus nyakitin aku?” suara Hoseok mulai bergetar, amarah dan kesedihannya tercampur jadi satu. “Kenapa kamu selalu bikin aku ngerasa nggak cukup? Apa aku nggak cukup buat kamu, Yoongi?”

Yoongi mendekat, mencoba menyentuh tangan Hoseok, tapi Hoseok mundur. “Kamu cukup, Hoseok. Kamu lebih dari cukup. Masalahnya aku yang nggak cukup baik buat kamu. Aku yang bodoh.”

Hoseok menatapnya, matanya mulai memerah karena menahan tangis. “Kalau kamu tahu kamu nggak cukup baik buat aku, kenapa kamu nggak pernah nyoba buat jadi lebih baik? Kenapa kamu terus bikin aku nunggu, berharap kamu berubah?”

Yoongi terdiam. Dia tidak punya jawaban untuk itu. Dia tahu Hoseok benar. Dia tahu dia sudah gagal berkali-kali.

“Aku minta maaf,” akhirnya Yoongi berkata, suaranya hampir berbisik. “Aku bener-bener minta maaf, Hoseok. Aku tahu aku nggak layak dimaafin, tapi aku nggak bisa hidup tanpa kamu.”

Air mata akhirnya jatuh dari mata Hoseok. Dia menggelengkan kepala pelan. “Kamu selalu bilang itu, Yoongi. Selalu bilang kamu nggak bisa hidup tanpa aku. Tapi kamu nggak pernah mikirin gimana rasanya jadi aku—hidup dengan rasa sakit yang terus kamu kasih.”

“Aku akan berubah,” Yoongi mencoba lagi, suaranya penuh desperation. “Aku akan jadi orang yang lebih baik buat kamu. Aku janji.”

“Janji?” Hoseok tertawa kecil, penuh kepahitan. “Aku udah denger itu terlalu sering, Yoongi. Dan setiap kali aku percaya, kamu selalu ngecewain aku.”

Yoongi maju lagi, kali ini memegang kedua tangan Hoseok. “Aku nggak mau kehilangan kamu, Hoseok. Aku nggak tahu harus gimana tanpa kamu.”

Hoseok menatapnya, tangannya gemetar di genggaman Yoongi. Dia ingin percaya, ingin memberi kesempatan lagi. Tapi hatinya terlalu lelah. Terlalu banyak luka yang belum sembuh.

“Yoongi...” suara Hoseok pelan, hampir seperti bisikan. “Aku nggak bisa terus kayak gini. Aku nggak bisa terus-terusan ngerasa kayak aku nggak cukup.”

Yoongi mengguncang kepala pelan, matanya mulai berkaca-kaca. “Tolong, Hoseok. Jangan lakukan ini. Aku akan berubah. Aku janji kali ini aku serius.”

Hoseok melepaskan tangannya dari genggaman Yoongi dan mundur. “Aku udah bilang, aku capek, Yoongi. Aku capek terus-terusan nunggu kamu berubah, capek terus-terusan ngejalanin hubungan yang cuma bikin aku sakit.”

Yoongi terlihat panik, hampir putus asa. “Tolong, Hoseok. Beri aku kesempatan lagi. Aku nggak bisa... Aku nggak bisa kehilangan kamu.”

“Tolong pergi,” Hoseok berkata pelan, tapi tegas. Matanya menatap langsung ke mata Yoongi. “Aku nggak bisa lagi. Tolong, Yoongi. Pergi.”

Yoongi berdiri di sana, terdiam, seolah tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. “Hoseok...”

“Pergi, Yoongi!” Hoseok hampir berteriak, suaranya pecah oleh emosi. “Tolong jangan bikin ini lebih susah lagi dari yang udah ada.”

Yoongi menatap Hoseok untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Kemudian, tanpa kata lain, dia berbalik dan berjalan ke pintu. Sebelum dia pergi, dia menoleh sekali lagi, berharap melihat sedikit keraguan di wajah Hoseok. Tapi yang dia lihat hanyalah tekad.

Dengan langkah berat, Yoongi akhirnya pergi, meninggalkan Hoseok sendirian di ruang tamu yang sunyi. Saat pintu tertutup, Hoseok jatuh terduduk, air mata mengalir tanpa henti. Dia tahu ini yang terbaik, tapi kenapa rasanya seperti hatinya baru saja hancur berkeping-keping?

TBC

huhuhuhu, author sedih, author sedih banget...

kau rumah ku (sope) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang