Yoongi sadar, memulihkan kepercayaan Hoseok tidak hanya membutuhkan kata-kata. Kali ini, ia memutuskan untuk bertindak lebih besar, dengan usaha tanpa henti, bahkan jika itu berarti ia harus kehilangan kebanggaan atau egonya.
---
Hari 1: Kopi Pagi
Di pagi pertama setelah perbincangan mereka yang menyakitkan, Hoseok menemukan secangkir kopi panas favoritnya di meja kerja. Di sampingnya ada secarik catatan kecil.
"Untuk memulai harimu dengan baik. Semoga kamu nggak lupa kalau kamu selalu istimewa. - Yoongi"
Hoseok hanya menatapnya sejenak sebelum meminum kopi itu. Meski ia enggan mengakui, rasa pahit kopi itu justru meninggalkan kehangatan di hatinya.
Namun, ia tetap menyimpan rasa kecewa, menekan keinginan untuk tersenyum.
---
Hari 3: Makan Siang
Yoongi tahu kalau kata-kata saja tidak cukup. Dia mulai belajar kebiasaan Hoseok, terutama waktu makan siangnya yang sering dilewatkan karena terlalu sibuk bekerja. Hari itu, pukul 12 siang tepat, seorang kurir datang ke ruang kerja Hoseok membawa makanan kesukaannya—ayam pedas, nasi hangat, dan es teh manis.
Di dalam kantong makanan itu ada catatan kecil.
"Nggak apa-apa kalau kamu belum mau ngobrol sama aku. Yang penting kamu tetap jaga kesehatan. Aku bakal selalu jagain kamu, dari jauh atau dekat."
Hoseok membaca catatan itu berulang kali. Perasaan hangat mulai merayap, meskipun dia masih mencoba menahannya. Dia mengetik pesan singkat untuk Yoongi.
"Terima kasih. Tapi ini nggak akan mengubah apapun."
Yoongi hanya membalas dengan, "Aku tahu. Tapi aku nggak akan berhenti berusaha."
---
Hari 5: Surat Tertulis Tangan
Di pagi hari kelima, Hoseok menemukan amplop putih di mejanya. Di dalamnya, ada surat yang ditulis tangan oleh Yoongi. Surat itu panjang, penuh dengan ungkapan maaf dan janji untuk berubah.
"Hoseok, aku tahu aku sudah menyakitimu. Aku tahu aku adalah orang yang egois dan bodoh karena tidak menghargai kamu. Tapi aku nggak akan pernah berhenti meminta maaf. Kamu adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku, dan aku nggak mau menyerah untuk memperbaiki semuanya. Kalau aku harus menunggu seumur hidup, aku akan menunggu. Tapi tolong, jangan menjauh."
Hoseok membaca surat itu di sudut ruangannya, jauh dari pandangan rekan-rekannya. Air matanya mulai menggenang, tapi dia buru-buru menghapusnya sebelum ada yang melihat.
---
Hari 10: Hujan di Taman
Hari itu, hujan turun deras. Hoseok yang lupa membawa payung memilih menunggu di lobi kantor. Namun, saat dia sedang menunggu, Yoongi tiba-tiba muncul dengan payung besar.
"Ayo aku antar pulang," kata Yoongi singkat, tidak peduli tubuhnya sudah basah kuyup karena berlari dari mobil.
Hoseok ingin menolak, tapi tatapan Yoongi terlalu tulus untuk diabaikan. Mereka berjalan berdua di bawah payung yang sama, dalam diam. Meski tidak ada kata-kata, Hoseok bisa merasakan ketulusan di setiap langkah Yoongi.
---
Hari 15: Kejutan Malam Hari
Yoongi tahu Hoseok sering lembur dan melewatkan makan malam. Malam itu, ia menunggu di luar kantor Hoseok dengan kantong berisi makanan. Ketika Hoseok keluar, Yoongi menyerahkan kantong itu tanpa berkata apa-apa.
"Apa ini?" tanya Hoseok, meski ia sudah tahu jawabannya.
"Makanan favorit kamu," jawab Yoongi dengan senyum kecil. "Aku tahu kamu sering lupa makan kalau lembur."
Hoseok ingin marah, tapi tidak bisa. Dia hanya mengambil kantong itu dan berterima kasih pelan, lalu berjalan pergi.
---
Hari 20: Sketsa Kenangan
Di suatu pagi, Hoseok menemukan sebuah buku sketsa di mejanya. Di dalamnya, ada gambar-gambar sederhana yang Yoongi buat sendiri. Gambar mereka berdua saat pertama kali bertemu di kantor, gambar mereka makan siang bersama, hingga gambar senyuman Hoseok yang Yoongi coba abadikan.
Di halaman terakhir, ada tulisan tangan:
"Aku tahu aku nggak sempurna, Hoseok. Tapi aku akan terus mencoba jadi orang yang lebih baik, untuk kamu. Karena aku mencintaimu lebih dari apapun."
Hoseok tidak bisa menahan air matanya kali ini. Ia memeluk buku itu erat-erat, perasaannya campur aduk antara marah, kecewa, dan sedikit kehangatan yang mulai ia rasakan lagi.
---
Hari 25: Permintaan Maaf di Hadapan Umum
Hari itu, di tengah rapat besar, Yoongi tiba-tiba berdiri. Semua mata menatapnya bingung, termasuk Hoseok.
"Maaf," kata Yoongi, suaranya tegas namun penuh penyesalan. "Aku tahu ini bukan waktu atau tempatnya, tapi aku harus mengatakan ini. Aku ingin minta maaf pada seseorang yang sudah sangat aku sakiti—Hoseok."
Ruangan langsung sunyi. Hoseok menunduk, wajahnya memerah karena malu dan bingung.
Yoongi melanjutkan, "Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku benar-benar menyesal. Dan aku nggak akan berhenti memperbaiki semua kesalahan yang sudah aku buat."
Setelah rapat selesai, Hoseok mendekati Yoongi di lorong.
"Kamu sadar nggak betapa malunya aku karena kamu?" katanya dingin.
"Aku sadar," jawab Yoongi pelan. "Tapi aku lebih malu lagi kalau aku nggak melakukan apapun untuk mendapatkan kamu kembali."
Hoseok terdiam, matanya penuh emosi yang sulit ia artikan. Untuk pertama kalinya, dia merasa Yoongi benar-benar serius.
---
Hari 30: Langkah Terakhir
Yoongi memutuskan untuk membuat langkah besar. Dia mengundang Hoseok untuk bertemu di taman tempat mereka biasa duduk bersama. Di bangku yang sama, Yoongi menunggu dengan sebuah kotak kecil di tangannya.
Saat Hoseok tiba, Yoongi berdiri. "Aku tahu aku nggak layak minta ini. Tapi aku ingin kamu tahu, aku nggak pernah berhenti mencintai kamu. Dan aku nggak akan pernah berhenti mencoba sampai kamu percaya lagi sama aku."
Yoongi membuka kotak itu. Di dalamnya ada gelang sederhana dengan permata cantik.
"Bukan cincin," kata Yoongi sambil tersenyum kecil. "Tapi aku ingin kamu tahu, ini adalah janji aku. Aku nggak akan menyakitimu lagi."
Hoseok menatap gelang itu, matanya berkaca-kaca. Kali ini, dia tidak menolak.
---
Dengan usaha tanpa henti, Yoongi akhirnya mulai menembus dinding yang Hoseok bangun. Tapi, apakah cinta mereka cukup kuat untuk memulai kembali?
TBC
apakah yoonseok akan kembali????
KAMU SEDANG MEMBACA
kau rumah ku (sope)
SonstigesMenceritakan tentang kisah anak pertama, yang keluarga nya terlihat cemara dan penuh dengan kebahagiaan diluar, nyatanya di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan rumah pertamanya, dan mentalnya di hajar hingga hancur berkeping-keping. Jung hoseok...
