Malam itu Hoseok baru saja selesai dengan pekerjaannya yang menumpuk. Hari itu cukup melelahkan, tapi pikiran tentang Yoongi selalu menjadi pelipur laranya. Yoongi sudah berjanji untuk menemaninya makan malam, sekadar melepas penat dan berbicara santai. Namun hingga pukul delapan malam, pesan dari Yoongi tidak juga masuk.
Hoseok mencoba untuk tidak berpikir macam-macam. "Mungkin dia masih sibuk," gumamnya, meyakinkan diri. Tetapi, hatinya mulai gelisah.
Hingga sebuah pesan akhirnya masuk di ponselnya. Namun bukan dari Yoongi.
"Seok, kamu udah liat ini?" Itu pesan dari Jimin, salah satu teman dekat mereka.
Hoseok mengernyitkan dahi, lalu membuka tautan yang dikirimkan Jimin. Sebuah foto terbuka—Yoongi terlihat duduk di sebuah restoran, tersenyum lebar dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya. Mereka duduk berhadapan, tapi jarak di antara mereka sangat dekat. Di foto lain, terlihat tangan Yoongi yang seperti menyentuh tangan wanita itu di atas meja. Mereka tampak akrab, bahkan terlalu akrab.
Hoseok terdiam. Dunia di sekitarnya terasa berhenti. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena kebahagiaan—melainkan karena rasa sakit yang perlahan memenuhi dadanya.
“Kenapa… lagi?” gumam Hoseok, hampir tidak percaya. Tangannya bergetar saat memegang ponsel. Foto itu terlalu jelas, terlalu nyata untuk diabaikan.
Hoseok mencoba menghubungi Yoongi, tapi panggilan itu langsung masuk ke voicemail. Dia menunggu beberapa menit, mencoba menelepon lagi, tapi hasilnya sama. Tidak ada jawaban. Tidak ada penjelasan.
Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri, tetapi pikiran-pikiran negatif terus bermunculan. Ini bukan pertama kalinya dia melihat sesuatu seperti ini. Dua kali sebelumnya, dia sudah memergoki Yoongi dengan wanita lain. Yoongi selalu memiliki alasan, selalu meyakinkannya bahwa itu hanya teman atau kolega. Hoseok ingin percaya. Dia ingin percaya dengan segenap hatinya. Tapi kali ini… ini terasa berbeda.
---
Pukul sembilan malam, pintu apartemen Hoseok diketuk. Dia tahu siapa itu sebelum membuka pintu. Dan benar saja, di depan pintu berdiri Yoongi dengan senyum yang biasanya membuat hati Hoseok melunak. Tapi malam ini, senyum itu terasa seperti penghinaan.
“Hai, Seok,” sapa Yoongi ringan. Dia membawa kantong plastik berisi makanan. “Maaf aku telat. Aku beliin makanan favorit kamu.”
Hoseok tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Yoongi dengan dingin, membuat senyum di wajah pria itu perlahan memudar.
“Kamu kenapa?” tanya Yoongi akhirnya.
Hoseok melangkah mundur, memberi Yoongi ruang untuk masuk. Tapi suasana di apartemen itu terasa berat, dan Yoongi bisa merasakannya.
“Kamu tahu aku kenapa,” jawab Hoseok pelan, suaranya hampir berbisik. Tapi di balik nada tenangnya, ada rasa sakit yang begitu dalam.
Yoongi mengernyit. “Aku nggak ngerti, Seok. Ada apa?”
Hoseok mengambil ponselnya dari meja, membuka foto yang tadi dikirimkan Jimin, lalu menunjukkannya pada Yoongi. “Ini apa, Yoongi?”
Yoongi terdiam. Wajahnya berubah, dan untuk pertama kalinya, Hoseok bisa melihat rasa bersalah di mata Yoongi.
“Itu…” Yoongi mencoba berbicara, tapi suaranya tersangkut di tenggorokannya. “Itu cuma—”
“Jangan bilang itu cuma teman,” potong Hoseok. Air mata mulai menggenang di matanya, tapi dia menolak untuk menangis di depan Yoongi. “Karena ini udah ketiga kalinya aku lihat kamu kayak gini. Ketiga kalinya, Yoongi.”
“Seok, dengar aku,” Yoongi mencoba mendekat, tapi Hoseok mundur selangkah, menjaga jarak. “Itu nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku cuma—”
“Cuma apa?” Hoseok akhirnya meninggikan suaranya. “Cuma bikin aku terlihat bodoh? Cuma bikin aku berharap bahwa kamu benar-benar serius sama aku? Yoongi, kamu tahu seberapa sulit aku membuka diri untuk kamu. Tapi ini… ini yang kamu lakukan?”
Yoongi menunduk, tidak bisa membalas tatapan Hoseok. Dia tahu dia salah. Dia tahu dia menyakiti Hoseok, lagi.
“Aku nggak tahu harus bilang apa,” gumam Yoongi akhirnya. “Aku… aku cuma…”
Hoseok menggeleng, menahan air mata yang hampir tumpah. “Kamu tahu apa yang lebih menyakitkan dari ini semua? Aku masih ingin percaya sama kamu. Bahkan setelah semua ini, aku masih ingin percaya.”
Yoongi mendongak, matanya penuh dengan rasa bersalah. “Seok, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku nggak pernah berniat nyakitin kamu. Aku cuma—aku bodoh. Aku bodoh, dan aku nggak mau kehilangan kamu.”
Hoseok tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan dalam tawa itu. “Kamu nggak mau kehilangan aku, tapi kamu terus melakukan hal-hal yang membuatku ingin pergi.”
Yoongi mencoba mendekat lagi, kali ini dengan tatapan yang penuh permohonan. “Seok, aku akan berubah. Aku janji. Aku nggak akan pernah melakukan ini lagi. Aku akan membuktikan bahwa aku serius sama kamu. Tolong, jangan pergi.”
Hoseok menatap Yoongi, mencoba mencari kejujuran di matanya. Tapi rasa sakit itu terlalu besar, dan kepercayaan yang pernah dia miliki untuk Yoongi sudah mulai retak.
“Aku butuh waktu,” kata Hoseok akhirnya, suaranya pelan tapi tegas. “Aku nggak tahu apakah aku bisa terus seperti ini.”
“Seok…” Yoongi mencoba memanggil, tapi Hoseok menggeleng.
“Pergi, Yoongi. Aku butuh waktu untuk sendiri.”
Yoongi terdiam. Dia tahu dia tidak punya hak untuk memaksa Hoseok. Jadi akhirnya, dengan berat hati, dia mengambil langkah mundur, meninggalkan apartemen Hoseok.
Dan malam itu, Hoseok duduk sendirian di sofa, membiarkan air matanya akhirnya jatuh.
TBC
keluarkan emosi kalian yuk yuk
KAMU SEDANG MEMBACA
kau rumah ku (sope)
RandomMenceritakan tentang kisah anak pertama, yang keluarga nya terlihat cemara dan penuh dengan kebahagiaan diluar, nyatanya di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan rumah pertamanya, dan mentalnya di hajar hingga hancur berkeping-keping. Jung hoseok...
