Pagi itu, kantor terasa lebih hidup dari biasanya. Matahari bersinar cerah, dan ada semacam semangat baru di udara, terutama di meja Hoseok dan Yoongi. Mereka berdua duduk bersebelahan, seperti biasa, tetapi suasana kali ini terasa berbeda. Ada getaran kecil yang sulit dijelaskan, semacam rasa nyaman yang hanya dimiliki oleh dua orang yang mulai benar-benar saling terikat.
"Seok, kamu udah selesai sama laporan itu?" tanya Yoongi, melirik Hoseok sambil bersandar di kursinya.
Hoseok mengangguk tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar laptop. "Hampir. Kenapa?"
Yoongi menggeser kursinya lebih dekat, dengan senyuman genit yang tidak pernah gagal membuat Hoseok salah tingkah. "Aku cuma pengen lihat, siapa tahu aku bisa bantu."
"Tidak perlu," jawab Hoseok singkat, berusaha tetap fokus pada pekerjaannya. Tapi detik berikutnya, dia merasakan napas Yoongi di bahunya, membuatnya langsung kaku.
"Seok," bisik Yoongi pelan, suaranya terdengar terlalu dekat. "Kamu tahu nggak kalau kamu kelihatan imut banget waktu serius kayak gini?"
Hoseok memutar bola matanya, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat. "Yoongi, jangan aneh-aneh. Kita di kantor."
"Tapi aku nggak aneh," jawab Yoongi dengan nada tidak berdosa, meskipun senyuman jahil masih terlukis di wajahnya. "Aku cuma bilang yang sebenarnya."
Hoseok menghela napas panjang, mencoba menjaga wajahnya tetap datar meskipun pipinya mulai memerah. Dia tahu Yoongi sengaja melakukannya—mencoba membuatnya kehilangan fokus, dan dia hampir berhasil.
"Kalau kamu nggak berhenti, aku laporin ke HR," ancam Hoseok, meskipun suaranya terdengar jauh dari serius.
Yoongi tertawa kecil, kembali duduk tegak di kursinya. "Oke, oke. Aku berhenti. Tapi kalau HR tahu aku bilang kamu imut, mereka pasti setuju."
Hoseok menggelengkan kepala, berusaha menyembunyikan senyuman kecil yang mulai muncul di sudut bibirnya. "Kamu ini…"
"Aku apa? Menggemaskan?" potong Yoongi cepat.
"Kamu menyebalkan," jawab Hoseok sambil mengetik dengan lebih cepat, mencoba menutupi rasa malunya.
---
Beberapa jam kemudian, mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tetapi Yoongi tetap tidak bisa diam. Dia terus mencari alasan untuk mengobrol dengan Hoseok, dari hal kecil seperti tinta printer yang hampir habis sampai pertanyaan tidak penting tentang jadwal rapat.
"Seok, menurut kamu, aku harus pakai dasi warna apa besok?" tanya Yoongi tiba-tiba, memutar kursinya ke arah Hoseok.
Hoseok berhenti mengetik dan menatap Yoongi dengan alis terangkat. "Kamu serius? Itu yang kamu pikirkan sekarang?"
"Yup. Soalnya besok ada presentasi penting, dan aku pengen kelihatan bagus," jawab Yoongi dengan nada santai. "Lagipula, aku pengen kamu bangga punya pacar yang rapi dan stylish."
Kata-kata itu membuat Hoseok terdiam sejenak. Meski mereka sudah pacaran, Yoongi selalu berhasil membuatnya merasa seperti baru pertama kali mendengar pengakuan itu. Hoseok menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah lagi.
"Pakailah warna apa aja," jawabnya pelan, kembali mengetik tanpa melihat Yoongi.
"Tapi aku pengen pendapat kamu, sayang," kata Yoongi dengan nada manja, menekankan kata terakhir.
Hoseok mendesah panjang. "Kalau aku bilang, kamu bakal berhenti gangguin aku?"
"Mungkin," jawab Yoongi sambil tersenyum.
"Hitam. Pakai dasi hitam," jawab Hoseok akhirnya, berharap Yoongi puas dengan jawaban itu.
"Hitam, ya? Oke," kata Yoongi sambil mengangguk. Tapi detik berikutnya, dia menambahkan, "Tapi cuma kalau kamu yang bantu ikat dasinya besok."
KAMU SEDANG MEMBACA
kau rumah ku (sope)
AcakMenceritakan tentang kisah anak pertama, yang keluarga nya terlihat cemara dan penuh dengan kebahagiaan diluar, nyatanya di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan rumah pertamanya, dan mentalnya di hajar hingga hancur berkeping-keping. Jung hoseok...
