36. kejutan.

131 14 0
                                        

Malam ini, Hoseok masih sibuk memilih kemeja di depan lemari. Di sudut kamarnya, Yoongi duduk santai di tempat tidur sambil menggulir ponselnya, sesekali melirik ke arah Hoseok yang terlihat sedikit gelisah.

“Pakai yang biru aja, Seok,” usul Yoongi, suaranya tenang seperti biasa.

Hoseok mendengus kecil sambil menatap kemeja biru di tangannya. “Nggak terlalu formal, kan? Aku nggak tahu harus kayak gimana di acara tunangan temenmu ini.”

Yoongi bangkit, berjalan ke arah Hoseok, lalu mengambil kemeja itu dari tangannya. Dia meletakkan tangannya di bahu Hoseok dan menatapnya lembut. “Kamu akan kelihatan bagus dengan apapun. Lagipula, nggak usah terlalu mikirin pakaian. Kamu datang bareng aku, itu udah cukup.”

Hoseok menatap Yoongi dengan pandangan setengah percaya. “Aku nggak ngerti kenapa kamu maksa aku buat ikut. Kamu tahu aku nggak suka acara formal kayak gini.”

Yoongi tersenyum kecil, lalu merapikan kerah kemeja Hoseok. “Karena aku pengen kamu ada di sana. Nggak ada alasan lain.”

Meski masih merasa aneh, Hoseok akhirnya mengalah. Dia mengenakan kemeja birunya, sementara Yoongi bersiap dengan jas hitam sederhana yang membuatnya terlihat lebih dewasa. Setelah memastikan semuanya siap, mereka keluar dari apartemen dan masuk ke dalam mobil Yoongi.

Perjalanan menuju venue terasa cukup santai. Yoongi memutar lagu-lagu yang menenangkan, sementara Hoseok diam memandang ke luar jendela, mencoba menenangkan kegelisahannya. Sesampainya di sana, venue yang dihiasi lampu-lampu indah langsung membuat Hoseok kagum.

“Ini... tempatnya mewah banget,” gumam Hoseok, matanya memindai setiap sudut dekorasi.

Yoongi hanya tersenyum kecil dan meraih tangan Hoseok, menariknya masuk ke dalam. “Ayo, aku nggak mau kita telat.”

Namun, begitu mereka masuk, Hoseok menyadari sesuatu yang aneh. Tidak ada tanda-tanda pasangan yang biasanya menjadi sorotan di acara tunangan. Tidak ada nama pasangan di dekorasi atau spanduk, hanya ada satu tulisan besar di tengah panggung: “Will You Marry Me?”

Hoseok berhenti di tengah langkahnya, menatap tulisan itu dengan dahi berkerut. “Yoon... apa ini?”

Yoongi tidak menjawab, hanya menggenggam tangan Hoseok lebih erat dan membimbingnya ke arah panggung. Beberapa tamu mulai berbalik, tersenyum, dan berbisik pelan. Hoseok mulai merasa tidak nyaman, tapi Yoongi terus berjalan hingga mereka berhenti tepat di depan panggung.

“Yoongi, ini—”

Sebelum Hoseok bisa menyelesaikan kalimatnya, Yoongi berbalik menghadapnya, menatapnya dengan tatapan yang penuh arti. Suasana ruangan menjadi hening, hanya suara musik lembut yang mengiringi.

“Hoseok,” Yoongi memulai, suaranya terdengar jelas di tengah keheningan. “Aku tahu aku bukan orang yang sempurna. Aku tahu aku banyak bikin kamu sakit hati, banyak bikin kamu ragu. Tapi aku juga tahu satu hal... aku nggak bisa hidup tanpa kamu.”

Hoseok terdiam, seluruh tubuhnya kaku. Dia bisa merasakan mata semua orang tertuju pada mereka.

“Aku nggak peduli seberapa sulit perjalanan kita ke depan. Aku cuma peduli kalau kamu ada di sana, di sisiku,” lanjut Yoongi, matanya berkaca-kaca. “Jadi, Jung Hoseok... maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?”

Hoseok ternganga, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia menatap Yoongi, lalu ke arah tamu-tamu yang sekarang mulai bertepuk tangan, mendukung momen itu.

“Yoongi... kamu serius?” bisik Hoseok, suaranya hampir tidak terdengar.

Yoongi mengangguk, mengambil kotak kecil dari sakunya, lalu membukanya untuk memperlihatkan cincin sederhana namun elegan. “Aku serius. Sepenuh hati.”

kau rumah ku (sope) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang