Hari ini hoseok memasuki kantor seperti biasa. Ranselnya terpasang dengan erat di punggung, dan wajahnya tetap menampilkan ekspresi datar yang sudah menjadi kebiasaan. Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini. Yoongi menunggu di depan mejanya dengan secangkir kopi favorit Hoseok.
“Pagi,” sapa Yoongi lembut, meletakkan kopi itu di meja Hoseok.
Hoseok meliriknya tanpa banyak bicara. Dia hanya mengambil cangkir itu, mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih, lalu duduk dan mulai menyalakan komputer.
Yoongi tersenyum. “Aku tahu kamu suka latte dengan ekstra caramel. Jadi, aku bawain.”
Hoseok tidak menjawab, tetapi dari sudut matanya, Yoongi bisa melihat Hoseok sedikit tersenyum. Itu cukup untuk membuat hatinya hangat.
Hari-hari berlalu dengan Yoongi yang terus berusaha membuat Hoseok merasa nyaman. Meskipun mereka sepakat untuk memulai dari awal, Hoseok masih menunjukkan sisi cueknya. Namun, Yoongi tidak menyerah. Dia tahu Hoseok butuh waktu untuk benar-benar mempercayainya lagi.
Di sela-sela pekerjaan, Yoongi sering menyelipkan momen-momen kecil yang manis. Seperti ketika Hoseok terlalu sibuk hingga lupa makan siang, Yoongi akan muncul di mejanya dengan kotak makanan.
“Kamu nggak makan lagi, kan?” katanya sambil meletakkan kotak itu di meja Hoseok.
Hoseok melirik kotak itu, lalu menatap Yoongi. “Aku nggak minta ini.”
“Tapi aku tahu kamu butuh,” balas Yoongi santai. “Lagipula, aku nggak mau kamu sakit karena kelaparan.”
Hoseok menghela napas, tetapi akhirnya mengambil kotak itu. “Thanks,” gumamnya pelan.
Yoongi tersenyum lebar. “Apa? Aku nggak denger.”
Hoseok menatapnya tajam. “Aku bilang thanks. Jangan ulang lagi.”
Yoongi hanya tertawa kecil. Dia tahu itu cara Hoseok untuk berterima kasih tanpa terlalu menunjukkan emosinya.
Salah satu momen manis terjadi ketika mereka harus lembur bersama di kantor. Jam menunjukkan pukul 10 malam, dan hanya mereka berdua yang tersisa di ruangan.
Yoongi mendekati meja Hoseok dengan dua gelas teh hangat. “Kita kayak dulu lagi, ya. Lembur bareng.”
Hoseok melirik gelas teh itu sebelum mengambilnya. “Hmm, cuma sekarang kita bukan apa-apa,” katanya datar.
Yoongi terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata, “Belum, maksudmu. Kita belum jadi apa-apa lagi. Tapi aku harap... kita bisa.”
Hoseok tidak menjawab, tetapi wajahnya sedikit memerah. Dia segera mengalihkan pandangannya ke layar komputer.
“Jangan terlalu banyak berharap,” gumam Hoseok, meskipun hatinya mulai melembut.
Yoongi hanya tersenyum kecil. “Aku akan berharap selama kamu masih di sini.”
Setelah selesai lembur, Yoongi menawarkan untuk mengantar Hoseok pulang. Meski awalnya menolak, Hoseok akhirnya setuju karena sudah terlalu larut malam.
Di perjalanan, mereka berbicara tentang hal-hal kecil—seperti film terbaru atau makanan yang ingin mereka coba. Yoongi terus berusaha menciptakan suasana nyaman, dan Hoseok, meski masih cuek, mulai merasa lebih santai.
Saat sampai di depan apartemen Hoseok, Yoongi menghentikan mobilnya dan berbalik menatap Hoseok.
“Terima kasih udah izinin aku buat antar kamu,” katanya dengan senyum tulus.
Hoseok mengangguk kecil. “Jangan anggap ini kebiasaan.”
Yoongi tertawa. “Tapi aku suka kebiasaan ini.”
KAMU SEDANG MEMBACA
kau rumah ku (sope)
RandomMenceritakan tentang kisah anak pertama, yang keluarga nya terlihat cemara dan penuh dengan kebahagiaan diluar, nyatanya di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan rumah pertamanya, dan mentalnya di hajar hingga hancur berkeping-keping. Jung hoseok...
