37. persiapan

108 14 2
                                        

Hanya tinggal menghitung hari menuju hari besar mereka, dan apartemen Yoongi berubah menjadi markas persiapan pernikahan. Meja-meja dipenuhi dengan katalog bunga, daftar tamu, contoh undangan, dan sketsa dekorasi. Yoongi duduk di sofa dengan kemeja setengah tergulung, pensil di tangan, sementara Hoseok berdiri di sebelahnya, memegang tablet yang menampilkan desain dekorasi venue.

"Yoon, bunga mawar putih atau peony?" Hoseok bertanya sambil menggeser layar tabletnya.

Yoongi mengangkat alis, menatap layar sekilas, lalu kembali menulis sesuatu di buku catatannya. "Hmm, mawar putih. Klasik dan elegan. Kamu suka?"

Hoseok mengangguk pelan, lalu tersenyum kecil. "Suka. Kayaknya cocok sama tema yang kita pilih."

"Bagus," balas Yoongi sambil tersenyum. Dia meletakkan pensilnya dan menarik Hoseok duduk di sebelahnya. "Tapi serius, Seok, kamu nggak capek? Dari pagi kita udah sibuk ngurusin ini semua."

Hoseok hanya menggeleng, meskipun kantung matanya sedikit terlihat. "Aku nggak mau ada yang kurang. Ini hari besar kita, Yoon. Aku mau semuanya sempurna."

Yoongi menghela napas, lalu memegang tangan Hoseok erat. "Aku tahu, tapi yang penting itu bukan detailnya, Seok. Yang penting kita. Kalau ada yang salah nanti, aku nggak peduli. Yang penting aku bisa menikah sama kamu."

Mendengar itu, Hoseok terdiam. Perlahan senyuman lembut menghiasi wajahnya. Dia menunduk, merasa hatinya semakin hangat. "Kamu selalu tahu cara ngomong yang bener, ya."

"Tentu saja," Yoongi terkekeh, lalu mengecup punggung tangan Hoseok. "Aku calon suami kamu, kan?"

Hoseok tertawa kecil, meskipun pipinya memerah. Dia menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan senyuman malu-malu yang tidak bisa dia tahan.

Di sela-sela kesibukan mereka, Hoseok menyempatkan waktu untuk mencoba jas pengantin. Mereka pergi ke butik ternama yang sudah menyiapkan setelan khusus untuk mereka berdua. Yoongi keluar lebih dulu dari ruang ganti, mengenakan jas hitam klasik dengan dasi berwarna abu-abu perak. Hoseok yang sedang sibuk memeriksa katalog langsung mendongak dan terdiam.

"Kenapa? Jelek?" tanya Yoongi sambil memeriksa dirinya di cermin.

Hoseok menggeleng cepat. "Enggak... kamu kelihatan ganteng banget."

Yoongi tersenyum kecil, lalu berjalan mendekat. "Tunggu sampai kamu lihat diri kamu sendiri. Kamu pasti jauh lebih memukau."

Beberapa menit kemudian, Hoseok keluar dari ruang ganti. Dia mengenakan jas berwarna putih gading dengan kemeja biru muda di dalamnya. Yoongi yang sedang duduk langsung berdiri, matanya melebar sedikit. Dia menatap Hoseok dari atas ke bawah, seolah melihat sesuatu yang luar biasa.

"cantik sekali," ucap Yoongi pelan.

Hoseok menunduk, merasa malu, tetapi Yoongi langsung berjalan mendekat dan memegang kedua tangannya. "Aku serius, Seok. Kamu kelihatan luar biasa."

"Jangan berlebihan, Yoong," balas Hoseok, meskipun dia tidak bisa menyembunyikan senyum kecilnya.

Yoongi mengangkat dagu Hoseok, memaksanya menatap matanya. "Aku nggak pernah berlebihan kalau soal kamu."

Malam nya, mereka kembali ke apartemen Yoongi dengan lelah tetapi puas. Hoseok duduk di sofa sambil memijat pelipisnya, sementara Yoongi membawa dua gelas teh hangat dari dapur.

"Seok," panggil Yoongi sambil memberikan gelas teh kepada Hoseok. "Aku mau bilang sesuatu."

Hoseok mengangkat alis, menatap Yoongi dengan penasaran. "Apa?"

Yoongi duduk di sebelahnya, meletakkan gelasnya di meja, lalu menggenggam tangan Hoseok erat. "Aku tahu beberapa bulan terakhir ini berat buat kita. Tapi aku cuma mau bilang kalau aku bangga sama kita. Kita melewati semua itu, dan sekarang kita di sini. Siap untuk mulai hidup baru bersama."

Hoseok terdiam sejenak, lalu menatap Yoongi dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Aku juga bangga sama kita, Yoon. Dan aku janji, aku akan terus berusaha untuk kita."

Yoongi tersenyum lebar, lalu menarik Hoseok ke dalam pelukan. "Aku nggak sabar buat lihat kamu di altar, Seok. Kamu bakal jadi yang paling tampan di sana."

Hoseok tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di dada Yoongi. "Kamu juga, Yoon. Aku nggak sabar buat mulai hidup baru sama kamu."

Malam itu, mereka berbicara tentang masa depan mereka-tentang rumah yang akan mereka tinggali, tentang rencana perjalanan mereka setelah menikah, dan tentang bagaimana mereka akan membangun hidup bersama. Meskipun mereka lelah, hati mereka dipenuhi dengan kebahagiaan dan harapan. Dan untuk pertama kalinya, mereka merasa bahwa semuanya benar-benar akan baik-baik saja.

TBC

pendek aja dulu ahhh, hehehe

kau rumah ku (sope) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang