Yoongi duduk di taman kecil belakang kantor, mainin cangkir kopi yang udah nggak lagi panas. Dia gelisah, jari-jarinya terus muter-muterin gagang cangkir kayak orang nggak ada kerjaan lain. Dia ngecek jam tangannya, lagi-lagi.
“Hari ini, Yoongi. Sekarang atau nggak sama sekali,” gumamnya pelan, nyoba nenangin diri.
Dia narik napas panjang, matanya terus melirik ke arah pintu belakang kantor, nunggu Hoseok yang janji bakal nyamperin. Udah berminggu-minggu dia nyimpen perasaannya, dan sekarang rasanya kayak bom waktu yang siap meledak kapan aja.
Nggak lama, pintu itu kebuka, dan Hoseok muncul dengan botol air di tangannya. Wajahnya keliatan capek, tapi dia masih senyum kecil ke arah Yoongi. Senyum yang selalu bikin dada Yoongi anget.
“Yoon, lama nunggu?” tanya Hoseok sambil duduk di bangku sebelah Yoongi.
“Nggak juga,” jawab Yoongi, meski faktanya dia udah duduk di situ dari setengah jam yang lalu.
Mereka duduk diem beberapa detik. Hoseok sibuk buka tutup botol airnya, sementara Yoongi ngumpulin nyali. Suara air mancur kecil di taman jadi latar yang bikin suasana nggak terlalu hening.
“Hoseok,” akhirnya Yoongi buka suara, lirih.
“Hm?” Hoseok noleh, ngelirik Yoongi sambil minum airnya.
“Aku mau ngomong sesuatu,” Yoongi berhenti sebentar, matanya nyari-nyari keberanian di dalam cangkir kopi.
“Ngomong aja, Yoon. Kenapa keliatan serius banget?” Hoseok nyandar, penasaran.
Yoongi narik napas dalam-dalam. “Aku… aku suka sama kamu, Seok.”
Hoseok bengong. Matanya ngebulat, tangan yang pegang botol air jadi berhenti gerak. Dia nggak langsung ngomong apa-apa, cuma ngeliatin Yoongi dengan ekspresi kaget yang nggak bisa dia sembunyiin.
“Aku nggak tahu kapan ini mulai, tapi aku tahu aku nggak bisa bohong sama diri sendiri lagi. Aku suka kamu. Lebih dari temen,” lanjut Yoongi, suaranya pelan tapi mantap.
Hoseok ngedip beberapa kali, kayak otaknya lagi nyoba memproses apa yang baru aja dia denger. Dia naruh botol airnya ke bangku, terus duduk lebih tegak.
“Yoon… aku…” Hoseok nunduk, suaranya pelan. “Aku nggak yakin…”
“Nggak apa-apa kalau kamu belum yakin, Seok,” Yoongi motong sebelum Hoseok sempet lanjut. “Aku cuma pengen kamu tahu. Aku nggak minta jawaban sekarang.”
Hoseok ngehela napas panjang, ngusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa panas. “Masalahnya… aku sendiri bingung sama perasaanku, Yoon. Aku nggak ngerti apa yang aku rasain ini.”
Yoongi senyum kecil, meski hatinya rasanya dicubit pelan. “Aku ngerti, Seok. Aku juga nggak mau bikin kamu bingung atau nggak nyaman. Aku cuma pengen jujur soal apa yang aku rasain.”
Hoseok noleh, matanya keliatan ragu. “Tapi gimana kalau aku nggak bisa ngerasain hal yang sama kayak kamu? Aku nggak mau nyakitin kamu.”
Yoongi nyengir kecil, meski di dalam hatinya campur aduk. “Kamu nggak akan nyakitin aku, Seok. Aku udah tau risikonya waktu aku mutusin buat ngomong ini ke kamu. Aku cuma nggak mau nyimpen semuanya sendiri.”
Hoseok diem, pandangannya balik ke botol air di sebelahnya. “Aku takut, Yoon. Takut ngehancurin apa yang kita punya sekarang.”
Yoongi ngangguk pelan, matanya lembut. “Aku ngerti, Seok. Tapi aku lebih takut kehilangan kamu tanpa pernah bilang apa-apa. Kita nggak harus buru-buru, kok. Aku sabar nunggu.”
Hoseok ngedongak, matanya ketemu sama Yoongi. Ada sesuatu di situ—rasa bersalah, bingung, dan sedikit lega. “Makasih, Yoon. Aku bener-bener nggak tahu apa yang bakal terjadi, tapi aku seneng kamu ngomong jujur.”
Yoongi tersenyum lebih lebar, meski di balik itu ada sedikit rasa kecewa. “Aku akan terus ada di sini, Seok. Sampai kamu tau apa yang kamu rasain.”
Hoseok akhirnya balas senyum, meski kecil. “Kamu baik banget, Yoon. Aku bener-bener nggak tau apa aku pantas buat kamu.”
“Kamu pantas, Seok. Dan aku bakal buktiin itu.” Yoongi menatap Hoseok, matanya penuh ketulusan.
Keheningan lagi-lagi menyelimuti mereka, tapi kali ini lebih hangat, nggak kaku. Hoseok nyender pelan ke sandaran bangku, nyoba mencerna semua yang baru aja dia denger.
“Yoon,” akhirnya Hoseok buka suara lagi. “Aku nggak janji aku bisa ngasih kamu jawaban cepat, tapi… aku bakal coba ngerti apa yang aku rasain.”
Yoongi ngangguk, senyumnya makin lebar. “Itu aja udah cukup buat aku, Seok.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Hoseok merasa sedikit lega. Meski perasaannya masih abu-abu, dia tahu satu hal: Yoongi nggak akan pergi ke mana-mana.
TBC
asik asik, terima ga? jadian ga? kalo mau jadian harus vote dulu yang ini, kalo gamau vote, berarti gamau hoseok yoongi jadian
KAMU SEDANG MEMBACA
kau rumah ku (sope)
RandomMenceritakan tentang kisah anak pertama, yang keluarga nya terlihat cemara dan penuh dengan kebahagiaan diluar, nyatanya di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan rumah pertamanya, dan mentalnya di hajar hingga hancur berkeping-keping. Jung hoseok...
