Hari itu hujan deras mengguyur kota sejak pagi. Suara rintik-rintik air yang menghantam jendela kantor Hoseok menciptakan suasana melankolis yang pas dengan hatinya. Di depan meja kerjanya, dia duduk terpaku, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja, sementara matanya menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca apa yang tertera di sana.
Bukan pekerjaannya yang mengganggu pikirannya hari ini, melainkan sesuatu yang jauh lebih membingungkan. Sesuatu yang, bahkan bagi Hoseok sendiri, sulit untuk didefinisikan: Yoongi. Pria itu.
Yoongi telah menjadi bagian dari rutinitas Hoseok sejak beberapa bulan terakhir, sejak awal pertemuan mereka di perusahaan ini. Sifatnya yang tenang tapi perhatian, senyumnya yang tulus, dan caranya memperlakukan Hoseok dengan begitu lembut mulai meninggalkan jejak yang mendalam di hati Hoseok, bahkan ketika dia berusaha menyangkalnya.
Namun, setiap kali Yoongi berusaha mendekat, Hoseok selalu menarik diri. Dia takut. Takut dengan kemungkinan bahwa apa yang dia rasakan ini benar-benar nyata. Takut dengan gagasan bahwa dia mungkin menginginkan lebih dari hubungan ini, sementara dirinya masih belum yakin apakah dia layak menerima cinta seperti itu.
“Seok, kamu sibuk nggak?” suara lembut Yoongi tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
Hoseok mendongak, sedikit terkejut melihat Yoongi berdiri di depan mejanya dengan senyum kecil yang selalu berhasil membuat suasana hatinya sedikit lebih baik. “Enggak, kenapa?”
“Udah makan siang? Aku lagi lapar, pengen makan bareng. Kamu mau nggak?” Yoongi bertanya, nada bicaranya santai seperti biasa, tapi ada sedikit harapan di matanya yang Hoseok tangkap.
Hoseok berpikir sejenak, mencoba mencari alasan untuk menolak, tapi akhirnya mengangguk. “Oke, ayo.”
Mereka berjalan menuju kantin bersama. Hujan masih turun deras di luar, menciptakan genangan air di sepanjang jalan. Yoongi memegang payung di tangannya, dan tanpa bicara, dia mengarahkan payung itu sedikit lebih ke arah Hoseok agar pria itu tetap kering. Gesto kecil itu mungkin tampak sepele bagi sebagian orang, tapi bagi Hoseok, itu membuat dadanya terasa hangat.
Di kantin, mereka duduk di meja yang agak sepi, jauh dari keramaian karyawan lainnya. Yoongi memesan nasi goreng dengan level pedas yang absurd seperti biasanya, sementara Hoseok hanya memesan sesuatu yang ringan. Sepanjang makan, Yoongi seperti biasa mengoceh tentang hal-hal sederhana — musik baru yang dia dengar, film yang baru dia tonton, bahkan berita lucu yang dia baca pagi ini. Hoseok hanya mendengarkan, sesekali tersenyum atau mengangguk, tapi lebih sering daripada tidak, dia hanya mengamati Yoongi.
Mata Hoseok memperhatikan setiap detail Yoongi — cara pria itu tersenyum, cara dia memegang sumpitnya, dan bahkan cara dia sedikit mengernyit ketika nasi gorengnya terlalu pedas. Ada sesuatu yang begitu menenangkan tentang kehadiran Yoongi, sesuatu yang membuat Hoseok merasa sedikit lebih utuh, meski dia masih belum sepenuhnya mengerti kenapa.
“Seok, kenapa kamu diem aja?” tanya Yoongi tiba-tiba, menghentikan Hoseok dari lamunannya.
“Hah? Nggak apa-apa kok,” jawab Hoseok buru-buru. “Aku cuma... mikir aja.”
Yoongi mengangkat alisnya, tampak sedikit penasaran, tapi dia tidak memaksa Hoseok untuk menjelaskan. Sebaliknya, dia hanya tersenyum lagi, lalu melanjutkan makanannya.
Setelah makan siang, mereka kembali ke kantor. Hoseok merasa hatinya sedikit lebih ringan, tapi pikirannya masih dipenuhi oleh pertanyaan yang sama: apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap Yoongi?
---
Malamnya, Hoseok berbaring di kasurnya, memandang langit-langit kamar. Hujan masih terdengar di luar, meski tidak sekeras sebelumnya. Di tangannya, ponselnya menampilkan chat terakhir dari Yoongi.
Yoongi: “Tadi makannya enak nggak, Seok? Besok kita makan bareng lagi ya. :)”
Hoseok membaca pesan itu berulang kali, tapi tidak langsung membalas. Sebaliknya, dia hanya terdiam, mencoba mencerna perasaannya sendiri. Dia mengingat senyum Yoongi, caranya berbicara, dan semua perhatian kecil yang selalu pria itu tunjukkan.
Dia mengingat saat-saat ketika Yoongi tidak pernah menyerah, meski Hoseok terus menolaknya. Dia mengingat cara Yoongi selalu ada untuknya, tanpa pernah memaksa, tanpa pernah menuntut. Dan perlahan, Hoseok mulai menyadari sesuatu. Bahwa mungkin, hanya mungkin, dia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Yoongi. Bahwa mungkin, hanya mungkin, dia mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa terima kasih atau kekaguman.
Tapi apa ini cinta? Hoseok tidak tahu. Dia tidak pernah benar-benar memahami apa itu cinta, apalagi membayangkan dirinya jatuh cinta pada seseorang seperti Yoongi. Tapi dia tahu satu hal: dia tidak ingin kehilangan pria itu. Dia tidak ingin melihat Yoongi menyerah padanya. Dan itu, lebih dari apa pun, membuatnya takut.
Dengan napas berat, Hoseok mengetik balasan singkat di ponselnya.
Hoseok: “Enak kok. Makasih ya, Yoongi.”
Dia menekan tombol kirim, lalu meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur. Namun, bahkan setelah memejamkan mata, pikirannya tetap dipenuhi oleh Yoongi. Suara tawa pria itu, tatapan matanya, dan senyumnya yang selalu berhasil membuat dunia Hoseok terasa sedikit lebih cerah.
---
Keesokan paginya, Hoseok tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum Yoongi datang, supaya dia tidak terlalu banyak memikirkan pria itu. Tapi tentu saja, seperti biasa, Yoongi datang lebih awal darinya.
“Pagi, Seok!” sapa Yoongi dengan semangat, menghampiri meja Hoseok dengan kopi di tangannya. “Aku bawain kopi buat kamu. Kamu suka cappuccino, kan?”
Hoseok menatap kopi itu sejenak, lalu mengangguk pelan. “Makasih.”
Yoongi tersenyum lebar, lalu duduk di kursi kosong di depan meja Hoseok. “Hari ini kamu sibuk nggak? Kalau nggak, aku mau ngajak kamu makan malam. Aku nemu restoran baru yang kayaknya bakal kamu suka.”
“Makan malam?” Hoseok mengulang kata-kata itu, sedikit terkejut.
“Iya. Cuma makan biasa kok, nggak usah khawatir,” Yoongi menambahkan cepat, seolah membaca kebingungan di wajah Hoseok.
Hoseok berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Oke.”
Jawaban itu membuat senyum Yoongi semakin lebar. “Great! Aku jemput kamu nanti malam, ya.”
Dan untuk pertama kalinya, Hoseok tidak merasa ingin menarik diri. Sebaliknya, dia merasa ingin melihat ke mana perasaan ini akan membawanya. Entah itu cinta atau bukan, Hoseok tahu satu hal: dia ingin mencoba. Dan dia tahu, selama ada Yoongi di sisinya, dia mungkin bisa menghadapi ketakutannya, satu langkah kecil dalam satu waktu.
TBC
jadian ga si di chapter selanjutnya?
pls vote biar kisah yoongi & hoseok berjalan terus
KAMU SEDANG MEMBACA
kau rumah ku (sope)
RandomMenceritakan tentang kisah anak pertama, yang keluarga nya terlihat cemara dan penuh dengan kebahagiaan diluar, nyatanya di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan rumah pertamanya, dan mentalnya di hajar hingga hancur berkeping-keping. Jung hoseok...
