"Nona tidak apa-apa?" Tanya supir TAXI.
Aku masih terisak, "tolong perhatikan saja jalannya." Ucapku. Aku menangis lebih keras saat melihat kaki telanjangku, aku lupa memakai sepatu.
Setelah sampai, aku menerobos masuk ke dalam, beberapa penjaga keamanan menahanku tetapi aku terus berteriak, tanganku juga masih meremas kartu kecil itu.
"Aku mau bertemu suamiku! Lepas!" Teriakku seperti orang gila.
Beberapa orang disana menatapku aneh lalu seseorang yang sangat kukenal datang menghampiriku, itu adalah Josh.
"Rose? Ada apa denganmu?" Tanya Josh penuh khawatir saat melihat keadaanku. Penjaga keamanan itu melepaskanku saat Josh menganggukkan kepala kepada mereka.
Aku mendorong Josh lalu menerobos masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai paling atas sambil menangis. Orang-orang di lift menatapku aneh dan berusaha menjauh dariku.
Saat lift sudah sampai di lantai Direktur, aku langsung masuk ke dalam ruangan tanpa peduli sekretaris pria itu berteriak memanggilku. Aku menutup pintu Direktur dengan keras lalu menguncinya agar sekretaris pria itu tidak bisa masuk karena Direktur mereka akan segera mati di tanganku.
Kulihat Jade sangat terkejut dengan kedatanganku, ia segera mematikan teleponnya dan berjalan cepat ke arahku.
"Rose? Ada apa denganmu!" Tanya Jade dengan nada marah saat melihat keadaanku yang sangat kacau.
Jade hendak meraih tanganku tetapi alu tepis dan berjalan mundur. Aku melempar kartu kecil emas berkilau itu di wajahnya dan ia menghela nafas berat saat melihat apa itu.
"Kamu berulah lagi! Kamu berbohong padaku!" Teriakku sambil menangis, kepalaku terasa berat dan tubuhku semakin memanas.
"Dengarkan aku Rose." Ucap Jade sambil meraih tanganku tetapi aku tepiskan.
"Aku sudah tahu kamu pasti bosan denganku lalu berpesta seks lagi di luar sana!" Teriakku sambil terisak.
"Tidak Rose, tidak, tenangkan dirimu dan biarkan aku memelukmu." Ucap Jade pelan.
Aku berjalan mundur lagi sambil menggelengkan kepalaku. "Aku tidak mau disentuh olehmu lagi!" Ucapku.
Aku tidak bisa menahan tubuhku, kepalaku sangat pusing, tubuhku terasa panas dan melemas, aku jatuh lemas dalam tangkapan Jade. Aku tidak bisa mendengar suara sekelilingku dan kulihat wajah Jade yang sangat khawatir. Kurasakan ada sesuatu yang mengalir keluar dari selangkangku lalu semua menjadi hitam.
□□□□□□□□□□
Aku membuka mataku perlahan, putih dan bau khas obat-obatan, aku berada di rumah sakit.
"Rose! Rose! Rose!"
Itu adalah suara Jade, ia terlihat tersenyum lega sambil mengecup tanganku tetapi aku langsung menariknya dengan keras. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya.
"Pergilah!" Ucapku serak.
"Dengarkan aku sayang..." Jade beralih duduk di tepi ranjang dan mengusap kepalaku. "Kamu hamil Rose, kamu sedang hamil istriku." Bisik Jade.
Aku membelalakkan mataku, benar juga, dilihat dari gejalaku sepertinya usia kandunganku sekitar satu minggu, aku tidak terpikirkan ini adalah gejala hamil karena terus memikirkan Jade, betapa bodohnya aku.
Jade mencium kepalaku, "aku tidak pernah kesana sayang, aku tidak pernah menginjakkan kakiku ditempat itu. Sekarang Chris kakakku yang membuat pestanya dan mengundangku, percayalah padaku." Ucap Jade.
"Pembohong! Kamu sudah jarang menyentuhku dan bercinta dengan cepat, kamu pasti sudah bosan padaku!" Ucapku sambil kembali menangis.
"Aku, aku juga tidak melihatmu saat membuka mataku setiap pagi." Lanjutku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Xavier Brothers
RomanceLondon, Inggris... ROSE Namaku Rose dari keluarga biasa dan anak terakhir dari tiga bersaudara, ayahku hanya pekerja kantor biasa dan ibuku adalah ibu rumah tangga. Sejak masuk ke Xavier High School perjalanan cintaku menjadi berliku-liku berkat par...
