"Tidak!" Wanita itu kembali mendorong tubuhku, "aku ingin mengakhirinya sekarang!"
Aku mencengkram erat lengan Elena, "jangan berbuat hal yang bodoh seperti itu Elena!" seruku.
Elena jatuh terduduk, "aku juga takut mati...!" teriaknya.
Aku tertawa pelan, tadi ia ingin bunuh diri lalu sekarang dia bilang takut mati. Aku duduk di sampingnya lalu mengusap air matanya. "Percayalah padaku, aku tidak akan mengolok-olokmu ataupun menindasmu."
"Mengapa aku harus percaya padamu? kita, hanya orang asing..." ucapnya sambil terisak.
"Ayo kita kembali ke kamarmu atau mau kugendong?" tanyaku dengan berbisik.
Elena hanya diam menatap kosong ke depan, entah apa yang dipikirkan wanita ini. Aku mendekat ke wajahnya tetapi ia masih saja diam, wanita ini benar-benar aneh, tadi ia menangis keras dan sekarang ia diam seperti orang bisu. Wajah kami begitu dekat, mata Elena bergerak menatap mata coklatku.
Tiba-tiba aja ia menutup matanya lalu mencium bibirku, wanita ini benar-benar aneh sekali. Kurasakan sentuhan bibirnya yang tipis di bibirku, hangat, basah, dan lembut. Aku menutup mata dan membuka mulutku untuk melumat bibirnya. Tangan Elena bergerak memeluk leherku dan membalas lumatanku. Kuangkat sedikit tubuhnya dan kududukkan dipangkuanku, Elena menjauhkan kepalanya.
"Mereka bilang dengan ciuman dan bercinta aku bisa melupakan semua ini, melupakan semua beban dipikiranku dan lupa akan siapa diriku." bisik Elena.
"Kamu ingin mencobanya?" tanyaku dengan berbisik.
Elena mengangguk, aku mendesah pelan lalu membawanya ke ruanganku dan menuju ke kamarku. Dengan segera aku melumat bibir ranumnya lalu melepaskan pakaian pasiennya, ternyata ia tidak memakai pakaian dalam. Aku meremas pelan payudaranya yang sangat pas di tanganku dan memainkan putingnya yang kemerahan.
"Aaahh..... hhmmpphhh" desah Elena.
"Apakah kamu pernah melakukannya?" tanyaku dengan berbisik sambil mengecup lehernya dan kutinggalkan beberapa tanda merah disana.
"Ahhh...!" pekik Elena saat aku mengisap dengan kuat putingnya.
"Kamu belum menjawabku..." ucapku sambil meremas kedua bokongnya.
"Ak.. aku... aku pernah melakukannya, dengan... alat." ucap Elena pelan.
Aku mengeram, kuturunkan celananya, ternyata ia juga tidak memakai celana dalam. Kami masih berdiri dengan Elena yang bersandar dipintu, kubuka kakinya lalu kujilati selangkannya yang ternyata sudah basah.
"Aaaahhhhh......" desah Elena, tangannya mencengkram erat rambutku dan mendorong kepalaku. Kulirik Elena, matanya tertutup dengan mulutnya yang terbuka lebar tidak berhenti mendesah, kepalanya menengadah ke atas.
Aku membawa Elena ke ranjang dan kulepaskan semua pakaianku, segera aku masuki milikku ke lubangnya yang merekah merah, tubuhnya melengkung dengan indah dan ia terus mendesah keras. Aku lumat bibirnya dan mengoyangkan pinggulku, semakin cepat dan semakin cepat sampai terdengar suara khas bercinta. Aku mengeram dan mencapai puncakku begitu juga dengan Elena yang mencengkram rambutku dengan keras, kusemprotkan cairanku ke dalam rahimnya dan kulihat Elena tersentak beberapa kali.
"Bagaimana? lebih nikmat dengan alat atau yang aslinya?" tanyaku dengan suaraku yang terdengar serak dan mengoyangkan pinggulku lagi dengan pelan.
"Aku menginginkannya lagi..." bisik Elena, suaranya hampir tidak terdengar.
Aku membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan penyatuan kami lalu bergerak lagi, ia meremas dengan erat bantal di hadapannya, "panggil namaku Elena!" seruku, "sebut namaku, teriakkan namaku!" ucapku keras diikuti goyangan pinggulku yang semakin cepat dan kasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Xavier Brothers
RomanceLondon, Inggris... ROSE Namaku Rose dari keluarga biasa dan anak terakhir dari tiga bersaudara, ayahku hanya pekerja kantor biasa dan ibuku adalah ibu rumah tangga. Sejak masuk ke Xavier High School perjalanan cintaku menjadi berliku-liku berkat par...
