JACK Part 24

544 10 0
                                        

Ternyata makan bersama itu bersama dengan suaminya juga. Aku tidak bisa berbicara dengan Rose karena Jade terus saja bermanja-manja dengan wanita itu, seharusnya aku tolak saja tadi makan siang bersamanya. Kami makan di sebuah restauran kecil yang tidak begitu ramai karena Rose tidak ingin pergi ke tempat yang mewah, ia bilang porsi makanannya terlalu sedikit.

Aku beralih menatap keluar jendela, bukankah itu Elena? Ia duduk di bangku jalan dengan memakai jaket tebal dan sedang menangis, ada apa dengan wanita itu?

"Jade, Rose, aku pergi dulu, aku sudah selesai." Ucapku buru-buru.

"Pergilah! Pergilah!" Usir Jade.

Aku berjalan dengan tenang menuju ke arah Elena lalu duduk di sampingnya, ia tampak terkejut melihatku.

"A, Anda... Jack?" Ucap wanita itu gugup.

"Kebetulan kita berjumpa disini." Ucapku, kulihat ia menghapus air matanya dengan cepat.

"Ma... maaf." Ucapnya sambil terisak.

"Tidak apa-apa, menangislah, aku hanya duduk disini sebentar." Ucapku.

Kulihat ia malah berdiri dan berjalan pergi dengan pelan. Aku ikut berdiri lalu menarik tangannya, ia malah makin menangis. Aku menghela nafas berat karena tidak tahu bagaimana menghadapi wanita yang menangis seperti ini. Aku kembali teringat dengan Sasha, ia akan berhenti menangis jika kubelikan es krim.

"Ting... tinggalkan saya..." ucap Elena lagi sambil terisak.

"Kamu mau es krim?" Tanyaku ragu-ragu. Kulihat ia berhenti terisak dan menatapku, berhasil!

□□□□□□□□□□

Elena duduk diam sambil menikmati es krimnya dan lucu sekali aku merasa bangga melihatnya. "Mengapa kamu menangis?" Tanyaku hati-hati.

Ia menggeleng, "karena aku menolak perjodohannya..." ucap Elena dengan suara terdengar bergetar.

"Kamu yang menolak perjodohannya lalu kamu yang menangis?" Tanyaku heran.

Elena kembali menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca, "bisakah Anda berhenti bertanya? Aku akan menangis lagi." Ucapnya.

"Maaf, lanjutkan makanmu." Ucapku gugup, wanita ini benar-benar aneh.

□□□□□□□□□□

Setelah berpisah dengan Elena saat itu, aku tidak pernah berjumpa dengannya lagi dan yang lebih mengherankan adalah ibuku tidak menelepon padahal aku menolaknya atau lebih tepatnya aku ditolak.

Aku menelepon seseorang, seseorang yang selalu membantuku untuk mengawasi atau mencari informasi jika Jade membutuhkan sesuatu.

"Bisakah kamu mencari tahu tentang Elena? Wanita terakhir yang dijodohkan padaku." Ucapku dengan nada berbisik di telepon.

□□□□□□□□□□

Setelah dua sampai tiga jam kemudian, sebuah email masuk ke komputerku. Elena Rohey, ayahnya pemilik restauran mewah Rohey di Jepang, ia punya adik laki-laki dan perempuan. Ini yang membuatku terkejut, ibunya yang sekarang adalah ibu tirinya dan ibu kandungnya adalah seorang pelacur.

Aku menghela nafas berat, mereka pasti mempersulitnya karena ibu kandungnya adalah seorang pelacur, kasihan wanita itu. Aku membaca alamat apartemennya, wanita itu tinggal sendirian. Tunggu! Bukankah ini alamat apartemen tempat Rose tinggal dulu? Mengapa begitu kebetulan?

□□□□□□□□□□

Aku mengetuk pintu di depanku dan beberapa saat kemudian wanita itu membukanya, wajahnya terlihat lebam dan ia langsung menutupnya lagi begitu melihatku tetapi aku tahan dengan tanganku.

Xavier BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang